Monday, September 9, 2013

Brief itinerary: Scandinavia + Moscow

Here is my brief itinerary of the recent trip to Scandinavia and Moscow. The trip started on Feb 11 and ended on Feb 26, 2013. The detail story on each city / country will be linked to separate page - only after I finish the writing :-) Hope you will find this inspiring and useful. Scandinavia and Moscow are just too much to give a miss.


My trip starts from Copenhagen and ends at the same.



Day 1
@Copenhagen
Arrive in Copenhagen by Turkish Airlines (transit in Singapore and Istanbul).
Stay at Generator Hostel Copenhagen (DKK 180 / person / nite - 8 bed mixed dorm ensuite).
Go to city by Metro from Airport  to Kongens Nytorv, takes about 13 mins. The metro is available every 5 mins.
Highlights: Nyhavn waterfront, Storgat shopping area, Royal Palace and Little Mermaid >> see more at the bottom of this story page.

Nyhavn waterfront - one of Copenhagen's landmarks


Day 2
@Bergen, Norway
Fly by Scandinavian Airlines (SAS) from Copenhagen to Bergen, costs about SGD 154.
From airport, take a bus from the airport to the city (www.flybussen.no)
Stay at Marken Gjestehus (NOK 225/person/nite - 10 bed female dorm)
Just go around the city. It is simply beautiful. Go to fish market and get a lot of FREE fresh salmon tester :-)

One of the charming corner of Bergen

Day 3
@Bergen - Oslo on Norway in a nutshell

Book the ticket online and exchange the order confirmation with the ticket one day before (to avoid any long queue on the departure date). The trip from Bergen to Oslo takes about >15 hours, starting 07:00 AM to 10:30 PM. It includes train, bus, ferry and train. Best way to explore the Norwegian fjords and scenic rail journeys! Costs about NOK 1480/person.

View from ferry from Gudvangen to Flam...a great fjords experience.

Day 4
@Oslo
Stay at Anker Hostel (NOK 220/person/night - 8 bed mixed dorm)
From train station, walk up to the hostel, about 15 mins.
For me, Oslo is not so much interesting city to walk around. So I just spent the day strolling around the city without nothing specific to be of interest.
Go to Stockholm by night bus in the evening (approx. IDR 597,000). I don't really recommend it if you are too tired as you will need to get off the bus at the border for immigration check in the middle of the night and also change a bus once, However, it was a nice trick to save time.

Day 5
@Stockholm
Read more the story in "Discover Stockholm"

Day 6
@Stockholm
Read more the story in "Discover Stockholm"

Day 7
@Rovaniemi (via Helsinki)
Fly Norwegian Airlines (EUR 50)
Read more the story in "Rovaniemi (part 1):...where a great adventure awaits"
and the other one "Rovaniemi (part 2): Adventure in artic circle"
Stay at local host of Couchsurfing (or find out more about this network here)

One of the great view in the deep forest of Rovaniemi
Day 8
@Rovaniemi
Read more the story in "Rovaniemi (part 1):...where a great adventure awaits"
and the other one "Rovaniemi (part 2): Adventure in artic circle"
Arrive in Helsinki - shopping time :-)

Day 9
@Helsinki
Fly Norwegian Airlines (EUR 57)
Stay at Errotajanpuisto Hostel (EUR 27/person/night - 8 bed mixed dorm)
From airport, take bus no. 615 to central railway station, then take tram no. 6 or 3B, or bus no. 17, stops at ERROTAJA, or just walk. You will pass so many interesting things along the way. It takes approx. 15 mins from station to hostel.

Shopping time - boot/shoes hunt :-)

Depart to Moscow in the evening by train Tolstoy. You can book through Eurail in Jakarta representative office.

Day 10
@Moscow
The immigration check at the border can be an interesting experience. Read more my experience in "Here we come, Russia". and also how to get the Russia visa "Visa Rusia: difficult? Naaahh...still doable kok"
Stay at Godzilas Hostel (USD 28/person/night - 6 bed female dorm)

St. Basil's Cathedral at Red Square

Go to Red Square, St. Basil's Cathedral, relax at the Kremlin's park and have a nice coffee and snack at a café at Red Square, stroll around one small shopping mall next to the red square (to get some warmth).

Dine in one nice local restaurant (I can't remember the name), located at near the metro station. Some said that going out to eat in Moscow can be quite expensive. Well..it does not have to be that way.. We went to this nice place as recommended by the hostel staff. It had reasonable price and the taste was ok. The interesting part is that it was buffet with the food name in Russian letters and the staffs hardly spoke a word of English :-)

Cozy restaurant serving local food.


Day 11
@Moscow
Go to Cathedral of Christ the Savior, go to inside the Kremlin
Fly to Copenhagen in the evening (via Riga, Slatvia), by Air Baltic.
Stay at Generator Hostel Copenhagen.

We took taxi from the airport as we landed after midnight and were too tired to take train. Costs about IDR 600,000.

You may need to prepare your passport, visa, insurance and all travel documents with you as the immigration check point will be in Riga, and they have quite thorough and stringent check.

Day 12
@Copenhagen

Royal palace guard change procession passing through the Storgat area.

Shopping time at Storgat (5 mins walk from Generator Hostel). At around 12 o'clock, there will be a palace guard marching in along the way to the royal palace, a very interesting show.

Peter Jones and his great performance

I strongly recommend you to go to a roundabout in the middle of Storgat to see the performance of Peter Jones, a singer who has adorable voice and great songs! This was actually one of my best moments during the trip.

You can take canal tour at Nyhavn, take you around the city from outer circle.

Danish traditional serving, enjoy it with a nice glass of red wine... hmmm... what a treat!
A nice dinner is worth taking at one of cafes at Nyhavn, try the Danish traditional serving (it includes pork inside) and local wine (or beers).

Take a trip to Carlsberg museum.

If the weather is nice, try to go around the city by bike.

Day 13
Fly back home (transit 12 hours in Istanbul).
Wait for more story about Istanbul separately.


Sunday, September 8, 2013

Rovaniemi (part 2): Adventure in artic circle

“Good morniiiing… how’s your sleep? I hope I didn’t snore” suara Rita menyapa tepat ketika saya membuka mata. Rita adalah teman Esther, host Couchsurfing kami di Rovaniemi, Finland. Saya dan Indah, my travelmate, memanfaatkan jaringan Couchsurfing dan tinggal di rumah penduduk lokal. Kebetulan saat itu Rita juga sedang menginap karena terlalu malam untuk pulang setelah mengerjakan tugas kuliah mereka. Alhasil, jadilah kami bertiga tidur di ruang tengah dengan kasur lipat dan selimut tebal. Nyaman dan hangat :-)

“Hoaaahhmm… I think I slept like a baby. I didn’t even realize you were snoring…were you?”  sapa saya masih setengah ngantuk dan sambil mengucek mata, mencoba mengumpulkan segenap nyawa saya yang sebelumnya berkelana kemana-mana. Saya masih enggan untuk beranjak dari balik selimut yang hangat. Di luar salju turun kembali namun matahari bersinar cukup terang. Semoga hari in cuaca bersahabat.

“Hahaha…you did really sleep like a baby then. So what dyou guys plan to do today?” tanya Rita sambil menghirup kopi hitam dari cangkirnya.  Saya dan Indah tersenyum penuh arti.
Agenda saya dan Indah hari itu sudah pasti sangat padat (taelah! Gaya benerrr!). Buat saya pribadi, Rovaniemi adalah salah satu highlight dari seluruh Scandinavia + Moscow trip ini. Several excited plans were just about to begin! Ahay!
Setelah mandi dan sarapan, saya dan Indah dengan diantar oleh Esther bergegas menuju markas “Lapland Safaries” di tengah kota. Kami berjalan kaki di atas tebalnya salju dan dinginnya udara, namun dengan sinar matahari yang terlihat cukup rendah, sangat berbeda dengan matahari yang biasa saya lihat berada di atas kepala. Matahari di Rovaniemi terletak hanya sekitar 45 derajat, mungkin karena letak kota ini yang dekat dengan kutub utara. Rumah Esther terletak tidak jauh dari stasiun, sekitar 20 menit berjalan kaki ke tengah kota.

Tiba di Lapland Safaries, kami nyaris ketinggalanl rombongan. Iya sih, salah saya juga, terlalu mepet berangkatnya dan terlalu menggampangkan karena berpikir kota ini kota kecil, pasti deketlah kemana-mana. Itupun untung ada Esther yang menunjukkan jalan pintas.

Meet “Badrun” the not-so-red nose reindeer
Tiba di “Lapland Safaries”, kami diminta mengenakan pakaian khusus, sebuah overall, kaus kaki tebal  dan sepatu booth dengan sol cukup tebal, sementara sarung tangan dan topi kupluk tetap dipakai. Cukup hangat. Setelah itu, kami berangkat menuju peternakan rusa dengan mini van, yang berjarak sekitar 15 menit, ngga begitu ingat persisnya. Peternakan ini terletak di pinggir kota dan jauh dari peradaban.  Begitu tiba, saya lihat ada sekitar 10 rusa yang sudah siap terikat dengan kereta kayu di belakangnya.

Reindeer farm

Satu kereta memuat dua orang penumpang. Satu duduk di muka dan yang lain di belakang, dan keduanya harus duduk dengan kaki selonjor. Penumpang di depan akan memegang tali kendali, yang jika diulur maka memberikan ijin si rusa untuk berlari, sebaliknya jika tali ditarik maka itu tanda si rusa harus mengerem kecepatan. Saya duduk di muka, sedangkan Indah di belakang. Kaki kami berdua ditutup oleh sebuah selimut untuk menahan dinginnya udara terbuka. Setiap kereta kayu terikat dengan tali panjang dengan kereta kayu di depannya sehingga tidak ada yang keluar dari jalur. Alrite! We’re all set! Yeay… perlahan kereta kami mulai berjalan membelah hutan pinus yang diselimuti salju yang sangat putih dan berkilauan. Rombongan kami di kawal oleh dua orang ‘pawang’ yang memberikan komando di depan dan menjaga rombongan. Beberapa kali rusa diajak berlari dan kereta pun meluncur dengan cepatnya, whoooohooooo….!! Saya dan Indah berteriak seru, kegirangan! Hahaha…iyaaa, iyaa norak yaaa…biariiiinn….seruuuu banget…


Saya dan Indah riding a reindeer sleigh into the deep forest of Rovaniemi. Marvelous!
 
Beberapa kali, saya dan Indah berkomentar “Ndah, ini beneran ya, kita beneran liburannya yah….” Atau “Cid, ini kok kayak mimpi ya, ini beneran kayak di film ya…” Hahahaha…juara deh noraknya! Biareeeennn….

Oiya, karena kereta ditarik beriringan dengan jarak berdekatan, posisi rusa di belakang kami berada cukup dekat dengan kepala dan muka kami, terutama jika laju kereta sedang melambat atau berhenti. Tapi entah kenapa ya, ketika rusa lain cenderung menjauhkan kepala dari penumpang di depannya, berbeda dengan rusa di belakang kami yang seneng banget dekat-dekat dengan kepala dan muka kami….iiih! Dan karena badungnya rusa ini, kami beri nama Badrun. Jadi sering tuh di jalan, kami sibuk ngomel “Badrun, make some space, will you?” ….atau “hey Badrun, sana deh ah, ngapain sih nyruduk-nyruduk”….atau “Ye, si Badrun,  ga usah ganjen deh ya deket-deket, hush hush…”. (Indah, dapet salam dari Badrun!)
Ini beberapa pemandangan sepanjang perjalanan.... simply amazing!

Pasukan reindeer sledge menembus hutan pinus dan tebalnya salju
 
Salju di sini putih bersih dan mengkilat, matahari berada cukup rendah, sekitar 45 derajat
All is white...beautiful!
 

Dog sledge….whohoooooo!!
Setelah beberapa saat, kami tiba di peternakan huskies (anjing kutub). Setelah diberi penjelasan singkat mengenai huskies, kami diijinkan untuk berkeliling peternakan dan mencoba dog sledge.
Dog sledge....whohooooo...!!

Apa itu dog sledge? Dog sledge mirip dengan kereta rusa, namun bedanya ditarik oleh anjing yang berlari, sementara rusa berjalan pelan (ataupun kalau berlari tidak sekencang huskies). Selain itu, design keretanya memungkinkan kita memilih untuk duduk dalam kereta atau berdiri dengan memegang tali kendali dan rem. Jika kita memilih untuk duduk (yang menurut saya ngga terasa fun), maka harus ada seseorang yang berdiri di belakang sebagai pengendali, namun jika kita memilih berdiri, maka tidak ada yang duduk pun, tidak apa, malah enak karena tidak ada beban tambahan maka anjing bisa semakin cepat berlari. Saya memilih untuk berdiri di belakang. Empat ekor anjing (dua jantan di depan dan dua betina di belakangnya) pun berlari kencang sekali dalam putaran lintasan yang sudah ditentukan dan kereta saya pun meluncur dengan kencangnya. Whohooooo… seru banget!! Saya berpegang erat pada tali kekang dan memastikan pijakan kaki saya tetap solid pada tempatnya, jika salah maka bisa-bisa kita terlempar dari kereta. Jangan takut, kalaupun terlempar, kita hanya akan terjerembab di tumpukan salju kok, tapi kan ngga seru aja…dan malu, cuy!  Kita hanya tinggal menekan pedal rem untuk menghentikan laju lari huskies dan kereta pun berhenti  dengan bantuan beberapa pawang. Wuaah… pengalaman yang seru banget!

Berada di udara terbuka dengan suhu yang mungkin mencapai minus 10-15 selama beberapa jam membuat mulai kami mulai kedinginan. Untungnya ada pondok kayu tertutup yang disediakan di tengah peternakan dan dengan api penghangat di tengahnya. Kami menikmati jus beri panas dan kue kering jahe yang nikmat sekali.

Menghangatkan diri sejenak di dalam pondok kayu, sembari menikmati jus beri hangat dan kue jahe yang yummy.

Setelah cukup hangat, kami keluar pondok dan berkeliling melihat beberapa huskies lainnya dengan diwanti-wanti untuk tidak menyentuh huskies yang berada dalam kurungan karena mereka sedang hamil dan bisa menggigit jika disentuh. Huskies lainnya cukup tertambat di pohon dan sangat jinak. Kami bisa memeluk dan mencium dengan bebasnya, dan ngga bau lho. Bulu mereka bersih dan mengkilat sehat. Setelah puas berkeliling dan berfoto, kami kembali ke kereta rusa untuk pulang ke peternakan rusa. Di perjalanan, kami sempat berpapasan dengan rombongan pengendara snowmobiles, mirip dengan jetski tapi berjalan di salju. Keliatan cukup seru. Jadi pengen…hmmm…
Salah satu husky yang jinak dan bulunya cantik sekali (dan ngga bau!)


 Let’s go meet Santa Clause
Perjalanan itu berakhir dengan suatu excitement yang luar biasa, yang bikin makan siang saya dan Indah penuh dengan komentar seru dan gelak tawa. Setelah menghabiskan satu porsi besar pizza (EUR 7) per orang (masing-masing, bukan share ya! Laper, man!), kami bergegas menuju halte bus. Perjalanan kami berikutnya adalah… Santa Clause Village! Yeay!

Pondok utama di Santa Clause village

Dengan ongkos EUR 2.4 sekali jalan, kami naik bis menuju Santa Clause Village, sekitar 30 menit dari tengah kota. Santa Clause village pada dasarnya adalah suatu “desa” dengan suasana natal yang amat kental. Ada beberapa pondokan dengan satu pondok utama sebagai markas besar Santa Clause. Well, beneran ada sih Santa Clause nya tapi bedanya dia tidak bagiin hadiah secara gratis ke anak-anak melainkan menyediakan toko-toko merchandise serba Lapland yang sangat menarik, dan ngga gratis tentunya. Semua toko ini dihias dengan elemen natal, menciptakan suasana yang menyenangkan sekali. Pertahanan saya jebol juga untuk ngga membeli apapun, setelah melihat satu blazer merah dengan ornamen bunga yang dijahit cantik dan dengan model unik (udah kartu mati banget buat saya kalau lihat pernik warna merah, jarang untuk ngga jatuh cinta), dan beberapa fridge magnet yang lucu-lucu.
Berbagai toko souvenir bertemakan Natal yang lucu-lucu. Walaupun agak mahal, namun barangnya sumpah lucu banget! Banyak doa ya sebelum masuk toko, supaya ngga kalap :)

Di halaman pondok utama itu ada boneka salju raksasa yang asli lho terbuat dari salju (ya iyalah, menurut ngana?). Ada juga satu gundukan salju dimana anak-anak bermain perosotan dengan satu papan kecil. Seru banget. Saya pingin banget sebenernya untuk ikutan meluncur dengan papan itu, tapi berhubung itu untuk anak-anak dan ada kemungkinan papan itu patah dengan berat badan saya, akhirnya saya cukup tahu diri untuk hanya berdiri di sampingnya sambil ikutan teriak-teriak seru dengan anak-anak kecil tersebut.

Oiya, di Santa Clause village ini tersedia kantor pos dimana kita bisa mengirimkan kartu natal ke manapun  dan siapapun, dengan prangko yang di cap khusus dari Santa Clause Village. Kartu natal ini akan dikirim menjelang natal.  Dan juga, karena letaknya di lingkar kutub (artic circle), maka ada garis yang menandakan keterangan lintang dan bujur bumi dimana kita berdiri. Wow!
Senja di Santa Clause Village


Setelah puas berkeliling dan mengambil foto-foto cantik (banyak banget sudut-sudut yang tampak cantik di foto, baik view dan mataharinya), saya dan Indah menuju ke halte bis untuk kembali ke tengah kota, ke tujuan selanjutnya Artic Museum.

By the way, tidak ada biaya masuk ke Santa Clause village dan tempat ini buka jam 10:00 dan tutup jam 17:00. Pastikan kamu tidak tertinggal bis yang terjadwal secara tepat waktu.

Artic museum
Sayang sekali, museum ini sudah tutup ketika kami tiba, huhuhu….padahal kami penasaran banget pingin tahu cerita-cerita seperti apa jaman es dulu, secara real di tempat yang memang sumbernya. Akhirnya kami cukup puas menonton suatu eksibisi dari suatu komunitas (mungkin mahasiswa jurusan seni) yang menampilkan berbagai seni rupa, umumnya patung dari es dengan bentuk yang unik. Mereka bahkan membuat tempat duduk ala teater yang bertingkat dari es lho! Patung-patung itu diberik efek cahaya warna-warni menghasilkan suatu kombinasi yang sangat apik.

Artic museum sisi teras / luar


Nyasaarrrr….!
Malam itu kami janjian dengan Esther untuk bertemu di satu meeting point, untuk acara barbeque-an di pinggir danau yang membeku sambil menunggu tengah malam untuk melihat Aurora Borealis. Untuk menghabiskan waktu, ehem…kami belanja, hehe! Cewek lah ya, ngga sah kalau ngga ngintip ke konter H&M dan beli sepotong dua potong dan berakhir 4 potong baju…dan juga sekantong plastik penuh coklat khas Finlandia yang tidak kalah enaknya dengan coklat Swiss.

Setelah puas belanja, kami memutuskan untuk kembali ke apartemen untuk leyeh-leyeh karena waktu masih menunjukkan pukul 9 malam, sedangkan kami janjian dengan Esther jam 22:30. Masalah yang kemudian muncul adalaaaahh…kami nyasar! Hahaha! Maklum, tadi pagi waktu berangkat kami berjalan buru-buru dan dipandu Esther melalui ‘jalan tikus’ yang kami tidak ingat. Berpegang pada peta juga tidak terlalu manjur, akhirnya kami bertanya ke mas-mas yang berpapasan di jalan, seorang anak muda dengan pakaian training suit dan menyandang gym bag – pasti habis nge-gym ya, Mas? (menurut loh??). Instead of telling us the direction to the train station, mas ini malah menawarkan untuk mengantarkan kami. What??? Saya dan Indah pandang-pandangan, hmmm…aman ngga ya? Beneran baik ngga ya orang ini? Gimana kalau nanti kami diculik? Terus disekap? Terus dijual? Hehehe…lebay sangat! Akhirnya kami sepakat untuk menerima tawaran mas itu. Dia mengajak kami ke tempat parkir mobil di apartemen ceweknya (Huuuuu….penonton kuciwa) dan dengan mobilnya diantarlah kami menuju stasiun yang tidak jauh dari apartemen Esther. Amaaaann.... pheeeew...

Apartemen Esther terletak di gedung yang agak ke belakang dari komplek dan untuk ke sana, kami harus melalui suatu jalan setapak yang sepi. Saya dan Indah berjalan beriringan, dan tiba-tiba Indah berbisik "Jangan kaget ya, Cid...loe terus aja jalan, jangan noleh...di belakang kita ada cowok rambut gondrong ngikutin kita...loe siapin aja kunci pintu biar kita bisa langsung masuk". Aaaahh...saya langsung deg-deg an. Tempat sepi, asing, gelap dan ada orang asing ngikutin kami jalan. Terdengar gasrukan langkah kakinya di tengah jalan setapak yang berlapis salju itu. Saya dan Indah agak terbirit buka pintu dan langsung masuk, berpapasan dengan seorang cewek yang keluar dan ternyata menemui cowok itu! Ooo temennya! Hahahaha... parno tingkat menteri! Lupa kalau ini negeri jauh lebih aman daripada kampung halaman sendiri...hihi..

Next time ya, Astrid…next time..
Jam 22:00 kami beranjak dari apartemen menuju gereja dekat stasiun sebagai meeting point dengan Esther yang langsung menuju ke sana selepas ia bekerja. Selain mahasiswa S2, Esther juga nyambi bekerja di suatu travel agent. Udara malam itu luar biasa dingin. Buat saya pribadi, kelemahan saya adalah telapak tangan. Mau setebal apapun sarung tangan, tetap dinginnya terasa sampai ke ujung-ujung jari. Bolak-balik saya meniup telapak tangan saya dari ujung sarung tangan di pergelangan tangan, mencoba memberi hawa hangat ke telapak tangan.

Setelah bertemu Esther, kami berjalan menuju ke danau yang beku, dimana di tepiannya telah disediakan beberapa pondokan kayu dan tempat untuk api unggun, lengkap dengan potongan-potongan kayu. Rencananya kami akan membuat api unggun sebagai penghangat badan sambil menunggu datangnya Aurora Borealis.
Beberapa potong sosis dan jagung sudah siap untuk dibakar, teh panas juga sudah siap di termos dan beberapa buah plum untuk tambahan cemilan. Esther dan Indah memilih kayu yang kering dan berusaha menyalakan api dari kayu tersebut, saya membantu dengan memegang lampu senter dan sobekan kertas. Setelah beberapa kali mencoba, Esther sempat kesal sendiri, api tetap tidak mau nyala karena kayu dalam keadaaan lembab. Dan tidak mungkin kami berdiri di tempat itu dalam cuaca yang sangat dingin (belakangan kami cek di apartemen, suhu saat itu adalah minus 21 derajat, pantesaaaann dingin mampus!). Saya dan Indah dalam dilema, antara setuju dengan saran Esther untuk balik ke apartemen atau nekat tetap di tempat itu karena kami yakin malam itu Aurora Borealis akan muncul, terlebih Esther cerita di malam sebelumnya cahaya itu muncul. Tapi akal sehat kami menang, kami memutuskan untuk nurut balik ke apartemen, walaupun dengan hati kuciwa (sangat!).

Kami berjalan dengan langkah cepat, berlomba dengan udara dingin yang membuat ujung-ujung jari kami mulai membiru dan terasa sakit. Kembali ke apartemen adalah keputusan yang tepat, jika tidak, bisa jadi kami akan terkena frostbite dan bisa berakibat fatal – konon katanya bisa mengakibatkan amputasi jari karena jaringan yang mati akibat membeku. Untuuuuungg…! Namun, sembari berjalan, saya dan Indah tidak bisa menyembunyikan harapan kami. Bolak balik kami melihat ke belakang, ke atas langit, sambil berdoa semoga Aurora itu berbaik hati dan menampakkan sedikiiiiit saja sinarnya, tapi ternyata tidak.  *sigh* Next time ya, Astrid… next time.
Tiba di apartemen, kami langsung bergulung dalam selimut tebal, menyalakan pemanas dan meminum secangkir teh panas. Walaupun kecewa tidak bisa melihat Aurora Borelis, namun malam itu kami lewatkan cukup berkesan. Kami bertiga mengobrol seru sampai jam 2 pagi, mulai dari berbagi impian dan cerita lalu, hingga harapan untuk bertemu lagi di Belanda suatu saat ketika Esther menggelar acara Bachelorette party – with or without a groom-to-be! What a brave decision, girl! Salut!

Rovaniemi (part 1): …where a great adventure awaits!

“Cid, bangun, Cid. Sebentar lagi kita landing,”  bisikan teman saya, Indah membangunkan saya dari tidur dalam sebuah penerbangan ke Helsinki, Finlandia. Saya menggeliat sejenak, lalu melihat jam tangan yang menunjukkan pukul 8:30 pagi. Sepertinya cukup lama juga saya tertidur, mencoba membalas dendam kekurangan waktu tidur malam karena harus bangun jam 3 pagi untuk bergegas menuju bandara Arlanda di Stockholm dan mengejar penerbangan pukul 6:30 pagi. Saya tersenyum sendiri mengingat pengalaman pagi itu. Saya dan Indah berjalan kaki menembus udara musim dingin di tengah langit yang masih gelap, dari hostel menuju terminal bis yang berjarak sekitar 1 km. Untunglah pakaian lapis tiga kami cukup menghangatkan. Stockholm masih sepi dan gelap, dengan backpack 65 liter di punggung dan sebuah daypack di panggul di dada. Kami berjalan beriringan, sembari sesekali bertukar canda.

Suara awak kabin memberitahukan jika pesawat akan mendarat sebentar lagi dan mengingatkan penumpang untuk mengencangkan sabuk pengaman. Pandangan saya beralih ke jendela pesawat di sisi kanan saya. Nafas saya seolah berhenti. Sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan. Saya tepuk lengan Indah tanpa melepaskan pandangan saya dari pemandangan di luar jendela. “Ndah, Ndah…keren, Ndah!” seru saya. Indah pun tersenyum dalam takjub. Di bawah sana terbentang daratan luas yang hampir seluruhnya berwarna putih, menyisakan sedikit bagian berwarna hijau. Sejauh mata memandang hanya hamparan salju. Bumi tampak bulat dan saat itu kami berada cukup dekat dengan kutub utara.
Begitu keluar dari bandara, kami bergegas mencari bis nomor 61 atau 61V yang akan membawa kami ke stasiun dan juga terminal bernama Tikkurila untuk kami melanjutkan perjalanan menggunakan kereta selama kurang lebih 10 jam menuju sebuah kota di belahan utara Finlandia bernama, Rovaniemi. Kami menumpang kereta yang dapat dipesan online sebelumnya di link ini. Tiket dari Helsinki Airport - Tikkurila (Bus) dan Tikkurila - Rovaniemi (train) saya beli seharga EUR 70.98. Sedangkan pulangnya Rovaniemi - Helsinki menggunakan Norwegian Airlines dengan harga kurang lebih sama.

Lagi-lagi kami dibuat takjub oleh pemandangan di sepanjang jalan. Semua serba putih, tertutup salju yang cukup tebal -jalan-jalan, trotoar, papan reklame di sisi jalan, pucuk pohon, semua tertutup salju, dan menyisakan sedikit pada ujung-ujungnya. Saya menyadari salju di sini berbeda dengan salju yang saya lihat di kota-kota lain, yang berwarna putih pekat. Salju disini berwarna putih bersih dan mengkilat!

Pemandangan sepanjang perjalanan kereta menuju Rovaniemi pun tidak kalah menakjubkan. Hutan pinus, padang rumput dan rumah tradisional yang tertutup salju, membuat mata saya merekam semua keindahan itu dan menyimpannya dalam hati saya hingga kini. “A very beautiful winter…Tuhan, terima kasih ya”, bisik saya dalam hati.



Ketika musim semi menawarkan suatu keceriaan dan suka cita yang menggegap, musim panas memberikan suatu semangat baru, dan musim gugur menampilkan kesenduan, saya sangat menyukai musim dingin. Buat saya musim dingin menyimpan suatu misteri tersendiri. Seperti ada suatu kesunyian yang sangat damai, suatu balutan keindahan yang menghangatkan hati, suatu bisikan yang bersahabat, suatu kedamaian yang murni, yang saya ingin simpan dalam sebuah kotak di hati saya dan saya kenang kembali seperti saat saya menulis ini.

Rovaniemi. Sebuah kota di belahan utara Finlandia yang tak sengaja saya temukan di beberapa website ketika mencari referensi tempat terbaik untuk mencoba keberuntungan bertemu dengan Aurora Borealis atau juga  dikenal dengan The northern light.  Rovaniemi – walaupun kota kecil -  merupakan  ibu kota region Lapland. Butuh beberapa kali usaha bagi saya untuk dapat mengingat dan melafalkan nama kota ini dengan benar “R-o-v-a-n-i-e-m-i”
Perjalanan 10 jam dengan menjadi tidak terasa ketika kami disuguhkan suatu kenyamanan, dan free wifi tentunya, jadi ngga mati gaya! Hahaha…untungnya saya dan Indah bukan tipe orang yang menjadi autis dan adiktif dengan gadget. Kami menikmati pemandangan di sepanjang jalan, sibuk mengambil foto, mendengarkan music, tergelak dengan candaan konyol kami, merasa nyaman dalam keheningan, bertukar cerita hati dan kesibukan ngemil yang tiada henti, dan juga akhirnya….tidur!

 
Sekitar jam 8 malam kami tiba di Rovaniemi, yang merupakan pemberhentian akhir kereta. Di Rovaniemi, saya dan Indah menginap di sebuah rumah (atau apartemen lebih tepatnya) dari host couchsurfing, namanya Esther. Ia mengatakan akan menjemput kami di stasiun dan saya memberikan ciri-ciri warna jaket dan backpack kami untuk identitas. Esther seorang wanita warga negara Belanda, seusia kami dan sedang menempuh kuliah S2 di University of Lapland. Banyak cerita yang sangat berkesan mengenai perjumpaan kami. Cerita detailnya terpisah ya (masih dimasak ceritanya).
Malam itu kami habiskan dengan obrolan yang cukup seru, terlebih ada seorang teman Esther yang juga menginap karena habis mengerjakan tugas kuliah bersama dan terlalu malam untuk pulang ke rumahnya. Obrolan berlangsung hingga tengah malam, menghabiskan beberapa cangkir teh dan cemilan “Puulah” ala Finlandia. Saya, Indah dan teman Esther tidur di ruang tengah, dengan menggelar kasur lipat. Sangat nyaman dan hangat. Sebelum tidur, saya dan Indah sempat memandang sekilas ke luar jendela, berharap melihat sekelebat Aurora Borealis, namun tentu saja cahaya ini jarang dapat dilihat di tengah kota. Kami tidur dalam senyum, tidak sabar menunggu datangnya pagi dan memulai petualangan kami di kota yang yang konon menjadi markas Sinterklas….hohoho!! Simak petualangan kami di “Rovaniemi part 2: Adventure in artic circle”

Discover Stockholm

Sambil masih menggendong backpack, saya dan teman saya (Indah) melompat turun dari bis yang membawa kami dari Oslo, Norway, merapat di City Terminalen, Stockholm. Waktu masih menunjukkan pukul 06:40 pagi. Kedatangan kami disambut dengan udara dingin yang menggigit, terlebih karena waktu masih pagi dan salju turun cukup lebat. Suhu saat itu sekitar minus 4 derajat celcius (angka yang tertera di petunjuk suhu di bis). Kami merapatkan pakaian tiga lapis kami dan juga syal, topi kupluk dan sarung tangan, sambil bergegas menuju gedung terminal.

Dengan berbekal city map dan print out petunjuk lokasi hostel kami, saya dan teman saya, Indah, langsung melangkahkan kaki untuk mencari hostel kami yang tidak terlalu jauh dari terminal bus tersebut. Hostel City Backpackers dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 10 menit. Thanks to Bapak tua di jalan yang sangat baik hati membantu mencarikan alamat tersebut. Namun satu kesalahan kami adalah berasumsi jika hostel akan buka 24 jam sehingga kami dapat masuk kapanpun dan menitipkan tas sambil menunggu waktu check-in di siang hari. Ketika tiba di depan hostel, kami mendapati pintu hostel masih terkunci, bagian dalam di Reception juga masih gelap dan tidak terlihat ada tanda-tanda akan segera buka. Petunjuk di pintu mengatakan hostel akan buka jam 09:00 pagi, artinya masih dua jam lagi! Olala!


Jangan lupa untuk pastikan jam operasi hostel atau info mereka jam kedatangan kamu. Jika kamu tiba diluar jam operasi, mereka dapat memberikan kode pintu masuk sehingga ngga perlu kedinginan menunggu di luar...hiks!
 

Kami memutuskan untuk menunggu (dan menghangatkan diri) di Seven Eleven (Sevel), tapi ternyata mini market tersebut tidak menyediakan sudut untuk menunggu sambil ngopi  seperti biasanya kedai Sevel. Akhirnya terpaksalah, kami duduk ngedeprok di pinggir jalan, di trotoar di depan pintu sebuah klinik dokter sambil menggerakkan badan agar tidak kalah oleh hawa dingin.

Kota Stockholm pagi itu terlihat mulai menggeliat. Beberapa orang sudah mulai beraktifitas. Pegawai coffee shop yang siap membuka kios nya, beberapa bus sudah mulai beroperasi dan beberapa orang bergegas menuju terminal dan stasiun yang letaknya berdampingan. Dengan jaket tebal, syal, sarung tangan dan topi, orang-orang berjalan dengan sangat cepat, seperti berusaha berlomba dengan udara dingin yang menerpa tubuh. Ada beberapa yang dengan santai mengendarai sepeda (wuiih...seperti apa ya dinginnya itu). Menarik sekali memperhatikan kesibukkan kota di pagi hari, sembari ngobrol ngalor ngidul sama Indah. Salju pun masih turun.


Jam 8:45, kami memutuskan untuk berjalan mendekati hostel dan menunggu di halte bus. Akhirnya tepat jam 9, lobi hostel mulai nampak tanda-tanda kehidupan. Setelah check-in (walaupun belum bisa masuk kamar), kami menitipkan backpack di storage dan memanfaatkan dapur untuk sekedar membuat kopi hangat dan mencuci muka di kamar mandi. Setelah merasa segar, kami siap untuk memulai penjelajahan kota yang berpenduduk sekitar dua juta orang itu selama dua hari ke depan.Yeay :-)

Saya bagi cerita saya tentang Stockholm dalam beberapa bagian, karena terlalu banyak dan kompleks yang bisa diceritakan tentang Stockholm, the city where sea meets lake :-)

Transportasi

"It is easy to move between the different parts of the city and many of its attractions can be reached on foot"

Kalimat ini saya baca di buku "Guide Stockholm 2013". Dan hal ini betul adanya ketika kami membuka peta dan melihat jarak antara spot-spot wisata sebenarnya tidak terlalu jauh, well...secara saya doyan banget jalan kaki.

Episentrum keramaian kota Stockholm terletak di daerah City Terminalen dan Central Station, dimana terdapat banyak pusat perbelanjaan, butik dan restauran bertebaran, yang umumnya beroperasi dari jam 10 pagi hingga jam 5 sore. Akhir pekan pun, kota ini tetap ramai, berbeda dengan beberapa kota di Eropa pada umumnya cenderung sepi di akhir pekan.

Jika jalan kaki bukan favorit kamu, atau waktu yang dimiliki terbatas, jarak yang terlalu jauh, atau fisik yang tidak memungkinkan or whatever reasons, beberapa pilihan kartu terusan untuk berbagai moda transportasi tersedia dengan berbagai pilihan dan tarif:

Single trip - berlaku untuk bis, kereta, dan trem:

1 jam : 36 SEK
24 jam: 115 SEK
72 jam: ....hmm..berapa ya, maaf, catatan saya hilang, hehe..

Ada juga Stockholm Card yang menawarkan kelebihan gratis masuk ke 80 museum dan atraksi di Stockholm, free travel by public transports dan sepaket informasi tentang atraksi di Stockholm. Kartu ini juga tersedia dengan berbagai pilihan harga:

1 day  : SEK 495
2 days : SEK 650
3 days : SEK 795
4 days : SEK 1050

Sebagai informasi nilai tukar saat itu (Feb 2013) adalah 1 SEK = Rp 1,700. Kartu tersebut dapat diperoleh di SL Center atau tourist information ataupun loket yang disediakan dan tersebar di stasiun ataupun terminal. Jangan lupa untuk mengaktifkan dengan cara "di jegrek" di loket atau tunjukkan ke 'kondektur' bis.


Stockholm central station yang terletak dekat dengan City Terminalen (terminal bis)


Jangan kuatir untuk tersesat. Berbagai papan petunjuk cukup jelas, brosur dan peta gratisan tersebar di beberapa sudut kota, petugas publik dan masyarakat yang ramah dan pusat informasi turis yang walaupun akhir minggu tetap buka. Dan tidak hanya itu, mereka juga 'menjemput bola' dengan adanya mobil pusat informasi di beberapa sudut kota.




Oiya, untuk transportasi dari pusat kota ke airport Arlanda - demikian juga sebaliknya terdapat beberapa pilihan moda transportasi. (hati-hati, Stockholm memilki dua airport yang berjarak cukup jauh satu sama lain, Skavsta airport untuk budget airlines. Untuk alasan ekonomis, saya dan teman saya memilih menggunakan bus (coach) Flygbussarna dari City Terminalen ke Arlanda airport dengan jarak tempuh 40 menit. Keberangkatan pertama jam 3.45 pagi hingga tengah malam, dengan biaya 99 SEK. Tiket dapat dibeli di loket khusus di City Terminalen. Atau jika terburu-buru, Arlanda Express adalah pilihan yang tepat, SEK 260/one way dan waktu temput 20 menit saja.

IKEA

Ketika mendengar kata "Stockholm", hal yang terlintas pertama kali di kepala saya dan Indah adalah markas besar IKEA! Toko perabotan yang terkenal dengan disain minimalis namun fungsionalis dibalut dengan warna-warna yang manis. Swedia adalah rumah asal IKEA dan menarik tentunya untuk mengintip koleksi mereka di negara asalnya, walaupun dalam hati mengingatkan diri untuk tidak kalap belanja (mau ditaruh dimanaaaa di tas? hiks...)
  

IKEA yang dikelilingi tumpukan salju

Ternyata koleksi dan harga yang ditawarkan tidak jauh berbeda dengan IKEA di Singapura. Mereka pun memiliki tata ruang yang kurang lebih sama. Saya dan Indah terus mengingatkan diri kami untuk menahan diri membeli pernik-pernik lucu. Beberapa dompet dengan warna yang manis, container dengan bentuk unik, lampu tempel laptop, adalah beberapa barang yang akhirnya kami beli, setelah berhasil memaksa diri meletakkan kembali sarung bantal, sprei (saya nyaris membeli gorden bercorak ungu manis). Setelah menghabiskan beberapa jam berkeliling bangunan empat lantai tersebut, kami merasa kelaparan. Pilihan berakhir di hotdog seharga EUR 1, dan saya menghabiskan 4 buah! :-)

Vasa Muset

Ini satu musem yang jangan dilewatkan. Apa sih yang menarik dari museum ini? Begitu kami masuk di area utama, langsung terbentang sebuah kapal kayu raksasa yang menjulang hingga atap bangunan yang sangat tinggi. Dialah kapal Vasa yang tenggelam di abad 17 dalam pelayaran perdananya, dan kemudian ditemukan dan diangkat ke permukaan setelah lebih dari 300 tahun terdampar di bawah laut (tahun 1961). 95% material kapal ini tetap dipertahankan seperti aslinya. Museum ini terletak di daerah Djurgarden dan ditempuh dengan trem selama 5 menit dari City Terminalen. Saya menghabiskan waktu sekitar 2 jam di sana. Jangan lewatkan pemutaran film sejarah proses pengangkatan kapal ini di teater kecil yang tersedia di dekat pintu masuk. Kalau tidak salah, hampir setiap jam ada jadwal pemutaran.

Kapal Vasa yang berhasil dipugar kembali setelah lebih 300 tahun terdampar di bawah laut. Siapa yang mengira 95% material kapal ini dipertahankan seperti aslinya!

 
Gamla Stan dan Royal Palace
Sungguh menyenangkan berjalan-jalan di Gamla Stan atau yang berarti Old Town. Daerah ini seperti sebuah pedestrian yang hidup, dimana di sisi kanan dan kiri terdapat berbagai berbagai toko unik, mulai dari toko souvenir khas Swedia, café dengan design yang hangat, museum, gereja, toko barang antik, toko buku baru dan bekas, dll. Jalanan yang lebih menyerupai lorong berliku diapit oleh bangunan tua setinggi kurang lebih tiga-empat lantai, yang beberapa dicat dengan warna cerah seperti merah, kuning, oranye. Walaupun sudah terbiasa dengan gang senggol di Jakarta, tapi saya tetap terpana dengan kawasan yang menawarkan suasana bak negeri dongeng ini, terlebih ketika saya strolling around di saat senja, perpaduan gelapnya malam dan permainan cahaya lampu gang dan teras rumah menambah bumbu daya tarik daerah ini. Saya berjalan berkeliling tanpa lagi pedulu dengan peta. Saya hanya mengikuti kemana kaki melangkah, menikmati suasana, merasakan hawa dingin yang menghangatkan hati saya, dan terus melangkah mencari dimana ada toko souvenir lucu :-)

Maaf ya, ngeliat gambarnya agak memiringkan kepala sedikit, ngga ketemu menu untuk rotate nih di blog ini

 

Selain ambience nya, salah satu daya tarik Gamla Stan adalah Royal Palace, dimana banyak turis menyaksikan prosesi pergantian penjaga istana. Seremonial pergantian penjaga ini tidak hanya melibatkan baris-berbaris standar, tapi juga adanya pasukan berkuda dan band militer. Prosesi ini digelar rutin setiap hari jam 12 siang, kecuali Minggu dan hari libur pukul 1 siang.

Royal Palace yang dulunya merupakan tempat tinggal keluarga kerajaan, konon katanya merupakan salah satu bangunan terbesar di dunia dengan lebih dari 600 kamar (seru pastinya untuk main petak umpet). Saat ini istana ini difungsikan sebagai kantor pemerintahan dan atraksi turis yang dapat mengintip kemewahan istana abad 17 ini dengan membayar admission fee.

Nobel Museum
Museum nobel ini terletak di tengah kawasan Glam Stan. Di museum berkonsep modern ini di bagian interiornya, kita bisa belajar sejarah Alfred Nobel serta berbagai inovasi yang membawa kebaikan bagi dunia. Fasilitas layar sentuh membuat kita mendapatkan informasi dengan lebih cepat dan interaktif (tidak hanya berjalan melihat barang statis tulisan di buku, plat, patung dll seperti umumnya museum). Museum ini buka setiap hari (kecuali Senin) dengan jam kerja mulai jam 8 pagi hingga 5 sore. Museum ini menawarkan pelayanan guided tours secara gratis!

Nobel Museum tampak dari pintu masuk

Di depan museum, terpasang satu foto besar seorang Bapak yang tadinya saya pikir foto Alfred Nobel, namun ternyata bukan. Ia adalah Tomas Transtomer berkebangsaan Swedia yang menerima hadiah Nobel di bidang Literatur, lewat puisi-puisinya yang dinilai inovatif. Saya yang kurang mengerti puisi, menyukai salah satu puisi beliau yang lewat permainan kata-katanya memberikan gaya deskriptif  yang membumi – saya memiliki persepsi puisi itu harus menggunakan kata berbunga sehingga kesannya keren, sehingga semakin membingungkan maka semakin bagus (padahal buat saya membingungkan).
Must-visit café yang terletak di depan Museum Nobel.
Dan yang jangan sampai dilewatkan adalah mengunjungi sebuah cafe di depan museum – tidak tepat di depan, agak ke samping kanan begitu keluar museum. Saya tidak sengaja masuk ke café ini hanya karena ingin mencari kehangatan dari secangkir kopi untuk melawan hawa dingin. Café ini menarik dari luar dan sederhana, sesederhana bagian dalamnya yang mungkin hanya memuat tidak lebih dari 20 orang dengan meja kursi biasa yang saling berdekatan. Saya memesan capucino yang disajikan di cangkir dengan ukuran jumbo, menyerupai mangkuk kecil, ditemani sepiring smoked chicken spinach pie hangat yang sungguh nikmat rasanya. Total untuk ‘cemilan’ pie dan capucino adalah SEK 110 (sekitar Rp 187 ribu), cukup mahal namun karena enak, ok lah ya. Ketika keluar, saya baru melihat ada tempelan sticker Trip Advisor… ooo pantesan!
Dengan waktu yang terbatas, saya cukup terkesan dengan Stockholm. Kota ini tidak terlihat seperti ibukota suatu negara yang biasanya kental dengan kesan metropolis. Stockholm seperti memiliki karakter tersendiri yang membuat nyaman untuk kita berkeliling. Di malam hari,saya dan teman saya bisa menghabiskan berjam-jam untuk hunting foto berbagai sudut menarik dari kota ini.
Salah satu sudut kota Stockholm
So waits no more to discover the beauty and character of Stockholm.