Wednesday, August 20, 2014

Cambodia - a story about forgiving, accepting and moving on...

Ketika mendengar mengenai negara "Kamboja" yang ada di bayangan saya adalah sebuah negara yang belum berkembang, belum ada gedung modern apalagi mal besar seperti Senayan City atau Grand Indonesia, jalanan yang tidak terlalu ramai dan cenderung sempit, penduduknya tidak terlalu banyak, berpakaian sederhana, menggunakan sepeda sebagai salah satu alat transportasi (atau mungkin juga sejenis tuktuk), udaranya panas kering dengan banyak debu.

Bayangan saya ternyata tidak jauh meleset. Pemandangan seperti itu yang saya jumpai dalam kunjungan backpacking ke negara ini Desember 2013. Bersama sekitar 10 teman lainnya, kami mendarat di Siam Reap International Aiport untuk memulai kunjungan ke dua kota di Kamboja, yaitu Siam Reap dan Phnom Penh. Namun dengan kesederhanaan infrastruktur, ternyata Kamboja memberikan saya suatu hal yang sangat menyentuh dan mengubah pandangan saya tentang rakyat Kamboja.

Siem Reap
Ya sudahlah ya, semua orang mungkin sudah tahu kalau bintangnya kota ini adalah Angkor Wat (artinya Kuil Kota). Candi yang dibangun selama 30 tahun pada pertengahan abad 12 dipercaya merupakan tempat tinggal dewa-dewi Hindu (30 tahun, man!...masih jagoan candi Lara Jonggrang kita yang dibangun hanya satu malam!).  Well, I'm not gonna tell you the detail history of Angkor Wat....the wikipedia is just a click away! :-)

Saat masuk ke dalam candi, kita dapat menemukan beberapa persembahan bunga-bunga, dupa, hio dll yang diletakkan di depan sebuah arca. Beberapa bagian candi sedang dalam proses pemugaran dan diberi palang penutup demi keamanan pengunjung. Layaknya sebuah candi, bagian dalam Angkor Wat juga terdiri atas lorong-lorong dengan dinding batu yang mengapit dan bagian tengah yang cukup luas (mungkin tempat duduk-duduk para dewa jaman itu).



Jika fotografi adalah hobi kamu, you certainly don't want to miss the chance of chasing the sunrise. Pagi itu sekitar jam 3 pagi, saya dan teman-teman dengan menggunakan jasa tuktuk (becak motor) berangkat ke Angkor Wat yang terletak sekitar 5.5 km dari pusat kota, untuk mengejar sunrise di balik puncak candi Angkor. Langit masih gelap dan udara pagi terasa begitu dingin. Ketika tiba di lokasi, pastikan kamu segera mengambil posisi strategis di sebuah lapangan, di sisi sebuah kolam / empang, yang menghadap candi. Matahari akan terbit tepat di balik stupa candi. Sayangnya, saat saya ke sana, cuaca lagi mendung dan berawan, sehingga matahari terbit tidak seindah bayangan saya.


Ratusan orang dengan perlengkapan kamera akan saling berlomba mendapatkan posisi yang strategis.
Tutktuk sebagai salah satu pilihan moda transportasi berkeliling Angkor

Dengan tuktuk yang sama, saya berkeliling di komplek Angkor, yang konon menurut cerita, dapat selesai dikelilingi dalam waktu 2 minggu! Namun berkeliling Angkor cukup menyenangkan dengan beberapa spot foto yang apik di antara kemegahan candi-candinya. Beberapa patung peninggalan jaman dahulu masih gagah berdiri, walaupun beberapa nampak dalam proses rekonstruksi. Ada yang bagian tubuhnya rusak namun ditambal dengan material yang menyerupai aslinya walaupun kalau diperhatikan terlihat bedanya. Jarak antara komplek candi lumayan jauh, jadi menggunakan tuktuk adalah pilihan yang tepat. Kita juga dapat menemui beberapa penduduk yang memainkan alat musik tradisional dan beberapa pengunjung memberikan uang sebagai bentuk apresiasi. Mereka ini memiliki cacat fisik akibat perang di Kamboja di masa lalu. Umumnya mereka cacat akibat terkena ranjau darat.


Jangan lewatkan berfoto dengan akar pohon raksasa yang menembus bangunan, yang menjadi signature dari Angkor

Selain Angkor, berkeliling di kota Siem Reap juga tak kalah menyenangkan. Kota ini memiliki bangunan tua kolonial dan arsitektur China. Walaupun udaranya cukup berdebu dan matahari terik, namun angin bertiup cukup sejuk. Jika budaya adalah minat kamu, jangan lewatkan kunjungan ke Angkor National Museum. Sebuah taman dengan replika candi atau rumah adat tradisional Kamboja, mirip dengan TMII versi yang lebih mini. Sayang tempat ini agak kurang terawat, rumput-rumput liar tumbuh cukup tinggi dan tidak teratur. Yang menarik untuk saya adalah menyaksikan pertunjukan tarian rakyat atau upacara adat yang ditampilkan dalam auditorium ber-AC yang cukup nyaman (membuat saya dan sebagian teman-teman sukses tertidur). Tarif masuk cukup mahal yaitu USD30 per orang.

Kemanapun saya berpergian, saya selalu suka dengan yang namanya pasar tradisional. Entah itu pasar malam, pasar rakyat, pasar sayur, semua saya suka. Ada sesuatu yang unik yang ditawarkan oleh pasar. Kita bisa melihat kegiatan masyarakat lokal dengan sebenarnya, berinteraksi dengan mereka, mencicipi jajanan lokal yang unik, mendapatkan begitu banyak obyek foto yang lucu-lucu. Saya dan teman-teman mengunjungi pasar malam atau night market, yang umumnya menjual berbagai macam souvenir tradisional dengan harga miring, seperti satu buah selendang cantik dipatok USD 1-4. Ada sesuatu yang unik di night market ini. Di tengah pasar ini, ada sebuah pertunjukan nyanyi dan tari yang diperankan oleh waria dan amazingly, they dressed up even more beautiful than the women! Mereka mengenakan beraneka kostum, melenggak-lenggok layaknya penyanyi dan penari profesional di atas panggung. Pengunjung dapat menyaksikan hiburan ini sembari pijat refleksi di area depan panggung. Sangat menarik!




Phnom Penh
Saya pribadi sebenarnya agak enggan untuk bercerita tentang perjalanan saya ke beberapa tempat di ibukota Kamboja ini, namun apa yang saya rasakan dan pikirkan saat berada di tempat-tempat tersebut membuat saya begitu kagum atas rakyat Kamboja, kagum atas kemampuan mereka untuk memaafkan, menerima dan melanjutkan hidup, tanpa melihat luka di masa lalu (walaunpun pasti masih ada beberapa orang yang sulit untuk melakukan ini, dan itu sangat manusiawi).

Tempat yang pertama saya datangi adalah Choeung Ek Genocidal Center atau yang juga dikenal sebagai the killing field. Tempat ini dulunya adalah sebuah sekolah yang menjadi tempat pembantaian penduduk kamboja saat rejim Khmer Merah berkuasa. Lebih dari 14,000 orang disiksa dan dibunuh dengan cara yang sangat keji, menggunakan alat dan cara sangat tidak berprikemanusiaan – saya tidak kuasa mendeskripsikan dalam tulisan ini cerita-cerita yang saya dapatkan dari tempat tersebut. Salah satu rekaman audio dari saksi hidup menyebutkan hal yang paling menyakitkan adalah bahwa mereka dibunuh oleh saudara sebangsa sendiri, untuk alasan yang mereka tidak tahu.



Aura kekelaman dan kesedihan masih sangat terasa ketika kita memasuki tempat ini. Setiap sudut diberi tanda untuk proses pembantaian yang terjadi, misalnya di bagian ini adalah tempat dimana truk menurunkan orang-orang yang dirampas dari beberapa desa dan akan segera dibunuh, atau lubang besar dimana mayat-mayat dihempaskan dan ditimbun jadi satu, setelah disiram oleh pestisida agar jenazah cepat hancur (bahkan ada yang masih setengah hidup, namun dibuang jadi satu dengan mayat tersebut). Ada juga tempat untuk penyimpanan alat-alat untuk membunuh seperti linggis, pacul, dll. Mereka tidak menggunakan senapan berpeluru. Jadi terbayang seperti apa rasanya disiksa perlahan hingga meninggal.




Saat pemerintah baru (setelah menggulingkan rejim Khmer Merah) menggali lubang pembuangan jenazah, mereka mengumpulkan tulang-tulang termasuk tengkorak, pakaian yang dikenakan dll. Semua tersimpan dalam suatu lemari kaca bertingkat. Jika kita perhatikan seksama dari tengkorak tersebut, maka kita bisa melihat beberapa tempurung yang pecah atau bolong, menandakan penyiksaan yang mereka alami. Juga kain atau baju dengan noda gelap, bekas darah yang mengering.


Rak tempat tengkorak korban pembunuhan disimpan dan diabadikan


Ada satu cerita yang sangat menyayat hati saya. Jika kita berpikir bahwa hanya kaum pria yang dibunuh seperti umumnya saat perang berlangsung, maka kita salah besar. Mereka pun membunuh bayi-bayi tak berdosa dengan cara memegang kedua kakinya, mengayun dan menghempaskan bagian kepala ke sebuah pohon hingga isi kepala bayi pecah berhamburan. Pohon ini masih berdiri hingga kini, menjadi saksi bisu dari kebiadaban mereka yang menyebut dirinya manusia.


Pohon dimana bayi-bayi tak berdosa diayun dan dihempaskan ke pohon tersebut hingga isi kepala mereka berhamburan/



Oiya, ketika datang, di gerbang masuk tempat ini, kita akan dibekali sebuah alat rekam yang dapat kita atur tombolnya untuk mendengarkan beberapa cerita mengenai tempat tersebut sambil kita berjalan. Selain itu, ada juga rekaman kesaksian orang-orang yang berjuang menyelamatkan diri atau menyaksikan segala kekejaman rejim tersebut. Mereka yang umumnya dibunuh adalah para kaum intelektual yang dianggap membahayakan bagi pemerintah.

Saya memutuskan  duduk di salah satu bangku dengan perasaan haru luar biasa, mendengarkan kesaksian mereka, bagaimana mereka melihat keluarga mereka disiksa dan dibunuh, atau bahkan mereka sendiri yang lolos dari kejaran tentara. Suatu luka batin atau trauma yang sangat dalam dan membutuhkan suatu kekuatan luar biasa, kebesaran hati yang sangat kuat untuk dapat memaafkan, menerima dan kemudian melanjutkan hidup. Terlebih peristiwa ini terjadi di tahun 1975 - 1979, yang relatif masih 'baru' dimana beberapa dari mereka masih hidup saat ini dan bercerita pada anak cucu mereka, tentang pengalaman pahit itu tentunya masih lekat dalam benak mereka.


Saat teman-teman saya memutuskan untuk menyudahi pengalaman yang mengharu biru tersebut dan mengunjungi Grand Palace, saya dan Indah (my forever travel-buddy) justru dengan mantap memisahkan diri dari rombongan dan mengunjungi satu tempat yang tak kalah menyeramkan. Kami berdua begitu ingin mendapatkan cerita yang lengkap, karena tempat kedua yang kunjungi, adalah penjara yang dibangun sebagai tempat penyiksaan juga. Namanya adalah Tuol Sleng Genocide Museum.

Tempat ini terdiri dari dua bangunan bertingkat tiga yang sekilas mirip seperti sekolahan, namun ruang kelas adalah ruang penjara dan penyiksaan, yang tidak kalah sadisnya. Ah, menulis cerita ini sekarang membawa saya pada perasaan dan ingatan akan tempat tersebut. Sungguh saya tidak habis pikir, ada manusia yang sanggup menyiksa sesamanya sedemikian dahsyatnya seolah mereka tidak punya hati nurani (atau memang tidak punya dan sudah mati).


Satu dari dua bangunan tempat penyiksaan. Satu bangunan terdiri dari sel-sel / kamar penyiksaan
Dalam kamar-kamar penyiksaan tersebut, kita masih bisa melihat tempat tidur, rantai, besi dll yang menjadi alat penyiksaan, bercak hitam di lantai dan dinding yang konon adalah berkas darah akibat penyiksaan. Foto-foto di dinding pun menambah bentuk gambaran yang terbentuk di pikiran kami semakin nyata.



Di ruang lain, terpasang ratusan foto mereka yang menjadi korban, pria, wanita, bahkan anak-anak. Mereka mengenakan seragam khusus sebelum difoto. Ada beberapa dengan ekspresi datar, kosong dan bahkan ada yang tersenyum. Mungkin kematian bukanlah hal yang menakutkan bagi mereka, namun jadi akhir dari penderitaan yang tak berkesudahan. Atau mungkin juga mereka belum tahu seperti apa penyiksaan yang akan terjadi atas mereka. *sigh*

Saya dan Indah hanya berputar di satu gedung saja. Kami putuskan sudah cukup perjalanan yang mengiris hati. Kami melihat cukup banyak cerita penyiksaan dan pembunuhan yang terjadi saat itu. Oiya, untuk masuk area ini, kita hanya perlu membaya USD 5 (kalau tidak salah ingat) dan dibekali dengan brosur singkat mengenai tempat tersebut.

Salah satu sudut pemandangan kota

Selanjutnya dengan menumpang tuktuk dengan tarif USD 4, kami pergi ke Grand Palace untuk menyusul teman-teman lain. Perjalanan dengan tuktuk melewati jalan raya di tengah kota cukup menyenangkan. Kami ditawari pemandangan kota yang jauh berbeda dengan Siam Reap (ya iyalah yaw, secara ini ibukota negara). Kota Phonm Penh cukup modern dengan bangunan-bangunan yang tertata apik, lalu lintas yang ramai, mobil-mobil keluaran terbaru, taman kota yang terperlihara dengan tanaman beraneka warna, beberapa tugu atau monumen sejarah dan lain-lain. Setibanya di Grand Palace, saya dan Indah lebih tertarik untuk berjalan kaki di sekitar istana. Menurut kami, istana dimanapun tidak akan jauh berbeda, namun buat kami lebih menarik melihat kegiatan masyarakat (dan turis) di taman (seperti alun-alun) di samping istana. Ada suatu taman luas dengan rumput yang hijau dimana beberapa keluarga atau pasangan menggelar alas duduk dan menggelar makanan atau membeli dari pedagang keliling. Cuaca yang mendukung untuk acara piknik ini. Saya dan Indah cukup seru dengan kegiatan kami sendiri yaitu....kejar-kejaran dengan burung merpati!! Hahaha...seru dan norak to the max pastinya. Biarlah....namanya juga liburan, sebelum kemudian kami asyik keluar masuk dari satu toko souvenir ke toko souvenir lainnya :p



Phnom Penh menjadi penutup perjalanan kami di Kamboja dan kemudian melanjutkan ke kota berikutnya Ho Chi Minh menggunakan bis (dan ferry).




Sunday, August 3, 2014

Perlengkapan "perang" travelling

Berkemas sebelum travelling menjadi salah satu bagian yang sangat menyenangkan untuk saya. Travelling di sini maksudnya untuk liburan lho ya, bukan business trip. Saat berkemas kita memilah mana yang penting dan perlu, memaksa hati untuk melupakan yang tidak perlu (cewek cenderung melihat semua barang penting dan perlu, dengan alasan berjaga-jaga)... keep it as simple as possible...

Backpack
Memilih backpack tidak melulu mementingkan gaya atau estetika (warna, model, dll), tapi yang terpenting adalah mendapatkan ransel yang pas di tubuh. Buat saya, membeli ransel haruslah di coba. Yang enak di orang lain, belum tentu cocok di kita. Saat mencoba, pastikan kedua belah ikat pinggangnya berada tepat pada tonjolan tulang pinggang/panggul (tepat di atas panggul), bukan pada pinggang ya, beda. Ini penting karena berat keseluruhan akan ditopang oleh ikat pinggang ransel dan tulang pinggang/panggul ini. Pastikan posisi nyaman dan pas. Setel tali-tali sehingga bisa menempel nyaman di tubuh, baik di pundak, punggung, pinggul / tulang pinggang. Intinya adalah berbaikhatilah pada tubuh kita. Ia sudah rela menopang segala rupa bawaan kita, mari kita bermurah hati memberikan sesuatu yang tidak menyulitkan tubuh.

Dari segi model, saya memilih backpack yang memiliki bukaan depan supaya gampang mengambil barang, dan kalau ada pemeriksaan bagasi di airport. Baru kemudian memilih warna :-) Merk penting tapi bukan segalanya, walapun seringkali merk bagus dan harga berbanding lurus dengan kualitas. Pilihan saya jatuh pada Deuter Air Contact Pro 55 + 15 SL. Model ini di design untuk wanita (ada gantungan bunga plastik segala lho. Manis kan?). Dan terbukti tas ini super kuat. Beban terberat yang pernah diangkut adalah 22 kg. Tasnya sih baik-baik aja, justru saya yang menyerah, ngga kuat. Daripada encok, mending tas ditaruh troli aja kali ya. Tas ini juga memiliki beberapa kantong tersembunyi untuk nyempilin beberapa barang. Tas ini saya beli di toko Tandike di Cipulir, tahun 2011. Ngga begitu ingat harga persisnya, tapi sekitaran Rp 1,2 - 1.4 juta. Tipe ini tersedia dalam dua warna orange dan abu-abu, dengan kombinasi dengan hitam dan abu-abu tua.

Aircontact Pro 55+15 SL (size: 80 / 32 / 30 (H x W x D) cm), weight: 2.9 kg (kosong)
Transport bag
Nah tas satu ini memegang peranan cukup penting, terlebih jika saya berpergian dalam penerbangan jarak jauh. Transport bag ini gunanya untuk mengantongi backpack utama sehingga terhindar dari resiko kotor, tali putus, buckle strap pecah dan tangan-tangan jahil. Tas ini memiliki zipper yang ujungnya bisa dikaitkan dengan gembok kecil, jadi aman. Selain itu, tas ini dapat berfungsi sebagai rain cover seandainya backpack kamu ngga dilengkapi dengan rain cover yang built in. Pssttt...di akhir trip, ketika backpack sudah tidak cukup menampung barang, saya suka cemplungin barang-barang saya dalam transport bag ini :) Di Jakarta, saya membelinya di toko Tandike di daerah Cipulir dengan harga sekitar Rp 280,000 (agak lupa harga persisnya).
Transport bag Deuter bisa digunakan untuk backpack hingga ukuran 90 L

Space Maker
Ini salah satu penolong ajaib saya. Pertama, kantong plastik ini dapat menghemat ruang di tas hingga 50%! Cukup saya lipat baju, tumpuk dan masukan dalam kantong ini, kemudian tarik seal hingga udara di dalam kantung tertarik keluar dan voilaaa...tumpukan baju tersebut menjadi tipis. Biasanya ketika menarik seal, saya sembari dudukin untuk mempermudah keluarnya udara dan kantong menjadi kedap. Kedua, kantong ini juga melindungi pakaian dari resiko basah dan kotor. Aman dan ringkas. Saya beli kantong di Ace Hardware seharga Rp 80,000 (Jan 2013). Satu kotak berisi 4 kantong (2 ukuran small + 2 ukuran medium).

Handuk berbahan fiber
Pertama kali tahu tentang handuk ini dari sepupu saya, Santi. Handuk ini sekilas mirip dengan lap kanebo, tapi lebih lembut. Handuk ini jauh lebih tipis dengan daya serap yang tidak kalah dari handuk umumnya dan yang lebih juara adalah kemampuan untuk kering lebih cepat. Jika dilipat hanya berukuran sekitar 10 x 8 cm dan tebal cukup 3 cm saja (Ukuran aslinya 90 x 40 cm). Cool, isn't it? Saya ngga sengaja ketemu di salah satu toko perlengkapan travel di Oslo, Norwegia. Harganya sekitar IDR 450,000. Di Jakarta, saya belum tahu dimana jual barang ini.

Handuk berbahan fiber yang memilki daya serap tinggi, mudah kering, ringan dan tidak memakan tempat


Cargo pants / quick dry
Saya paling musuhan sama bahan jeans untuk long trip. Alasannya simply karena berat, makan tempat dan lama kering jika dicuci/kena hujan/basah. Ada sih jeans yang berbahan bahan katun biasa, hanya motif dan warnanya biru jeans. Jeans juga cenderung menyerap dingin. Jadi pilihan saya ada di celana kargo yang berbahan katun tebal atau quick dry. Waktu itu sebenarnya saya agak susah-susah gampang mendapatkan celana cargo yang cocok di badan dan di hati. Kebanyakan kebesaran terutama di bagian 'pipa' kaki. Kalau kepanjangan bisa dipotong, tapi kalau kedombrangan dikecilin, bisa-bisa merubah potongannya. Beberapa saya dapatkan di Rumah Mode Bandung, dan toko perlengkapan outdoor di Guilin, China pas kebetulan ke sana. Pilihlah yang berwarna netral agar mudah dipadupadankan. Travelling in style :-)

Obat-obatan
Yang umumnya saya bawa adalah panadol hijau + biru, Medrol untuk sakit tenggorokan, Mylanta untuk maag, Norit untuk salah makan, Insidal untuk alergi (untungnya sejauh ini saya ngga ada alergi), Immodium untuk diare, minyak kayu putih, counterpain, obat batuk kemasan 100ml, Rhinos untuk pilek / hidung mampet dan yang paling penting adalah pil Lelap alias obat tidur. Obat ini cukup manjur untuk mengatasi jet lag. Selain itu, badan saya punya kebiasaan jika terlalu lelah maka akan susah tidur, harus menunggu rasa lelah reda hingga ke satu titik baru perlahan bisa tidur. Masalahnya kalau sedang travelling, gawat banget kalau besoknya bablas ketiduran hanya karena malamnya ngga bisa tidur cepat. Dan obat ini juga manjur menjaga saya tetap tidur ketika berada dalam dorm, dengan segala kebiasaan tidur orang lain berkumpul jadi satu (mendengkur, mengigau, pulang dugem dini hari dll). Obat ini hanya saya minum dalam keadaan terpaksa saja. Jangan lupa untuk membawa vitamin C dan B kompleks, dalam kasus saya, Enervon C cukup menjadi andalan. Selain itu, obat luar standar bisa juga dibawa seperti betadine botol kecil, tenspoplas.

Universal adaptor
Beda negara bisa jadi menggunakan colokan listrik yang berbeda (kaki tiga, ujung bulat, ujung kotak, dll). Daripada membawa berbagai macam model adaptor, bawalah universal adaptor. Adaptor ini banyak dijual di toko listrik atau di Ace Hardware. Buat saya, dapat gratisan saja souvenir dari kantor :p
Universal adaptor menawarakan beberapa pilihan colokan listrik yang berbeda


Alas kaki
Saya biasanya cukup membawa sepasang sepatu yang nyaman untuk berjalan. Saya cukup nyaman dengan sepatu trekking yang memiliki 'gerigi' lebih pakem, tidak gampang slip. Sepasang sepatu sandal jenis Teva bisa jadi alternatif jika 'medan perang' memungkinkan. Sesekali jika beban dan cuaca memungkinkan (winter), saya suka membawa sepatu booth tinggi selutut, selain faktor fungsi menghangatkan kaki, juga faktor gaya dong! :-)

Daypack
Ini tas ransel Eiger hitam hasil jarahan punya kakak saya, dan ternyata cukup kuat. Tas ini saya gunakan untuk menyimpan paspor, obat-obatan, kamera, tissue dan barang peritilan kecil lainnya. Tas ini biasanya saya bawa dalam kabin pesawat. Dalam keseharian selama travelling, tas ini saya gendong di bagian depan (dan punggung memanggul backpack utama saya). Sayangnya ransel ini tidak dilengkapi rain cover yang built in, jadi saya membawanya terpisah. Enaknya tas ini memilki banyak kantong dan ada kantong di samping tempat saya menyelipkan botol minum.

Ini peralatan basic saya, tentunya pernik-pernik lain akan selalu menemani. Jika berpergian ke daerah musim dingin, tentunya harus lebih tega untuk meninggalkan beberapa barang yang ngga penting - bawalah kaos secukupnya, ngga perlu bawa aksesoris terlalu banyak (topi, pashmina, dll), karena kita akan sibuk dengan barang seperti sarung tangan, kupluk, syal tebal dll.

Happy travelling! :-)

Saturday, March 8, 2014

From Russia with love

"Hey...we will arrive shortly. You'd better get prepared".

Perlahan saya menolehkan kepala ke arah suara wanita yang menyapa dengan ramah, masih terasa enggan memalingkan pandangan dari jendela kereta yang menemani lamunan saya selama sejam terakhir. Di luar langit sudah terang, namun belum terlihat keramaian aktivitas. Rumah-rumah masih sepi, jalanan dengan tumpukan salju di pinggirannya hanya menyisakan beberapa kendaraan.  Beberapa bangunan perkantoran atau bisnis tampak masih tutup. Setelah tidur cukup pulas selama beberapa jam, saya sangat menikmati acara melamun pagi itu, membiarkan pikiran saya berkelana, dan hanya ada saya dan diri saya dalam ketenangan. Saya membiarkan lagu Lazy Song-nya Bruno Mars menemani saya melalui earphone dalam perjalanan kereta dari Helsinki menuju Moscow, di suatu musim dingin di 2013.

Bersama Indah, saya menempuh 17 jam perjalanan dari Helsinki menuju Moscow dengan kereta malam dan menempati gerbong dengan 4 tidur lipat yang cukup nyaman dan hangat, yang ditempati juga oleh dua orang wanita Rusia. Seorang berumur sekitar 26-27 tahun yang baru saja mendapatkan gelar Phd di bidang bio molekul dari suatu univesitas di Helsinki, Finland, dan dalam perjalanan kembali ke kampung halamannya di Rusia. Seorang lainnya berusia sekitar 35 tahun, namun kami tidak terlalu banyak berinteraksi dengan mbak ini karena ia lebih sering menghabiskan waktunya di kabin sebelah, bersama teman-temannya. Mbak Phd ini lah yang barusan mengingatkan kami untuk berkemas.

Jam tangan saya menunjukkan pukul 6 pagi. Kereta dijadwalkan tiba pukul 8:15 pagi. Masih dua jam lagi. Kenapa Mbak Phd ini bangunin pagi banget ya?

"What time is it now?" Tanya saya ke Mbak Phd  tersebut.

"It's 8 o'clock. We'll be arriving in 15 minutes, you'd better get ready" jawabnya sambil memakai sepatu dan kemudian jaket tebalnya.

"Oh, isn't it still 6 o'clock?" Tanya saya memastikan.

Ia tersenyum dengan pandangan maklum seolah sudah sering mendengar pertanyaan saya yang mungkin terdengar aneh.

"You haven't changed your time. Moscow's time is 2 hours early than Helsinki", jelasnya sambil tersenyum.

Oh shooottt...!! Seketika saya bergegas bangun, panik, demikian juga teman saya, Indah. Kami bergegas merapikan barang-barang yang tercecer (charger, cemilan, majalah, dll) dan mengenakan jaket tebal, syal, sarung tangan dan kupluk sebelum mulai menggendong ransel kami.


Perjuangan mencari sebuah alamat

Sebuah ritual yang tanpa sadar kami selalu lakukan ketika pertama kali menjejakkan kaki di stasiun di suatu kota adalah "celingak celinguk", tengok kanan-kiri mencari tulisan "Exit" ataupun "Tourist information". Namun kali ini waktu untuk "celingak celinguk" berlangsung lebih lama dari biasanya. Yaaa gimana mau cepat, membaca tulisannya saja sulit. Semua papan petunjuk menggunakan huruf Cyrlic yang tidak kami mengerti sama sekali. Bertanya? Hohoho...itu pun sudah kami lakukan, namun dengan minimnya petugas yang dapat berbahasa Inggris, membuat proses pencarian arah berlangsung lebih lama.

Ketika akhirnya berhasil keluar dari stasiun, kami berencana menuju hostel dan harus mencari stasiun metro/subway terlebih dahulu. Dan perjuanganpun lebih heboh lagi. Kami masuk ke dalam stasiun metro di kedalaman sekitar 30 meter melalui beberapa elevator, dengan arus kerumunan orang yang bergerak cepat, setengah berlari. Dengan badan yang kami menggendong dua backpack besar dan tas tentengan membuat kami beberapa kali tersenggol dan terdorong di tengah arus orang-orang Moscow yang bergegas. Perjuangan tidak lebih mudah pula karena keterbatasan kami membaca petunjuk arah dalam huruf Cyrilic. Kami bertanya kepada petugas loket karcis dan dengan suksesnya di ping-pong ke beberapa orang karena mereka tidak bisa berbahasa Inggris. Dan ini terjadi beberapa kali. Frustrasi sangat.

Tapi akhirnya kami berhasil! Yeay! Setelah transit dua kali, kami tiba di stasiun metro yang ada di petunjuk hostel. Tapiiii....perjuangan belum berakhir, pemirsa! Begitu keluar stasiun, kami mengikuti petunjuk hostel, belokan demi belokan. Ketika dibilang bahwa hostel terletak di bangunan warna pink setelah belokan kedua, yang kami lihat adalah semua bangunan berwarna....pink! Hahahaha! Bengong sebengong-bengongnyalah kami berdua, tapi kami maju terus. Jalan pelan-pelan sambil melihat papan nama setiap gedung, namun ngga ketemu juga hostelnya. Kami bertanya pada polisi, bapak-bapak pekerja kantoran (yang keliatannya bisa berbahasa Inggris), tetap tidak ketemu. Dalam keadaan fisik yang menurun dengan gemblokan tas yang berat (depan belakang, total bisa 27kg!), udara yang sumpah dingin banget, perut lapar, saya minta untuk istirahat sejenak, menurunkan backpack di pinggir jalan. Ketika sedang khusuk mengaduk isi tas mencari counterpain, saya mendengar Indah berbicara dengan seorang pria. Saya menoleh dan langsung tersenyum geli "Jiaaaah, Indaaah...udah paling bisa deh ah!" tawa saya dalam hati. Indah sengaja mencegat satu cowok yang super ganteng banget dan bertanya arah. Modus!! Modus!! Hahaha...


Contoh petunjuk jalan dengan huruf Cyrilic yang entah apa artinya :)

Kami berjalan lagi, sampai kemudian kami berhenti sejenak di pertigaan, celingak celinguk, tiba-tiba ada seorang cowok bertanya "Are you guys lost? Are you looking for Godzila's?" Aaaahh...menyenangkan finally ada yang tahu tentang hostel tersebut. "The hostel is just down the corner, you see that signage?". Oalaaaahh...gedung yang ada papan nama hostel itu sudah kami lewati tadi, tapi karena nama hostel ditulis dalam huruf Cyrilic dan diletakkan di atas, manalah kami mengerti! :-D


Saya dan Indah di Red Square yang walaupun saat itu tidak turun salju tapi dingin mampus :(

Petualangan kami selama 2 hari di Moscow sangat menyenangkan dan untungnya tidak serempong saat kedatangan, terlebih dengan berbekal peta berhuruf 'normal' yang diberikan dari mas-mas di hostel. Cerita selanjutnya menyusul ya, tergantung mood untuk menulis :)

In the meantime, please enjoy the other two stories which have been published in my blog previously:
Here we come, Russia
Visa Rusia: difficult? Naaahh...still doable kok.





Wednesday, October 16, 2013

18 life lessons learned from traveling the world

I found the following writing is very inspiring and so real. The article is published on Hostelworld Facebook page and it was written by Matthew Kepnes in thoughtcatalogue.com.

************

I never thought I would still be nomadic. My original round-the-world trip was only supposed to last one year before I went back home, found a “real” job, settled down, and by now, be married, have a house, 2.5 children, and complain about my retirement fund to my friends.

Yet life took a decidingly different turn and here I am, seven years later, writing this from an overnight train to Copenhagen with the same desire to explore the world and no sign of stopping soon.

After so many years on the road, there are a few life lessons I’ve learned from travel that I never would have learned otherwise and I wanted to share with you today.

1. It’s not that hard.
Every day, people get up, go out the door to travel the world, and survive and thrive. Kids as young as 18 make their way around the world without any problems. All that worrying and fear I had before my trip was for naught – this traveling thing is a lot easier than people make it out to be. You’re not the first person to do it and there is a well-worn trail that makes it easy for first times to find their way. If an 18 year can do it, so can you.

2. You learn a lot of life skills.
People who travel a better adjusted and less socially anxious people and traveling around the world has taught me to how to be more social, be adept and more flexible, and, most importantly, understand non-verbal communication a lot better. It has made me more independent, more open, and, overall, just a better person. There’s no reason to be scared that you might not have “it” in you. You’d be surprised how often you’ll surprise yourself.

3. You are never alone.
It may seem scary just throwing yourself out there and talking to strangers, but we are all strangers in a strange land. At the end of the day, everyone is very friendly. It took me a while to get used to just saying “hello” to strangers, but now it seems like second nature. Everyone is just like you – they are alone in a strange place and are looking for others to be with. People travel to meet other people and that means you. Don’t be afraid to approach other travelers and locals. You’ll find that when you travel alone, you’ll never really be alone.

4. You meet some of your closest friends traveling.
Whether it was in a restaurant in Vietnam, on a boat in Thailand, or walking into a hostel in Spain, when I least expected (or wanted) to meet people was when I met the best and developed the longest lasting relationships. And even though you may not see them for years, you still end up at their wedding, Christmas dinner, or family celebration. Distance and time cannot break the bond you formed.

5. Relationships come and go on the road.
I’ve met lots of people on the road, including members of the opposite sex I’ve found attractive. But the nature of travel doesn’t always lend itself to long-term romantic relationships. It’s hard to make something last when everyone moves in different directions and holidays end. If you get too attached too often, you’ll have nothing but heartache as people come and go. But I’ve realized you need to simply enjoy your time together and live in the moment. Dwelling on the future will only keep you from making that leap.

6. But chase the ones you like.
Yet once in a while, you’ll find someone you really connect with. Meaningful romance on the road does happen. And when you have nowhere to be and no place to go other than where you want, sometimes there is no reason not to follow. Don’t force yourself to say another good-bye if you don’t have to. Pursue it even if the distance seems too vast and the circumstances not right, because you never know where it could lead or how long it might last because, once in a while you meet the one and when you do, you should do everything you can to stay with them.

7. It’s good to try new things.
I used to be a very rigid person, but traveling has helped me loosen up and expand my worldview. I’ve pushed myself to the limit, eaten new food, taken cooking classes, learned magic tricks, new languages, tried to conquer my fear of heights, and challenged my established views. Travel is all about breaking out of your comfort zone and enjoying all the world has to offer.

8. Be adventurous.
Doing the canyon swing was tough. So was jumping off the boat in the Galapagos. As was eating the maggots in Thailand and caterpillars in Africa. Then I got my butt kicked in Thai boxing. And, while I won’t do most of those ever again, I don’t regret trying new things. Scare yourself once in a while. It makes life less dull.

9. There is no such thing as a mistake.
No matter what happens on the road, it’s never a mistake. As was once said, “your choices are half chance, and so are everybody else’s.” When you go with the flow and let the road just unfold ahead of you, there’s no reason to have regrets or think you made a mistake. You make the best decisions you can and, in the end, the journey is the adventure.

10. Don’t be cheap.
When you travel on a budget and need to make your money last, it’s easy to be cheap. But why live like a pauper at home while you save so you can skip the food in Italy, the wine in France, or a sushi meal in Japan? While it is good to be frugal, it’s also important to splurge and not miss out on doing once-in-a-lifetime things. Who knows when you will get another chance to dive in Fiji?! Take every opportunity.

11. That being said, don’t be wasteful.
But remember you aren’t made of money, so don’t always feel like you need to party with your new friends every night or do every activity in a new place. Sometimes it’s OK just to sit around and relax or cook your own meal. Be frugal, but not cheap.

12. Drop the guidebook.
Don’t be so glued to a book. You can travel fine without it, especially with so many good alternatives on the Internet these days. You’ll buy it and hardly use it anyway. Just ask people for tips and information. That will be your best source of information, especially for those off-the-beaten track destinations and hole-in-the-wall restaurants that no one’s ever heard of but serve the best food you can imagine.

13. It’s never too late to change.
Even if you aren’t the traveler or person you want to be in your head, it’s never too late to change. Travel is all about change. The more you say “tomorrow,” the less likely it is that tomorrow will ever come. Traveling has shown me aspects of my personality I wish I didn’t have and also shown me I’m really lazy. I’ve always lived by the phrase “Carpe Diem” but sometimes I don’t really do it. It’s never too late though and realizing that has made being more pro-active a lot easier.

14. Relax.
Life is amazing. There’s no reason to worry. The universe unfolds as it should. Relax and just go with it. You can’t change the future – it hasn’t happened yet. Just make the best decisions you can today and enjoy the moment. Don’t get caught up trying to see all the “must sees.” There’s nothing wrong with spending a day playing games, reading a book, or lounging by the pool.

15. Learn more languages (seriously).
There’re some great benefits to not knowing the local language – like miming out “chicken” to let the lady know you want eggs for breakfast – but learning languages is very helpful when you travel, and works out great when you meet other travelers. There’s also nothing like surprising people by speaking their language. Moreover, knowing basic phrases will endear you to locals who will appreciate the fact you went the extra mile. You’ll find people will be much more helpful, even if you struggle to say hello.

16. Wear more sunscreen.
Seriously. Science has proven it helps, and with all that beach time you do when you travel, you could always use a little more. Being tan is great. Having skin cancer is not. SPF up.


17. People are good.
All over the world, I have encountered amazing people who have not only changed my life but have gone out of their way to help me. It’s taught me that the old saying is true – you can always depend on the kindness of strangers. My friend Greg taught me long ago not to be guarded against strangers. That experience when I first started traveling changed everything and when you travel with an open heart, unexpected goodness will happen. 99.9999% of the people in the world aren’t murders, rapists, or thieves. There’s no reason to assume someone is one. Sometimes people are just trying to be friendly.

18. There’s no such thing as must-see.
This is your trip. No one else’s. Everyone’s journey is their own. Do what you want, when you want, and for how long you want. Don’t let anyone tell you aren’t a real traveler for skipping the Louvre, avoiding some little town in Peru, or deciding to party in Thailand. This your journey. You owe no one an explanation.

I’ve learned more about the world and myself in the last seven years of travel than I had in the previous 25 years of my life. No matter what happens in the future, I know that travel has taught me life lessons I never would have learned had I stayed in my cubicle job.
Find a way to travel as often has you can to all the destinations you dream about.  They will change your life.


Monday, September 9, 2013

Brief itinerary: Scandinavia + Moscow

Here is my brief itinerary of the recent trip to Scandinavia and Moscow. The trip started on Feb 11 and ended on Feb 26, 2013. The detail story on each city / country will be linked to separate page - only after I finish the writing :-) Hope you will find this inspiring and useful. Scandinavia and Moscow are just too much to give a miss.


My trip starts from Copenhagen and ends at the same.



Day 1
@Copenhagen
Arrive in Copenhagen by Turkish Airlines (transit in Singapore and Istanbul).
Stay at Generator Hostel Copenhagen (DKK 180 / person / nite - 8 bed mixed dorm ensuite).
Go to city by Metro from Airport  to Kongens Nytorv, takes about 13 mins. The metro is available every 5 mins.
Highlights: Nyhavn waterfront, Storgat shopping area, Royal Palace and Little Mermaid >> see more at the bottom of this story page.

Nyhavn waterfront - one of Copenhagen's landmarks


Day 2
@Bergen, Norway
Fly by Scandinavian Airlines (SAS) from Copenhagen to Bergen, costs about SGD 154.
From airport, take a bus from the airport to the city (www.flybussen.no)
Stay at Marken Gjestehus (NOK 225/person/nite - 10 bed female dorm)
Just go around the city. It is simply beautiful. Go to fish market and get a lot of FREE fresh salmon tester :-)

One of the charming corner of Bergen

Day 3
@Bergen - Oslo on Norway in a nutshell

Book the ticket online and exchange the order confirmation with the ticket one day before (to avoid any long queue on the departure date). The trip from Bergen to Oslo takes about >15 hours, starting 07:00 AM to 10:30 PM. It includes train, bus, ferry and train. Best way to explore the Norwegian fjords and scenic rail journeys! Costs about NOK 1480/person.

View from ferry from Gudvangen to Flam...a great fjords experience.

Day 4
@Oslo
Stay at Anker Hostel (NOK 220/person/night - 8 bed mixed dorm)
From train station, walk up to the hostel, about 15 mins.
For me, Oslo is not so much interesting city to walk around. So I just spent the day strolling around the city without nothing specific to be of interest.
Go to Stockholm by night bus in the evening (approx. IDR 597,000). I don't really recommend it if you are too tired as you will need to get off the bus at the border for immigration check in the middle of the night and also change a bus once, However, it was a nice trick to save time.

Day 5
@Stockholm
Read more the story in "Discover Stockholm"

Day 6
@Stockholm
Read more the story in "Discover Stockholm"

Day 7
@Rovaniemi (via Helsinki)
Fly Norwegian Airlines (EUR 50)
Read more the story in "Rovaniemi (part 1):...where a great adventure awaits"
and the other one "Rovaniemi (part 2): Adventure in artic circle"
Stay at local host of Couchsurfing (or find out more about this network here)

One of the great view in the deep forest of Rovaniemi
Day 8
@Rovaniemi
Read more the story in "Rovaniemi (part 1):...where a great adventure awaits"
and the other one "Rovaniemi (part 2): Adventure in artic circle"
Arrive in Helsinki - shopping time :-)

Day 9
@Helsinki
Fly Norwegian Airlines (EUR 57)
Stay at Errotajanpuisto Hostel (EUR 27/person/night - 8 bed mixed dorm)
From airport, take bus no. 615 to central railway station, then take tram no. 6 or 3B, or bus no. 17, stops at ERROTAJA, or just walk. You will pass so many interesting things along the way. It takes approx. 15 mins from station to hostel.

Shopping time - boot/shoes hunt :-)

Depart to Moscow in the evening by train Tolstoy. You can book through Eurail in Jakarta representative office.

Day 10
@Moscow
The immigration check at the border can be an interesting experience. Read more my experience in "Here we come, Russia". and also how to get the Russia visa "Visa Rusia: difficult? Naaahh...still doable kok"
Stay at Godzilas Hostel (USD 28/person/night - 6 bed female dorm)

St. Basil's Cathedral at Red Square

Go to Red Square, St. Basil's Cathedral, relax at the Kremlin's park and have a nice coffee and snack at a café at Red Square, stroll around one small shopping mall next to the red square (to get some warmth).

Dine in one nice local restaurant (I can't remember the name), located at near the metro station. Some said that going out to eat in Moscow can be quite expensive. Well..it does not have to be that way.. We went to this nice place as recommended by the hostel staff. It had reasonable price and the taste was ok. The interesting part is that it was buffet with the food name in Russian letters and the staffs hardly spoke a word of English :-)

Cozy restaurant serving local food.


Day 11
@Moscow
Go to Cathedral of Christ the Savior, go to inside the Kremlin
Fly to Copenhagen in the evening (via Riga, Slatvia), by Air Baltic.
Stay at Generator Hostel Copenhagen.

We took taxi from the airport as we landed after midnight and were too tired to take train. Costs about IDR 600,000.

You may need to prepare your passport, visa, insurance and all travel documents with you as the immigration check point will be in Riga, and they have quite thorough and stringent check.

Day 12
@Copenhagen

Royal palace guard change procession passing through the Storgat area.

Shopping time at Storgat (5 mins walk from Generator Hostel). At around 12 o'clock, there will be a palace guard marching in along the way to the royal palace, a very interesting show.

Peter Jones and his great performance

I strongly recommend you to go to a roundabout in the middle of Storgat to see the performance of Peter Jones, a singer who has adorable voice and great songs! This was actually one of my best moments during the trip.

You can take canal tour at Nyhavn, take you around the city from outer circle.

Danish traditional serving, enjoy it with a nice glass of red wine... hmmm... what a treat!
A nice dinner is worth taking at one of cafes at Nyhavn, try the Danish traditional serving (it includes pork inside) and local wine (or beers).

Take a trip to Carlsberg museum.

If the weather is nice, try to go around the city by bike.

Day 13
Fly back home (transit 12 hours in Istanbul).
Wait for more story about Istanbul separately.


Sunday, September 8, 2013

Rovaniemi (part 2): Adventure in artic circle

“Good morniiiing… how’s your sleep? I hope I didn’t snore” suara Rita menyapa tepat ketika saya membuka mata. Rita adalah teman Esther, host Couchsurfing kami di Rovaniemi, Finland. Saya dan Indah, my travelmate, memanfaatkan jaringan Couchsurfing dan tinggal di rumah penduduk lokal. Kebetulan saat itu Rita juga sedang menginap karena terlalu malam untuk pulang setelah mengerjakan tugas kuliah mereka. Alhasil, jadilah kami bertiga tidur di ruang tengah dengan kasur lipat dan selimut tebal. Nyaman dan hangat :-)

“Hoaaahhmm… I think I slept like a baby. I didn’t even realize you were snoring…were you?”  sapa saya masih setengah ngantuk dan sambil mengucek mata, mencoba mengumpulkan segenap nyawa saya yang sebelumnya berkelana kemana-mana. Saya masih enggan untuk beranjak dari balik selimut yang hangat. Di luar salju turun kembali namun matahari bersinar cukup terang. Semoga hari in cuaca bersahabat.

“Hahaha…you did really sleep like a baby then. So what dyou guys plan to do today?” tanya Rita sambil menghirup kopi hitam dari cangkirnya.  Saya dan Indah tersenyum penuh arti.
Agenda saya dan Indah hari itu sudah pasti sangat padat (taelah! Gaya benerrr!). Buat saya pribadi, Rovaniemi adalah salah satu highlight dari seluruh Scandinavia + Moscow trip ini. Several excited plans were just about to begin! Ahay!
Setelah mandi dan sarapan, saya dan Indah dengan diantar oleh Esther bergegas menuju markas “Lapland Safaries” di tengah kota. Kami berjalan kaki di atas tebalnya salju dan dinginnya udara, namun dengan sinar matahari yang terlihat cukup rendah, sangat berbeda dengan matahari yang biasa saya lihat berada di atas kepala. Matahari di Rovaniemi terletak hanya sekitar 45 derajat, mungkin karena letak kota ini yang dekat dengan kutub utara. Rumah Esther terletak tidak jauh dari stasiun, sekitar 20 menit berjalan kaki ke tengah kota.

Tiba di Lapland Safaries, kami nyaris ketinggalanl rombongan. Iya sih, salah saya juga, terlalu mepet berangkatnya dan terlalu menggampangkan karena berpikir kota ini kota kecil, pasti deketlah kemana-mana. Itupun untung ada Esther yang menunjukkan jalan pintas.

Meet “Badrun” the not-so-red nose reindeer
Tiba di “Lapland Safaries”, kami diminta mengenakan pakaian khusus, sebuah overall, kaus kaki tebal  dan sepatu booth dengan sol cukup tebal, sementara sarung tangan dan topi kupluk tetap dipakai. Cukup hangat. Setelah itu, kami berangkat menuju peternakan rusa dengan mini van, yang berjarak sekitar 15 menit, ngga begitu ingat persisnya. Peternakan ini terletak di pinggir kota dan jauh dari peradaban.  Begitu tiba, saya lihat ada sekitar 10 rusa yang sudah siap terikat dengan kereta kayu di belakangnya.

Reindeer farm

Satu kereta memuat dua orang penumpang. Satu duduk di muka dan yang lain di belakang, dan keduanya harus duduk dengan kaki selonjor. Penumpang di depan akan memegang tali kendali, yang jika diulur maka memberikan ijin si rusa untuk berlari, sebaliknya jika tali ditarik maka itu tanda si rusa harus mengerem kecepatan. Saya duduk di muka, sedangkan Indah di belakang. Kaki kami berdua ditutup oleh sebuah selimut untuk menahan dinginnya udara terbuka. Setiap kereta kayu terikat dengan tali panjang dengan kereta kayu di depannya sehingga tidak ada yang keluar dari jalur. Alrite! We’re all set! Yeay… perlahan kereta kami mulai berjalan membelah hutan pinus yang diselimuti salju yang sangat putih dan berkilauan. Rombongan kami di kawal oleh dua orang ‘pawang’ yang memberikan komando di depan dan menjaga rombongan. Beberapa kali rusa diajak berlari dan kereta pun meluncur dengan cepatnya, whoooohooooo….!! Saya dan Indah berteriak seru, kegirangan! Hahaha…iyaaa, iyaa norak yaaa…biariiiinn….seruuuu banget…


Saya dan Indah riding a reindeer sleigh into the deep forest of Rovaniemi. Marvelous!
 
Beberapa kali, saya dan Indah berkomentar “Ndah, ini beneran ya, kita beneran liburannya yah….” Atau “Cid, ini kok kayak mimpi ya, ini beneran kayak di film ya…” Hahahaha…juara deh noraknya! Biareeeennn….

Oiya, karena kereta ditarik beriringan dengan jarak berdekatan, posisi rusa di belakang kami berada cukup dekat dengan kepala dan muka kami, terutama jika laju kereta sedang melambat atau berhenti. Tapi entah kenapa ya, ketika rusa lain cenderung menjauhkan kepala dari penumpang di depannya, berbeda dengan rusa di belakang kami yang seneng banget dekat-dekat dengan kepala dan muka kami….iiih! Dan karena badungnya rusa ini, kami beri nama Badrun. Jadi sering tuh di jalan, kami sibuk ngomel “Badrun, make some space, will you?” ….atau “hey Badrun, sana deh ah, ngapain sih nyruduk-nyruduk”….atau “Ye, si Badrun,  ga usah ganjen deh ya deket-deket, hush hush…”. (Indah, dapet salam dari Badrun!)
Ini beberapa pemandangan sepanjang perjalanan.... simply amazing!

Pasukan reindeer sledge menembus hutan pinus dan tebalnya salju
 
Salju di sini putih bersih dan mengkilat, matahari berada cukup rendah, sekitar 45 derajat
All is white...beautiful!
 

Dog sledge….whohoooooo!!
Setelah beberapa saat, kami tiba di peternakan huskies (anjing kutub). Setelah diberi penjelasan singkat mengenai huskies, kami diijinkan untuk berkeliling peternakan dan mencoba dog sledge.
Dog sledge....whohooooo...!!

Apa itu dog sledge? Dog sledge mirip dengan kereta rusa, namun bedanya ditarik oleh anjing yang berlari, sementara rusa berjalan pelan (ataupun kalau berlari tidak sekencang huskies). Selain itu, design keretanya memungkinkan kita memilih untuk duduk dalam kereta atau berdiri dengan memegang tali kendali dan rem. Jika kita memilih untuk duduk (yang menurut saya ngga terasa fun), maka harus ada seseorang yang berdiri di belakang sebagai pengendali, namun jika kita memilih berdiri, maka tidak ada yang duduk pun, tidak apa, malah enak karena tidak ada beban tambahan maka anjing bisa semakin cepat berlari. Saya memilih untuk berdiri di belakang. Empat ekor anjing (dua jantan di depan dan dua betina di belakangnya) pun berlari kencang sekali dalam putaran lintasan yang sudah ditentukan dan kereta saya pun meluncur dengan kencangnya. Whohooooo… seru banget!! Saya berpegang erat pada tali kekang dan memastikan pijakan kaki saya tetap solid pada tempatnya, jika salah maka bisa-bisa kita terlempar dari kereta. Jangan takut, kalaupun terlempar, kita hanya akan terjerembab di tumpukan salju kok, tapi kan ngga seru aja…dan malu, cuy!  Kita hanya tinggal menekan pedal rem untuk menghentikan laju lari huskies dan kereta pun berhenti  dengan bantuan beberapa pawang. Wuaah… pengalaman yang seru banget!

Berada di udara terbuka dengan suhu yang mungkin mencapai minus 10-15 selama beberapa jam membuat mulai kami mulai kedinginan. Untungnya ada pondok kayu tertutup yang disediakan di tengah peternakan dan dengan api penghangat di tengahnya. Kami menikmati jus beri panas dan kue kering jahe yang nikmat sekali.

Menghangatkan diri sejenak di dalam pondok kayu, sembari menikmati jus beri hangat dan kue jahe yang yummy.

Setelah cukup hangat, kami keluar pondok dan berkeliling melihat beberapa huskies lainnya dengan diwanti-wanti untuk tidak menyentuh huskies yang berada dalam kurungan karena mereka sedang hamil dan bisa menggigit jika disentuh. Huskies lainnya cukup tertambat di pohon dan sangat jinak. Kami bisa memeluk dan mencium dengan bebasnya, dan ngga bau lho. Bulu mereka bersih dan mengkilat sehat. Setelah puas berkeliling dan berfoto, kami kembali ke kereta rusa untuk pulang ke peternakan rusa. Di perjalanan, kami sempat berpapasan dengan rombongan pengendara snowmobiles, mirip dengan jetski tapi berjalan di salju. Keliatan cukup seru. Jadi pengen…hmmm…
Salah satu husky yang jinak dan bulunya cantik sekali (dan ngga bau!)


 Let’s go meet Santa Clause
Perjalanan itu berakhir dengan suatu excitement yang luar biasa, yang bikin makan siang saya dan Indah penuh dengan komentar seru dan gelak tawa. Setelah menghabiskan satu porsi besar pizza (EUR 7) per orang (masing-masing, bukan share ya! Laper, man!), kami bergegas menuju halte bus. Perjalanan kami berikutnya adalah… Santa Clause Village! Yeay!

Pondok utama di Santa Clause village

Dengan ongkos EUR 2.4 sekali jalan, kami naik bis menuju Santa Clause Village, sekitar 30 menit dari tengah kota. Santa Clause village pada dasarnya adalah suatu “desa” dengan suasana natal yang amat kental. Ada beberapa pondokan dengan satu pondok utama sebagai markas besar Santa Clause. Well, beneran ada sih Santa Clause nya tapi bedanya dia tidak bagiin hadiah secara gratis ke anak-anak melainkan menyediakan toko-toko merchandise serba Lapland yang sangat menarik, dan ngga gratis tentunya. Semua toko ini dihias dengan elemen natal, menciptakan suasana yang menyenangkan sekali. Pertahanan saya jebol juga untuk ngga membeli apapun, setelah melihat satu blazer merah dengan ornamen bunga yang dijahit cantik dan dengan model unik (udah kartu mati banget buat saya kalau lihat pernik warna merah, jarang untuk ngga jatuh cinta), dan beberapa fridge magnet yang lucu-lucu.
Berbagai toko souvenir bertemakan Natal yang lucu-lucu. Walaupun agak mahal, namun barangnya sumpah lucu banget! Banyak doa ya sebelum masuk toko, supaya ngga kalap :)

Di halaman pondok utama itu ada boneka salju raksasa yang asli lho terbuat dari salju (ya iyalah, menurut ngana?). Ada juga satu gundukan salju dimana anak-anak bermain perosotan dengan satu papan kecil. Seru banget. Saya pingin banget sebenernya untuk ikutan meluncur dengan papan itu, tapi berhubung itu untuk anak-anak dan ada kemungkinan papan itu patah dengan berat badan saya, akhirnya saya cukup tahu diri untuk hanya berdiri di sampingnya sambil ikutan teriak-teriak seru dengan anak-anak kecil tersebut.

Oiya, di Santa Clause village ini tersedia kantor pos dimana kita bisa mengirimkan kartu natal ke manapun  dan siapapun, dengan prangko yang di cap khusus dari Santa Clause Village. Kartu natal ini akan dikirim menjelang natal.  Dan juga, karena letaknya di lingkar kutub (artic circle), maka ada garis yang menandakan keterangan lintang dan bujur bumi dimana kita berdiri. Wow!
Senja di Santa Clause Village


Setelah puas berkeliling dan mengambil foto-foto cantik (banyak banget sudut-sudut yang tampak cantik di foto, baik view dan mataharinya), saya dan Indah menuju ke halte bis untuk kembali ke tengah kota, ke tujuan selanjutnya Artic Museum.

By the way, tidak ada biaya masuk ke Santa Clause village dan tempat ini buka jam 10:00 dan tutup jam 17:00. Pastikan kamu tidak tertinggal bis yang terjadwal secara tepat waktu.

Artic museum
Sayang sekali, museum ini sudah tutup ketika kami tiba, huhuhu….padahal kami penasaran banget pingin tahu cerita-cerita seperti apa jaman es dulu, secara real di tempat yang memang sumbernya. Akhirnya kami cukup puas menonton suatu eksibisi dari suatu komunitas (mungkin mahasiswa jurusan seni) yang menampilkan berbagai seni rupa, umumnya patung dari es dengan bentuk yang unik. Mereka bahkan membuat tempat duduk ala teater yang bertingkat dari es lho! Patung-patung itu diberik efek cahaya warna-warni menghasilkan suatu kombinasi yang sangat apik.

Artic museum sisi teras / luar


Nyasaarrrr….!
Malam itu kami janjian dengan Esther untuk bertemu di satu meeting point, untuk acara barbeque-an di pinggir danau yang membeku sambil menunggu tengah malam untuk melihat Aurora Borealis. Untuk menghabiskan waktu, ehem…kami belanja, hehe! Cewek lah ya, ngga sah kalau ngga ngintip ke konter H&M dan beli sepotong dua potong dan berakhir 4 potong baju…dan juga sekantong plastik penuh coklat khas Finlandia yang tidak kalah enaknya dengan coklat Swiss.

Setelah puas belanja, kami memutuskan untuk kembali ke apartemen untuk leyeh-leyeh karena waktu masih menunjukkan pukul 9 malam, sedangkan kami janjian dengan Esther jam 22:30. Masalah yang kemudian muncul adalaaaahh…kami nyasar! Hahaha! Maklum, tadi pagi waktu berangkat kami berjalan buru-buru dan dipandu Esther melalui ‘jalan tikus’ yang kami tidak ingat. Berpegang pada peta juga tidak terlalu manjur, akhirnya kami bertanya ke mas-mas yang berpapasan di jalan, seorang anak muda dengan pakaian training suit dan menyandang gym bag – pasti habis nge-gym ya, Mas? (menurut loh??). Instead of telling us the direction to the train station, mas ini malah menawarkan untuk mengantarkan kami. What??? Saya dan Indah pandang-pandangan, hmmm…aman ngga ya? Beneran baik ngga ya orang ini? Gimana kalau nanti kami diculik? Terus disekap? Terus dijual? Hehehe…lebay sangat! Akhirnya kami sepakat untuk menerima tawaran mas itu. Dia mengajak kami ke tempat parkir mobil di apartemen ceweknya (Huuuuu….penonton kuciwa) dan dengan mobilnya diantarlah kami menuju stasiun yang tidak jauh dari apartemen Esther. Amaaaann.... pheeeew...

Apartemen Esther terletak di gedung yang agak ke belakang dari komplek dan untuk ke sana, kami harus melalui suatu jalan setapak yang sepi. Saya dan Indah berjalan beriringan, dan tiba-tiba Indah berbisik "Jangan kaget ya, Cid...loe terus aja jalan, jangan noleh...di belakang kita ada cowok rambut gondrong ngikutin kita...loe siapin aja kunci pintu biar kita bisa langsung masuk". Aaaahh...saya langsung deg-deg an. Tempat sepi, asing, gelap dan ada orang asing ngikutin kami jalan. Terdengar gasrukan langkah kakinya di tengah jalan setapak yang berlapis salju itu. Saya dan Indah agak terbirit buka pintu dan langsung masuk, berpapasan dengan seorang cewek yang keluar dan ternyata menemui cowok itu! Ooo temennya! Hahahaha... parno tingkat menteri! Lupa kalau ini negeri jauh lebih aman daripada kampung halaman sendiri...hihi..

Next time ya, Astrid…next time..
Jam 22:00 kami beranjak dari apartemen menuju gereja dekat stasiun sebagai meeting point dengan Esther yang langsung menuju ke sana selepas ia bekerja. Selain mahasiswa S2, Esther juga nyambi bekerja di suatu travel agent. Udara malam itu luar biasa dingin. Buat saya pribadi, kelemahan saya adalah telapak tangan. Mau setebal apapun sarung tangan, tetap dinginnya terasa sampai ke ujung-ujung jari. Bolak-balik saya meniup telapak tangan saya dari ujung sarung tangan di pergelangan tangan, mencoba memberi hawa hangat ke telapak tangan.

Setelah bertemu Esther, kami berjalan menuju ke danau yang beku, dimana di tepiannya telah disediakan beberapa pondokan kayu dan tempat untuk api unggun, lengkap dengan potongan-potongan kayu. Rencananya kami akan membuat api unggun sebagai penghangat badan sambil menunggu datangnya Aurora Borealis.
Beberapa potong sosis dan jagung sudah siap untuk dibakar, teh panas juga sudah siap di termos dan beberapa buah plum untuk tambahan cemilan. Esther dan Indah memilih kayu yang kering dan berusaha menyalakan api dari kayu tersebut, saya membantu dengan memegang lampu senter dan sobekan kertas. Setelah beberapa kali mencoba, Esther sempat kesal sendiri, api tetap tidak mau nyala karena kayu dalam keadaaan lembab. Dan tidak mungkin kami berdiri di tempat itu dalam cuaca yang sangat dingin (belakangan kami cek di apartemen, suhu saat itu adalah minus 21 derajat, pantesaaaann dingin mampus!). Saya dan Indah dalam dilema, antara setuju dengan saran Esther untuk balik ke apartemen atau nekat tetap di tempat itu karena kami yakin malam itu Aurora Borealis akan muncul, terlebih Esther cerita di malam sebelumnya cahaya itu muncul. Tapi akal sehat kami menang, kami memutuskan untuk nurut balik ke apartemen, walaupun dengan hati kuciwa (sangat!).

Kami berjalan dengan langkah cepat, berlomba dengan udara dingin yang membuat ujung-ujung jari kami mulai membiru dan terasa sakit. Kembali ke apartemen adalah keputusan yang tepat, jika tidak, bisa jadi kami akan terkena frostbite dan bisa berakibat fatal – konon katanya bisa mengakibatkan amputasi jari karena jaringan yang mati akibat membeku. Untuuuuungg…! Namun, sembari berjalan, saya dan Indah tidak bisa menyembunyikan harapan kami. Bolak balik kami melihat ke belakang, ke atas langit, sambil berdoa semoga Aurora itu berbaik hati dan menampakkan sedikiiiiit saja sinarnya, tapi ternyata tidak.  *sigh* Next time ya, Astrid… next time.
Tiba di apartemen, kami langsung bergulung dalam selimut tebal, menyalakan pemanas dan meminum secangkir teh panas. Walaupun kecewa tidak bisa melihat Aurora Borelis, namun malam itu kami lewatkan cukup berkesan. Kami bertiga mengobrol seru sampai jam 2 pagi, mulai dari berbagi impian dan cerita lalu, hingga harapan untuk bertemu lagi di Belanda suatu saat ketika Esther menggelar acara Bachelorette party – with or without a groom-to-be! What a brave decision, girl! Salut!

Rovaniemi (part 1): …where a great adventure awaits!

“Cid, bangun, Cid. Sebentar lagi kita landing,”  bisikan teman saya, Indah membangunkan saya dari tidur dalam sebuah penerbangan ke Helsinki, Finlandia. Saya menggeliat sejenak, lalu melihat jam tangan yang menunjukkan pukul 8:30 pagi. Sepertinya cukup lama juga saya tertidur, mencoba membalas dendam kekurangan waktu tidur malam karena harus bangun jam 3 pagi untuk bergegas menuju bandara Arlanda di Stockholm dan mengejar penerbangan pukul 6:30 pagi. Saya tersenyum sendiri mengingat pengalaman pagi itu. Saya dan Indah berjalan kaki menembus udara musim dingin di tengah langit yang masih gelap, dari hostel menuju terminal bis yang berjarak sekitar 1 km. Untunglah pakaian lapis tiga kami cukup menghangatkan. Stockholm masih sepi dan gelap, dengan backpack 65 liter di punggung dan sebuah daypack di panggul di dada. Kami berjalan beriringan, sembari sesekali bertukar canda.

Suara awak kabin memberitahukan jika pesawat akan mendarat sebentar lagi dan mengingatkan penumpang untuk mengencangkan sabuk pengaman. Pandangan saya beralih ke jendela pesawat di sisi kanan saya. Nafas saya seolah berhenti. Sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan. Saya tepuk lengan Indah tanpa melepaskan pandangan saya dari pemandangan di luar jendela. “Ndah, Ndah…keren, Ndah!” seru saya. Indah pun tersenyum dalam takjub. Di bawah sana terbentang daratan luas yang hampir seluruhnya berwarna putih, menyisakan sedikit bagian berwarna hijau. Sejauh mata memandang hanya hamparan salju. Bumi tampak bulat dan saat itu kami berada cukup dekat dengan kutub utara.
Begitu keluar dari bandara, kami bergegas mencari bis nomor 61 atau 61V yang akan membawa kami ke stasiun dan juga terminal bernama Tikkurila untuk kami melanjutkan perjalanan menggunakan kereta selama kurang lebih 10 jam menuju sebuah kota di belahan utara Finlandia bernama, Rovaniemi. Kami menumpang kereta yang dapat dipesan online sebelumnya di link ini. Tiket dari Helsinki Airport - Tikkurila (Bus) dan Tikkurila - Rovaniemi (train) saya beli seharga EUR 70.98. Sedangkan pulangnya Rovaniemi - Helsinki menggunakan Norwegian Airlines dengan harga kurang lebih sama.

Lagi-lagi kami dibuat takjub oleh pemandangan di sepanjang jalan. Semua serba putih, tertutup salju yang cukup tebal -jalan-jalan, trotoar, papan reklame di sisi jalan, pucuk pohon, semua tertutup salju, dan menyisakan sedikit pada ujung-ujungnya. Saya menyadari salju di sini berbeda dengan salju yang saya lihat di kota-kota lain, yang berwarna putih pekat. Salju disini berwarna putih bersih dan mengkilat!

Pemandangan sepanjang perjalanan kereta menuju Rovaniemi pun tidak kalah menakjubkan. Hutan pinus, padang rumput dan rumah tradisional yang tertutup salju, membuat mata saya merekam semua keindahan itu dan menyimpannya dalam hati saya hingga kini. “A very beautiful winter…Tuhan, terima kasih ya”, bisik saya dalam hati.



Ketika musim semi menawarkan suatu keceriaan dan suka cita yang menggegap, musim panas memberikan suatu semangat baru, dan musim gugur menampilkan kesenduan, saya sangat menyukai musim dingin. Buat saya musim dingin menyimpan suatu misteri tersendiri. Seperti ada suatu kesunyian yang sangat damai, suatu balutan keindahan yang menghangatkan hati, suatu bisikan yang bersahabat, suatu kedamaian yang murni, yang saya ingin simpan dalam sebuah kotak di hati saya dan saya kenang kembali seperti saat saya menulis ini.

Rovaniemi. Sebuah kota di belahan utara Finlandia yang tak sengaja saya temukan di beberapa website ketika mencari referensi tempat terbaik untuk mencoba keberuntungan bertemu dengan Aurora Borealis atau juga  dikenal dengan The northern light.  Rovaniemi – walaupun kota kecil -  merupakan  ibu kota region Lapland. Butuh beberapa kali usaha bagi saya untuk dapat mengingat dan melafalkan nama kota ini dengan benar “R-o-v-a-n-i-e-m-i”
Perjalanan 10 jam dengan menjadi tidak terasa ketika kami disuguhkan suatu kenyamanan, dan free wifi tentunya, jadi ngga mati gaya! Hahaha…untungnya saya dan Indah bukan tipe orang yang menjadi autis dan adiktif dengan gadget. Kami menikmati pemandangan di sepanjang jalan, sibuk mengambil foto, mendengarkan music, tergelak dengan candaan konyol kami, merasa nyaman dalam keheningan, bertukar cerita hati dan kesibukan ngemil yang tiada henti, dan juga akhirnya….tidur!

 
Sekitar jam 8 malam kami tiba di Rovaniemi, yang merupakan pemberhentian akhir kereta. Di Rovaniemi, saya dan Indah menginap di sebuah rumah (atau apartemen lebih tepatnya) dari host couchsurfing, namanya Esther. Ia mengatakan akan menjemput kami di stasiun dan saya memberikan ciri-ciri warna jaket dan backpack kami untuk identitas. Esther seorang wanita warga negara Belanda, seusia kami dan sedang menempuh kuliah S2 di University of Lapland. Banyak cerita yang sangat berkesan mengenai perjumpaan kami. Cerita detailnya terpisah ya (masih dimasak ceritanya).
Malam itu kami habiskan dengan obrolan yang cukup seru, terlebih ada seorang teman Esther yang juga menginap karena habis mengerjakan tugas kuliah bersama dan terlalu malam untuk pulang ke rumahnya. Obrolan berlangsung hingga tengah malam, menghabiskan beberapa cangkir teh dan cemilan “Puulah” ala Finlandia. Saya, Indah dan teman Esther tidur di ruang tengah, dengan menggelar kasur lipat. Sangat nyaman dan hangat. Sebelum tidur, saya dan Indah sempat memandang sekilas ke luar jendela, berharap melihat sekelebat Aurora Borealis, namun tentu saja cahaya ini jarang dapat dilihat di tengah kota. Kami tidur dalam senyum, tidak sabar menunggu datangnya pagi dan memulai petualangan kami di kota yang yang konon menjadi markas Sinterklas….hohoho!! Simak petualangan kami di “Rovaniemi part 2: Adventure in artic circle”