Friday, November 20, 2015
Suatu siang di sebuah rumah sakit di Penang
Maaf yak, sekiranya kalimat demi kalimat terasa membosankan, plus tidak ada gambar atau foto pendukung :) Tulisan ini merupakan gambaran atas apa yang saya lihat menarik. Ada nilai dan perasaan yang mendalam, yang tersampaikan lewat bahasa tubuh orang-orang yang saya lihat. Monggo silakan dibaca dan semoga tidak ketiduran di tengah bacaan :)
Ada seorang ibu berkaca mata yg duduk terdiam di sudut ruang tunggu pasien. Mengenakan kemeja putih bersih dan rok lebar berwarna biru pupus, ia memejamkan mata dan mengatupkan tangan di dada dengan mulut komat kamit memanjatkan doa. Matanya terpejam. Ia seolah menyatu dalam panjatan doa yang dibungkus dengan begitu kuatnya pengharapan akan terkabulnya doa tersebut.
Di seberang tempat duduk ibu tersebut, ada seorang pria tua di kursi roda berkemeja kotak-kotak hijau dan biru, serta celana pendek berwarna khaki. Usianya mungkin sekitar 60 tahunan. Tatapannya kosong menatap ke depan, tangannya lemah memegang plastic kresek putih bertuliskan nama sebuah apotik. Di sampingnya, seorang wanita muda, mungkin anaknya, terus membisikkan sesuatu di dekatnya dengan tangan kanannya menggenggam lengan sang bapak, mungkin memberikan kekuatan. Sementara seorang wanita paruh baya, mungkin istri bapak itu, merangkul bahu sang bapak dan menopangkan dagunya di pundak, seperti ingin memberikan rasa aman dan tenang pada sang bapak. Atau mungkin ia yang mencoba mencari kekuatan dari bapak itu.
Ada seorang suami istri berusia sekitar 50 tahun, bergandengan tangan menuju deretan bangku di ruang tunggu dokter tulang. Sang suami menjinjing tas coklat istrinya dan tak lama mereka duduk berdampingan dengan lengan sang istri tetap bergelayut di lengan suami, seakan entah mencari atau memberi kekuatan. Keduanya duduk terdiam menunggu giliran dipanggil masuk ke ruang dokter.
Seorang pemuda India berkemeja biru tua duduk menopangkan tangan di lututnya, tatapannya kosong menatap lantai. Ia sendiri dan termenung. Kesedihan, kebimbangan dan keputusasaan tergurat di wajahnya.
Suster-suster berseragam rok terusan selutut berwarna biru muda dengan jaket tanpa lengan berbahan wol berjalan gesit ke sana kemari, memanggil pasien, menyerahkan laporan ke counter, menghubungi bagian lab, dll. Itu mungkin sebabnya mereka semua mengenakan sepatu keds hitam, yang memudahkan mereka bergerak lebih nyaman. Suara mereka lantang dgn gaya bicara yang sangat cepat, secepat mereka berganti bahasa dari/ke Melayu, Inggris, Mandarin dan India, menyesuaikan dengan pasien. Luar biasa!
Seorang ibu muda mencoba menenangkan putrinya yang lincah berlarian di sepanjang lorong rumah sakit. Sang putri dengan kaus pink bergaris hijau muda dan ungu serta rok bewarna senada terlihat riang dengan sebuah boneka beruang putih kecil di tangannya. Sang ibu berulang kali memperingatkan sang putri untuk tidak berlarian dan berteriak-teriak, namun tidak begitu sukses usahanya.
Seorang dokter jantung, pria berusia sekitar 35 tahun dengan jas putih panjangnya keluar dari ruang prakteknya dengan langkah tergesa-gesa menuju lift. Wajahnya begitu tegang. Sepertinya ada kejadian gawat darurat yang harus segera ditangani.
Sepasang anak muda berusia sekitar 30 tahun dengan saling bergandeng tangan keluar dari ruang praktek seorang kardiolog. Senyum lebar menghias wajah keduanya. Sang wanita berkata sesuatu dengan riangnya, dan sang pria menanggapi dengan senyum dan gelak ringan yang tak kalah menyiratkan sukacitanya.
Seorang gadis muda dengan celana jeans 3/4, bersepatu sandal karet biru muda dan kaus tangan panjang pink, duduk di pojokkan dengan hp di tangan. Jari-jari kedua tangannya terlihat lincah mengetik, dengan sesekali wajahnya mengamati sekelilingnya. Ia seakan mencoba merekam semua yang terjadi di sekelilingnya dalam sebuah aplikasi memo pad. Kadang ia tersenyum sendiri, sebelum kemudian menatap sendu dan kemudian merengutkan wajah mencoba menebak dan mengerti apa yang ia lihat. Wanita itu terlihat relaks tapi tetap siaga akan panggilan sewaktu-waktu dari suster di ruang praktek ortopedik. Wanita itu adalah saya... :)
Buat saya berada di suatu tempat umum / fasilitas publik selalu menawarkan pemandangan yang menarik, khususnya tentang manusia.
Tak terhitung banyaknya cerita yang tersimpan di balik segurat senyuman, atau dalam sebuah lamunan, tatapan mata kosong, genggaman tangan, pelukan di bahu, gelak sukacita, teriak amarah dan lain-lain. Tak terlampaui kilatan masa yang terjadi dalam cerita tersebut. Tak mampu terekam sosok yang pernah hadir dan pergi dalam rentang masa tersebut.
Siang itu, berpindah dari ruang tunggu pasien ke ruang tunggu lain di rumah sakit itu, saya melihat setiap sudut seakan menjadi tempat berkumpulnya harapan, kesedihan, kehilangan, keputusasaan namun juga kebahagiaan akan menemukan suatu asa, yg setipis apapun tetaplah keindahan hidup.
Ya, hiduplah ada misteri dengan berjuta cerita. Baik? Buruk? Tidak ada yang tahu.
Tuesday, January 24, 2012
Words: to heal or hurt?
Lately I've been hearing stories from friends about how they got so upset with the people (boss, lovers, peers, siblings, etc) who got so easily saying hurtful words, and the next minutes asking for an apology (or even not), but the things kept recurring. It brought my mind about a story.... This is the story:
There was a boy who often loses his temper and shout hurtful words. The father was worried so he tried to explain it through actions. One day he handed his son a bag of nails, asking the boy that each time he loses his temper and shouts hurtful words, he must hammer a nail into the back of the wooden fence in their yard. On that first day, 37 nails went into the fence. Over the next few weeks the boy began discovering it was easier to hold his temper and his tongue than trek all the way out to the back fence and pound those nails into the fence.
After some time the boy proudly approached his father and announced he had not lost temper at all for several days. His wise father suggested his son pull out one nail for each temper-free day. Finally, boasting that all the nails were gone, the boy takes his dad's hand and leads him to the fence without nails. "You have done well, my son. Now look at the holes in the fence. It will never be the same. When you say things in anger your words leave scars, just like these holes."
We may have heard some people try to justify, rationalize or excuse their harsh words and disrespectful attitudes by saying "Oh, that was not a big deal, I didn't mean it", or "Aah, you're just too sensitive, relax, don't take it so seriously", or "Well, that is just me, get over it"
In life, there are so many occassions that could easily be the trigger of our anger. Anger itself is not evil, but unchecked anger and aggressive words can cause paralyzing fear, painful hurt. Harsh, harmful and hateful words can be just as deadly to our spirit as weapons of mass destruction are to our lives. Yes, words are that powerful, my friend.
I was once reminded thorugh a sermon in a church, that it is okay to be angry, but do not sin--don't use damaging words, condemn or tear down someone's self-esteem. The sin doesn't lie in the expression of anger, but in the way we use it. We can choose to express anger in healthy or unhealthy ways--in ways that heal or hurt. There is a difference between getting angry and being an angry person. When the expression of anger dominates our life and personality, we are no longer a person with anger, but an angry person. I can't imagine how a person can live through a day with that kind of baggage in his/her heart, must be so tiring.
When I was a child, I remember my father telling me, "If you can't say something nice about someone, don't say anything at all." This is not about stuffing or repressing anger, it is simply about respect and self-control.
Words are powerful. They can tear down or build up those closest to us. In the story above, the boy's wise father gently, but effectively pointed out the destruction angry words can produce, and the permanency of their scars.
What words that we choose to say are a concious choice. Do not blame the failure to choose to our character, instead it takes a huge commitment to change. It may not be easy as it may have been our character for years but these can be an incredible act that reflect an incredible strength that we have. Let's not fall into the trap of "biting and devouring" especially to those people we hold so dearly. Reckleass words can rip them into pieces, but on contrary, words can also build them up and create piece.
As my father said "Watch your words, young lady". Let our words be a blessing to the people around us....shall we?
Friday, January 20, 2012
Notes from a dear friend
Pertama kali masuk, gw sempt diinterview sama elo. Actually from the very beginning, quite curious sama yg namanya Astrid Damayanti. I have this sense, this girl is different :) and actually not easy either buat deket ama elo ya.. Hehe..
Gw mantau gerak gerik elo yg cekatan, yg setia duduk di kursi depan laptopnya berjam2.. Dalam hati gw waktu itu "Gile juga ni anak satu, apa pinggangnya kagak pegel ya? Gesit bgt... Hmmm... But somehow she's not that happy, I wonder why".. Itu yg gw rasain saat itu en ternyata ada sebagian yg salah, you always find your way for happiness! Even thru small things :) Full of spirit, positive minded.. And sometimes I thought at that time you were too ambitious, but again, I was wrong..
The more time goes by, the more I understand you :) You are one of the toughest friends I've ever known. And I am blessed to get to know you in person. Loe memberikan contoh yg baik buat orang2 di sekeliling elo tanpa loe notice, which is very good! :)
My wish, loe gak akan putus semangat dan harapan atas apapun yg loe ingin raih... One day, we can both sit down and flash back atas kehidupan kita masing2 and can laugh laugh with a cup of latte and my ciggy of course.. Hehe..
Hhhhh.. How time flies ya.. But good friends will never die. If you need a friend to cry or share things, you can count on me.. Insya Allah.. I value our friendships & won't ever forget nice things you have done for me, it meant a lot to me.. Thanks a bunch ya buddy! I know this will sounds *yucky* but you are one good hell of a friend that I care much top of people you might think when I was in still in the same office with you- secara gw juga gak punya banyak temen di sana, gak penting juga. Hahahaha!! Please take care of yourself, its a big world and lots of dangerous species outhere ;)
HUGS! and have a new spirit 2012, God Bless You, Astrit :)
My 2011 moment of truth
Without any intention to be such a melancholic person, I find it interesting to list down some of my most personal interesting moments in 2011 - just for fun ;-)
Most unfortunate event
Hmm… the first thing that came to my mind is when I successfully got thrown out from a running motorcycle (Ojek) and hit the ground (after banging my neck to the automatic stopping bar of a parking gate)...phewwww... This actually happened in the very end of December 2010, but the pain still remained until weeks afterward. Luckily doctor has confirmed that no serious injuries on my body especially the back neck ;)
Most exciting moment
I could say I was quite blessed to have the opportunity to do ‘big’ travels twice this year! The Europe trip was quite an experience for me in every aspects of it. Going on a trip to the world’s capital of adventure, New Zealand, has certainly adding another great value into my life.
Most boring moment
Hmmm...funny is that I can't think of any... I enjoyed every bit of my life, be it glorious moments or gloomy days, or even those in between. I could always find ways or things to do to occupy my mind so that I didn’t have time to feel bored….well, the worst case is you could always go to sleep, right? *wink*
The most adrenalin-rush activity
My recent skydiving in Taupo, New Zealand definitely ranks the top of my list!
The next one is when I have to deal (again!!) with my fear of the "invisible friends" at home. But I learned that sometimes it is all about our mind, how we can take fully control of it to help us direct our action. In short, I learn (still learning!) not to be afraid of them! huhuuhu....
I laughed most when...
Hmmm… I don’t remember the details of each reason when I burst into laughing, but I guess it is like hearing a sermon during Sunday mass at church – you could hardly remember the detail message but somehow it has managed to touch your soul and make you feel blessed, happy and even renewed.
However, there’s a friend whom never failed to make me giggling just simply by looking at his facial expression. He doesn’t have to say or do anything – Salam gegot, Patar Simatupang!! Hahaha..
Also the “injury time” incident at Salzburg train station was quite a huge laugh that I shared with my 3 travelmates: Dewi Sekar, Indah F Sari and Olivia AS
In any cases, I always believe that if you want to be happy, just be! You don’t need anyone or anything or any reason to make yourself happy. It is the ultimate decision you can make every single day, every single second in your life. Isn’t it amazing?? That is what I learn from Christian Saja.
Most exciting event organizing
The year of 2011 was quite packed with events organizing especially at work. Other than the regular workshops/seminars, organizing the participation in one big electric exhibition was the most challenging one for me – both mentally and physically. Months of preparation and 4 days of execution were quite a mind-stressful for me.
Then only in a week, another one was coming up again. And then (again) organizing a company family day attended by over 1400 people was quite stressful. Oh dear...
Most happy moment
My (late) father still remains the center of my happiness! Everything that comes around him has always given me special meaning. This year I was really happy and relieved that he has “a new home”. In my local culture (Javanese), after 1000 days of someone’s departure, we are encouraged to build a permanent place – changing the temporary grave. And last April (a bit late, but exactly on his 3 year memory), my brother and I went to the family cemetery in Solo to see the construction of his “new home”.
So, that is my story.... what's yours?
Saturday, August 27, 2011
Walking..
Every day I take a bus to go home from work. Though the bus is actually running in front of my office building, the fact is I have to walk down a bit further to get a seat. Luckily, the pedestrian in Sudirman street is quite nice, at least, you don't have to fight for a space with motorbikes.
To think further about what I most like about walking, I feel that it helps me clear my mind. I get a chance to talk to myself about anything (by 'talking, it means really talking, with a voice comes out). Call me crazy, but sometimes it can ease your stress by talking it out (quitely!) without people noticing so much. Well, occasionally, I also laugh (quitely!).
During the evening walks, I also get to remember all the things happened during the day, things that annoy me or amuse me most, or even simple things that really matters to me. Then sometimes, I also happen to meet interesting things like people doing funny things, street food that smells really good or the grand decorating lights of several buildings especially before Christmas or New Year. I often bought some snack like otak-otak and eat it while walking :-)
Though most of my daily walks was in the evening (no sunshine), I once took a morning walk from the train station to my office. I remember that I wasn't in a good state of mind, a lot of things bothering me so much, so I decided to take a walk to help me clear my mind, relaxing it a bit. It helped, it did. Didn't solve the problems, but it helped me to get refreshed.
During my last trip to Europe, I couldn't remember how long have I walked, but I think it could be like from Jakarta to Bandung, really. Otherwise, I wouldn't have lost 4 kg in just 2 weeks, right?
Of course, I will only enjoy the walk under the condition that the weather is nice (at least it's not freaking hot), the environment/walking path is in safe surroundings (enough lights, good crowd) and only for certain distance. Don't expect me to walk from home to office! :-)
Enjoy your walks...
Sunday, June 26, 2011
Book share: Memutuskan sebelum memutuskan
Mau ngerjain travelogue dari trip kemarin tapi rasanya masih belum mood (weits, nulis butuh mood juga lho), jadi cerita tentang buku yang saya baca tadi pagi aja kali ya. Belum kelar bacanya sih, tapi ada bagian yang rasanya bagus banget untuk di share.
Bukunya ini karangan Hingdranata Nikolay, berjudul "Be happy, get what you want". Sebenernya saya ngga sengaja "kenal" dengan Hing, sewaktu beliau menjadi salah satu pembicara di Toastmasters D87 Semi Anual Convention bulan November 2010 lalu, dan akhirnya tertarik untuk membaca tulisannya dia yang ternyata sama menariknya dengan gaja public speaking-nya beliau.
Anyway, tadi pagi saya baca bab 6 sambil menikmati my me-time di pojokan Komala's, Sarinah. Dengan ditemani dahi poori, saya menyusuri halaman demi halaman yang sepertinya pas banget dengan apa yang tengah bergejolak di hati dan pikiran saya saat ini. Bab itu berjudul "Memutuskan sebelum memutuskan". Sebelumnya, saya paham benar bahwa keputusan untuk membuat diri kita bahagia adalah suatu keputusan yang sepenuhnya ada di tangan kita, kapanpun kita mau dan kita tidak memerlukan alasan apapun untuk merasa bahagia. Temen saya, Christian bilang "If you want to be be happy, just be!" Enak kan? Kapan pun lho, booo...tapi masalahnya kita sering lupa hal itu dan membiarkan berbagai macam distorsi mengendalikan kita, bukan sebaliknya. Keputusan sebelum keputusan, artinya sebelum menghadapi suatu situasi dan memutuskan sesuatu tentang situasi itu, kita telah membuat keputusan tentang apa yang akan kita putuskan saat situasi itu terjadi.
Hari Senin diresmikan menjadi hari paling tidak enak sedunia yang kemudian muncul istilah "I don't like Monday". Belum pernah dengar kan ada yang bilang TGIM - Thanks God It's Monday? :-) Begitu bangun tidur, otak saya langsung otomatis ter-setting "Aaah Senin lagi, pasti bakalan ribet deh hari ini, macetnya super parah, ribet kerjaan juga lebih luar biasa, orang juga moodnya ngga pada enak akibat weekend syndrome, it's gonna be a very baaad day!". Tanpa kita sadari, distorsi itu yang mengendalikan pikiran kita sepanjang hari. Apapun yang terjadi akan berbalik kepada pemikiran tersebut, sehingga akhirnya menjadi pembenaran akan pribahasa "karena nilai setitik, rusak susu sebelanga". Tanpa kita sadari juga kita telah membuat keputusan sebelum keputusan. Artinya, sebelum menghadapi suatu situasi dan memutuskan tentang situasi itu, kita telah membuat keputusan tentang apa yang akan kita putuskan saat situasi ini terjadi. "Dari bangun pagi, kita bisa mendistorsi apapun yang kita alami hari itu, dan tidak sadar dengan keputusan itu. Inilah self-hypnosis yang paling mudah."
Tapi siapa bilang distorsi tersebut haruslah negatif? Ngga juga. Bisa kok positif, malahan kudu banget bersifat positif. Kita bisa mendistorsi setiap kejadian yang akan kita alami dengan sebuah keputusan di awal, misalnya "pasti bisa" atau "apapun yang terjadi hari ini, I want to be happy! Nothing can change that". Sehingga saat kita menemui kesulitan yang meluluhlantakkan dunia kita (lebay!), distorsi ini yang menjadi determinasi kita yang cukup kuat untuk bertahan dan terus berjalan. Kita bisa mengatakan "ah, biasalah, namanya juga hidup. Ada suka duka. One thing for sure, it will get passed".
Berikut tip bagaimana memanfaatkan distorsi untuk kebahagiaan kita:
- Putuskan apa yang menjadi sasaran tujuan besar anda. Ketahui dengan pasti apa yang sebenarnya penting dan buatlah distorsi yang membantu anda memberikan rasa percaya diri, rasa bahagia, semangat, antusiasme, serta dukungan untuk mencapai tujuan besar anda!
- Saat anda sangat ingin atau harus melakukan sesuatu yang menimbulkan sedikit konflik atau tanda tanya dalam diri anda, kecuali yang memang bermanfaat untuk mencapai tujuan besar anda, tanyakan secara sehat "Apa yang terjadi kalau saya tidak melakukannya?" Kalau tidak benar-benar mengangkat tujuan besar anda, segera angkat dorongan itu secara sadar. Agar bisa menyabotase distorsi yang tidak bermanfaat, anda hanya perlu menunda, menangkal atau mengevaluasinya selama mungkin.
Saturday, February 19, 2011
Hidup itu ibarat sebuah kulkas!
"Life is like a refrigerator". Yap! Hidup itu ibarat sebuah kulkas! Dan ini adalah sebuah ungkapan nyata dari seseorang (read: saya, of course) yang senang sekali dengan yang namanya buka tutup kulkas, walaupun sering dia sudah tahu apa isi dari kulkas itu atau apa yang tidak ada, tapi tetap saja merupakan suatu kebahagiaan tersendiri jika dapat melakukannya berulang kali.
Pernah membayangkan perasaan kita saat membuka kulkas? Penuh harapan? Ya! Itulah yang saya rasakan. Saya berharap di dalamnya masih ada sepotong coffee layer cake dari teman saya, Christian, atau tape ketan yang segar dari Yohana, kakak ipar saya atau kalau lagi mikir sehat, berharap ada jeruk ponkam untuk cemilan atau juga aneka lauk pauk kiriman tante-tante saya (karena tahu keponakannya ini doyan makan tapi malas masak). Atau beralih ke freezer, saya berharap masih ada coklat Mon Cheri dari teman kantor, Thomas Frencis atau es krim rum and raisin favorit saya. Kadang harapan-harapan tersebut menjadi suatu kenyataan, tapi kadang juga tidak. Atau sering juga, saya tahu bahwa makanan-makanan tersebut sebenarnya sudah ngga ada di kulkas, tapi tetap saja saya semangat membukanya.
Kalau sudah begitu, apakah kecewa? Hmmm..mungkin, tapi sedikit. "Yah, udah ngga ada ya, udah habis ternyata", kata saya dalam hati. Kemudian saya tutup kulkas dengan santai.
Tapi kemudian apakah saya kapok untuk membukanya kembali lain waktu? hohoho...tentu saja tidak! Tetap dengan semangat dan harapan yang sama, saya akan selalu datang dan membukanya. Kadang saya beruntung menemukan apa yang saya cari, tapi mungkin ada saat-saat bahwa itu belum rejeki saya. Tapi harapan adalah salah satu yang membuat saya bergerak, terutama saat sedang merasa capek dan ingin menyerah (aiiih...serius bener ngomong in kulkas aja!). Jadi jangan pernah menyerah yah, bagaimanapun hidup memperlakukan kita (halah! makin ngeri aja), tetaplah terus berjalan dan berpegang pada nilai-nilai positif yang kita percayai.
Di lain sisi, siapa yang bertanggung jawab mengisi kulkas itu dong? Apa kita hanya membuka dan mengambil isinya, kemudian pergi? Dan berharap 'kunjungan' berikutnya akan ada tambahan isi?
Yang paling bertanggung jawab mengisi kulkas itu tentu saja diri kita sendiri, apa yang kita pikir kita butuhkan dan kita sukai (ingat, 'butuh' dan 'suka' bisa jadi dua hal yang berbeda), baru kemudian kalau kita beruntung maka akan ada teman-teman, saudara-saudara, sahabat yang akan berbaik hati mengisinya. Kadang kita menyukai apa yang mereka berikan, namun kadang juga tidak. Namun yang terpenting buat saya adalah niat mereka. "It is the thought that counts...." walaupun niat plus action akan menjadi lebih sempurna ;)
Mengisi hati dengan pikiran positif terhadap hal dan sesama, bersikap optimis, menghargai orang lain, membantu dengan tulus, dll (yang mungkin terdengar so cliche) adalah hal-hal yang dapat kita isi ke dalam "kulkas" kita sehingga pada saatnya kita bisa menikmati hasil dari "tabungan" kita itu. Percaya banget dengan hukum tabur dan tuai.
Kemudian, saya juga sering lupa (atau malas) menyingkirkan makanan-makanan yang sudah kadaluarsa. Saya biarkan opor ayam membeku, buah apel membusuk, sayur mengering, dll. Bisa jadi karena makanan tersebut ngga kemakan karena terlalu banyak atau simply karena saya lupa. Jadi jangan terlalu pelit untuk berbagi karena dengan berbagi sebenarnya kita juga memberi pada diri kita. Juga sering-sering mengecek kulkas ya untuk melihat mana yang masih baik dan layak kita makan dan mana yang tidak. Jangan ragu untuk membuang makanan yang hanya akan merusak diri kita. Buat apa kita simpan? Lupakan masa lalu yang hanya 'mengotori' masa sekarang dan juga masa depan. Buang jauh-jauh iri hati, kemarahan, keserakahan, kekesalan hati, dendam, dll yang hanya akan mengotori hati dan jiwa kita. Saya percaya tindakan kita adalah cermin dari perasaan dan pikiran.
Dan yang juga penting adalah memastikan bahwa kulkas tersebut tetap dingin dan dalam kondisi yang baik. Bagaimana kita berharap makanan di dalamnya tetap awet kalau kulkasnya mati atau temperaturnya tidak sesuai? Apapun yang akan kita taruh di dalamnya pasti tidak akan bertahan lama.
Kemudian yang tak kalah penting adalah posisi, dimana kita meletakkan kulkas tersebut. Bagaimana kita berharap kulkas tersebut dapat bertahan kalau kita letakkan di halaman belakang, kepanasan dan kehujanan, yang pada akhirnya cepat rusak? Memiliki jiwa dan hati yang sehat bisa jadi kunci yang penting. Bertemanlah dengan orang-orang yang akan membantu kita menjadikan diri kita lebih baik. Tempatkan diri kita pada lingkungan yang dapat memberi energi positif dalam jiwa kita sehingga 'outcome' yang ada - mudah-mudahan- juga positif.
Have a beautiful fridge, everyone....ups, I mean life...! :)
Friday, January 28, 2011
Let it beat!
"Oh I'm sorry, my battery was totally out last night. What happened?"
"Your brother was sent to hospital last night for a heart attack!!!"
.....then she broke in tears, so did I.
*****
My dearest friends,
That was the call from my sister in law a couple of months ago. The call that really hit me. Not only that it was because of what happened to my brother, but also bring back all the nightmare about heart attack. My father passed away because of this deadly disease.
When my father was in the hospital, I saw enough people in that ICCU who suffered badly because of heart problem. Surprisingly, they were not only senior people, but some of them were at my age (read: young and gorgeous! haha...). I happened to talk to a mother whose son was collapsed at home and sent to ICCU. She told me that her son was physically healthy, the cholesterol level was normal, the sugar amount was also within the range and he seemed to have a perfect body figure. So what went wrong? Can you guess?
Yeap! That was because of his stress level. The son worked as an auditor with extreme working pressure and the long working hours. I didn't know what happened with him in the end (hopefully he's doing well right now) as I left the hospital when my father passed away. But one thing for sure is that I realize that it could happen to anyone... I repeat a-n-y-o-n-e! And by that, it includes me, who have never ever managed to get the cholesterol level below the maximum point! Ya..ya... I know, I know. You might saying that it is impossible since my body posture is relatively slim, but hey... this disease does not always look at your weight!
Let us have a brief insight about this disease and how can we prevent happening to us?
Heart attack is the interruption of blood supply to part of the heart, cause heart cells to die. It mostly happened because of blockage at the coronary artery. Blockage is a plague that grows inside the artery. The artery is "the pipe" where the rich-oxygen blood is flowing to the heart. When the artery is full with plague then your heart doesn't get proper supply of oxygen. When this happens, your heart will feel very painful. Worse, it may lead to a stroke.
You might be wondering, what is that plague made of? How can it grow? Well, I read it somewhere that plague consists of fat, calcium, cholesterol and other substances in the blood. They come from various ways like smoke, high cholesterol (triglyceride is very risky for women), high level of sugar and high blood pressure. So you see? They entirely are from our way of living the life. Entirely? Not really. Some may get from family history or age.
The last two things are the factors that you can't change, but should we leave as it is our fate? Absolutely no! There are certainly many ways that we can do as prevention. Let's look at the list:
- Stop smoking
- Get more exercise
- Get heart-healthy diet
- Maintain the weight
- ...and lastly, do regular screening
I don't smoke and don't like being around one. Exercise? Well, my mood for exercise comes like my train schedule in the morning. Sometimes it comes at the very punctual time, but mostly it doesn't. Heart-healthy diet? Is seafood counted? How about milky meal? or crunchy fried snacks? That should answer your question if I'm on heart-healthy diet, doesn't it?
The more I think about the risk I have, the more I got so frightened. But being frightened is certainly not enough! Some actions have to be done and most importantly is commitment to yourself! I can't promise anything to myself but I'm feeling that a step forward to realizing that I have to change and live a more healthy lifestyle is in the making. (BTW, it's 00.30 and I'm still awake! a healthy lifestyle?? yeah, rite!).
Let your heart deserve a perfect shape to beat and simply to say... let it beat!
Wednesday, December 29, 2010
Moment of truth 2010
Best movie
I'm not a movie freak kindda person, but I was totally amazed with "My name is Khan" movie. You're gonna have to see it yourself to find out why I choose this movie as my most favorite movie this year :-)
Most blessed moment
I'd have to agree on the saying "The sweetness of doing simple thing". My Christmas break was truly a blessing for me. I spent 4 days in Bandung with my brother, Rio and his wife. I really enjoyed every moment there. Be it only a light chat under a cool breeze in the terrace in one evening or a morning bread-toasting chat or when we were strolling down the city.... love it!
Most exciting moment
Well, that certainly goes for my trip to Beijing (and Hanoi)!! Truly a breathtaking experience. Every single day creates a story (see my story in Travel folder).
Most exciting event organizing
There were two events that really really... and really washed me away. First one was my company's employee day event (see my story "Beating with one heart") and second one was Toastmasters D87 Semi Annual Convention (Nov 26-28).
Most boring moment
Hmmm...funny is that I can't think of any... I enjoyed every bit of my life, be it glorious moments or gloomy days, or even those in between.
Most unfortunate event
This one I can surely remember! It just freshly happened when I successfully flew out from a running motorcylcle (Ojek) and hit the ground (after banging my neck to the automatic stopping bar of a parking gate)...phewwww...what a perfect closure of 2010! *buang sial*
to be continued... ;)
Antara Ojek dan Timnas Indonesia
Kalau tidak salah ingat, perhatian publik (minimal perhatian saya) baru mulai terasa begitu tim ini melaju ke semifinal melawan Philippines. Mereka bermain begitu gemilang dan menuai puja puji dari masyarakat. Media begitu melambungkan nama mereka di jejeran sosialita baru. Mendadak nama Irfan Bachdim berada dalam rating jajaran Dewi Persik, Jupe, dll. Namun, kekecewaan pun meluas takala Timnas seperti kehilangan 'soul'nya saat bertanding di Kuala Lumpur saat 1st Leg. Berbagai komentar miring pun bertebaran di berbagai media. Semua begitu alergi untuk berbagi sedikit optimisme di 2nd Leg.
Jika masyrakat Indonesia sedang disibukkan dengan melakukan aksi "misuh-misuh" terhadap penampilan timnas, saya pun tak kalah hebohnya melakukan hal yang sama ke tukang ojek yang telah dengan suksesnya menabrakkan diri ke besi penghalang di pos parkir dan mengakibatkan saya jatuh terpelanting dan menjadi tontonan gratis orang-orang. Satu sisi saya geram sekali sama si abang ojek, tapi satu sisi mengutuki kebodohan diri sendiri yang membiarkan tanda-tanda sebelum si besi itu menghantam badan saya. Aahh, sutralah...nasi bener-bener menjadi bubur!
Alhasil yang ada saya menonton serunya pertandingan final sepak bola sambil meringis mengolesi kaki dan pinggang saya yang biru lebam dan memar dengan salep penghilang rasa sakit. Sesekali keluar juga air mata akibat menahan sakit, tapi untungnya lagi aksi laga Arif Suyono dan Achmad Bustami berhasil mengalihkan perhatian saya. I heart youuuu! *halah!* :-)
Nah, kalau di akhir cerita ini, kamu bingung apa hubungannya antara Timnas dan Tukang Ojek, ya memang pada akhirnya ngga ada hubungannya sih...hehehe...palingan bahwa keduanya berhasil bikin saya nyengir dan miris di saat yang bersamaan di penghujung akhir tahun 2010... Bravo Timnas! ...dan bye bye abang ojek yg saya sudah tandai untuk ngga pernah lagi kita berhubungan...wek! :-)
Sunday, December 12, 2010
Don’t put a question mark when God puts a period
Siang itu udara panas terik dengan angin sepoi-sepoi yang mengalunkan saya tidur atau tepatnya ketiduran ketika menonton sebuah infotainment di rumah. Tiba-tiba seorang teman datang dan dengan santainya mulai bercerita. Saya yang awalnya masih setengah sadar akibat ngantuk mulai “bangun” karena ceritanya.
Cerita teman saya tersebut bukan tentang gosip selebriti yang menggelar pernikahan dengan biaya yang bisa memberi makan ratusan orang atau sebuah berita tentang serunya sidang perceraian seorang penyanyi tersohor. Teman saya ini bercerita tentang seorang Sara, istri (nabi) Abraham! “Duh, hari gene kok ceritanya tentang seseorang yang notabene tidak up-to-date banget” pikir saya awalnya. Tapi kemudian saya mulai tergelitik oleh komentar teman saya itu “Bo, tahu ngga sih lo kalau Sara itu meremehkan Tuhan waktu Tuhan memberitahukan bahwa ia akan mengandung?” Waduh, mana saya tahu, kenal Sara saja tidak, pikir saya.
Kemudian berceritalah teman saya itu kalau pada saat Tuhan memberitakan kabar gembira bahwa Sara akhirnya akan mengandung, Sara tertawa dan menyangsikan perkataan Tuhan. Saat itu Sara yang berusia 90 tahun sudah menopause sedangkan Abraham sudah berumur seratus tahun. Hal yang wajar jika saya melihat dari kaca mata saya, kaca mata duniawi tentunya yang minus dan silindris dua, kaca mata seorang manusia yang mencari suatu pembenaran berdasarkan logika. Sara telah mengubur harapannya untuk memiliki anak sampai ia meminta Abraham untuk menikahi Hagar, pembantunya supaya Abraham memiliki keturunan. Sehingga ketika mendadak ada durian runtuh, Sara kaget dan tidak begitu saja percaya. Hal itu ia ungkapkan dengan tertawa yang membuat Tuhan murka “Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk Tuhan?” (Kejadian 18:14). Namun Sara tetap ngeyel dan menyangkal “Aku tidak tertawa” (Kejadian 18:15) karena ia takut.
Apa yang Sara lakukan berbeda dengan apa yang dilakukan Abraham, suaminya. Abraham tanpa banyak komentar mengurbankan Ishak anak satu-satunya ketika Allah memintanya. Ia tidak memprotes perintah Allah atau menawar kehendak-Nya. Hal yang sama ketika Nuh diperintahkan untuk membangun sebuah bahtera atau kapal dan mengisinya dengan begitu banyak penduduk sesuai order list dari Allah. Namun Nuh yang berusia 600 tahun tanpa banyak cing cong melakukan tepat yang diperintahkan Allah. Kalau saya jadi Nuh, so pasti akan banyak pertanyaan dan negosiasi dengan Allah. “udah tua ye, enakan juga santai daripada ngumpulin hewan-hewan, sepasang pula masing-masing, capeee dee…” celetuk teman saya itu.
Terus terang saya merasa tersindir oleh kesetiaan Abraham dan Nuh. Percakapan saya dengan Tuhan – yang tidak terlalu banyak – lebih banyak diwarnai tawar-menawar, pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting atau kecurigaan dibalik sebuah karunia Tuhan. Saat Tuhan memberikan kenaikan gaji yang cukup lumayan, saya berpikir, wah jangan-jangan Tuhan mau kasih saya beban tambahan nih. Ketika Tuhan menawarkan suatu promosi pekerjaan yang akan meminta waktu dan tenaga saya lebih banyak, saya meminta dispensasi untuk bisa membolos pergi misa setiap hari Minggu ”kan capek, Tuhan... boleh dong istirahat lebih banyak”.
Bayangkan kalau kita menjadi Tuhan. Mungkin Dia akan be-te, wong sudah dikasih karunia kok masih aja ngeyel, masih saja berusaha menawar atau Tuhan mungkin akan sangat kecewa saat kita curiga adanya motif dibalik suatu berkat yang Ia berikan. Padahal kalau kita mau lebih mengenal Tuhan lebih dalam lagi. Tuhan memberikan berkat kepada umat-Nya tanpa syarat. Ia memberikan kita karunia bukan karena kerja keras kita, tapi semata-semata karena kasih karunia-Nya.
Ia memberikan berkatnya seturut kehendak-Nya, pada waktu-Nya, dan sesuai rancangan-Nya ”sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukan jalan-Ku” (Yesaya 55:8). Ada saat-saat dalam hidup kita dimana kita melihat kemalangan, kesedihan, kemarahan, ketidakberuntungan serta segala hal buruk yang di luar kehendak kita. Kita menjadi marah dengan Tuhan dan protes atas semua yang terjadi. Jika yang kita minta ke Tuhan tidak terjadi, bukan berarti ia menolak, namun karena itu bukanlah yang terbaik untuk kita. Seorang teman mengatakan ”Mungkin saja ya Jeng, yang kamu anggap baik untuk kamu itu ternyata bikin orang lain susah atau timingnya saja yang belum tepat”.
Sebenarnya yang perlu kita lakukan hanyalah percaya kepada-Nya. Percaya tanpa syarat, tanpa tawar menawar, tanpa curiga. Memang dibutuhkan suatu totalitas kepercayaan yang luar biasa, yang tidak memerlukan logika untuk mencernanya. Kita hanya perlu yakin bahwa Tuhan tidak pernah mendatangkan sesuatu yang buruk untuk umat-Nya. Ia mengasihi kita secara luar biasa hebatnya. Ingat bahwa Ia memberikan putra-Nya supaya kita semua diselamatkan?
So don’t put a question mark when God puts a period! Percaya saja!
(dam)
Saturday, October 30, 2010
Keep it simple, kiddo!
The chat I had with him was really encouraging me. I'm sharing it here to remind myself over and over again in the course of my journey of learning to write well. It is to also share with those of you who love writing and are in the beginning phase of doing it, just like me.
"....
IA: Hey, you web page is good. You should write some books.
Me: My web page? The blog?
IA: Yes, it has a lot of things.
Me: Naaaahh.... way from good!
IA: Yes it is good - and has some story lines. Look at it this way - another way to make some money
Me: Haha...most of them are in bahasa...and those in english are still lousy...
IA: You have imagination thay what people want to read start to write novels you blog page are collection of ideas, dreams, feeling, emotions now put then together and write a novel you can use you blog to collect ideas from others too ...and use them in your stories by adding the more imaginations....get my point ?
Me: You really have that confidence on me, don't you?
IA: Yes I do. Start in bahasa, then brush up english later.
Me: I hope I could share the same confidence...
IA: You should. You're a fighter, remember!
Me: A fighter with bad English..Hehe...Exactly just what my job requires it at best..
IA: Language is a long life learning process. You can start writing children's story books..
Me: That's really difficult
IA: Remember - who (readers) why (they want to read this) where (they want to be) what (they are wishing for) when (in their life) but write for the readers !!! Start...!
Me: You really got me, I start to think of starting it already...
IA: You can start with a normal beginning, then lead into normal Jakarta life, then make a twist (this is where the imagination comes to play and link them into normal life of people) then try to end with a bang (sometime happy sometime sad)
Me: Hey, why don't you write as well? You're really good at writing too... It could be a good change, other then dealing with all the machines, servers, computers...
IA: I can't write...too logical in thought process. Go on, start!
Me: Will do...but sometimes it comes with mood. When I was annoyed of something, then it was just flowing, and I couldn't stop of writing it down..
IA: Yeap, but remember you dont have to do this in one seating, use your BB to record your mood, then play back for your imagination to take over, voice recording , pictures etc. then go wild in your imagination and start writing section / chapter at a time, then link then in story line and flow.
Me: That's what I sometimes did...like in the train, I thought of something, then I typed it on my cell phone...like I was affraid that it will lose. Playing with imagination can be difficult, as I'm not used to it . Sometimes I wish I were sarcastic, that would be so much fun
IA: You can - just dream or go with wishes . example: remember your experience in life . the rest wil just follow one you start / ok may be not the first time but eventually you will get the hand of it
Me: Yes...sometimes when you read it over and over, you can suddenly have ideas to add in between...
IA: Yeap. Next time - you are on bus going home... look at the sights, backgrounds, people, their face, light, smells, etc and wonder off to WHAT they might be thinking and HOW their day have been and WHAT waits then at home...play around with imagination...
Me: Thank you so much for believing in me... I will definately give it a try...it may take a loooong time to finally complete it...but a journey of thousand miles is begun with one single step, right? And...hopefully it would be the one that I'm trying to find as what my passion is in life...
IA: Glad to hear that! Hey, I need to find some food now - hunger is catching up...keep in touch and chat later ~~
Me: Haha...go...go.... !
IA: Have a good weekend...
Me: You too...
IA: Bye for now...
Me: Bye..
To all of my friends (and me)....happy writing! :-)
Saturday, October 16, 2010
Unconditional love? It does exist!
1. Sulit untuk dimengerti? Pepatah mengatakan “try to put yourself in somebody else’s shoes". Kalau kita bilang susah untuk mengerti orang tua, mungkin kita perlu sekali lagi bertanya pada diri kita, takaran atau standard siapakah yang kita pakai untuk mengerti orang lain itu? Standard kita kah? Kalau iya, berarti selamanya kita ngga akan pernah bisa mengerti orang lain. Kita bisa bilang orang tua tidak mengerti kalau anaknya perlu mengeluarkan pendapat dan ingin memutuskan sesuatu dalam hidupnya. Apakah benar itu? Pernahkah mencoba melihat dari hati dan kacamata mereka? Mungkinkah ada ketakutan dalam diri mereka bahwa kita akan melakukan kesalahan dengan keputusan kita dan akhirnya sengsara sendiri? Tidak semua orang bisa berpikir bahwa kadang seseorang perlu untuk “nyungsep” dulu untuk bisa bangun dan berjalan dengan gagah. Mereka kuatir bahwa hidup akan menyakiti kita ketika yang mereka inginkan hanyalah agar anaknya bahagia. Perlu diingat juga, jaman mereka mungkin berbeda dengan jaman kita, dan ngga semua orang tua hobi nonton CNN atau beredar di Facebook untuk melihat seperti apa kondisi berubah akhirnya apa yang mereka pikirkan dulu adalah valid untuk sekarang.
2. Ngga mau ngalah alias mau menang sendiri? Benarkah? Apakah itu ego dan emosi kita yang berbicara atau benar hati nurani kita yang dengan obyektif menilai saat kehendak kita dan mereka tidak sejalan? Apakah pernah kita mencoba untuk secara tenang dan tulus mendekati, meyakinkan dan memberikan pengertian terhadap mereka? Sehingga kekuatiran yang ada pada diri mereka sirna dan menyetujui apa yang kita ingin lakukan.
3. Merasa paling segalanya? Hohoho..!! Saya yakin ini adalah ego seorang anak yang berbicara. Pada dasarnya setiap orang memiliki naluri untuk selalu dapat merasa lebih dari yang lainnya. Lebih keren, lebih seksi, lebih pintar dll. Sesuatu yang wajar, jika tidak berlebihan dan tidak menyakiti sesama. Begitupun orang tua yang notabene adalah manusia biasa. Pada saat kondisi seperti ini, sebenarnya bisa kita manfaatkan. Benarkan mereka sehingga mereka merasa ego nya terpenuhi, kemudian kita bisa masuk untuk secara pelan ”merasuki” ide kita dalam pikiran mereka. Maka biasanya, mereka akan dengan suka hati membenarkan ide kita. Tergantung bagaimana cara kita memainkan peran kita. Ngga berhasil sekali? Coba lagi dan lagi, jika kita merasa itu adalah ide yang kayak diperjuangkan.
4. Protektif? Bukankah hal itu yang kita juga lakukan pada seseorang yang kita sayangi, baik sadar atau tidak? Orang tua adalah mereka yang memiliki kekayaan pengalaman hidup yang jauh lebih banyak dari kita dan mengetahui gimana hidup dapat sedemikian keras terhadap siapapun. Dan naluri sebagai orang tua yang mendorong mereka untuk seperti itu. Simply hanya untuk menjaga anaknya. Jika kadarnya sudah membuat kita cukup jengah dan gerah, yuk kita bertanya pada diri kita, apakah kita juga sudah cukup memberikan alasan yang kuat untuk menenangkan hati mereka? Bahwa kita akan baik-baik saja? Ataukah memang benar ketakutan mereka beralasan. Kita mau clubbing hingga pagi hari, tanpa mereka mengenal teman-teman kita, seperti apakah dunia clubbing itu, bagaimana transportasi pulang dan pergi ataukah memang benar kekuatiran mereka beralasan? Narkoba? Resiko kriminalitas yang mengancam? Apakah naruni tulus kita sanggup untuk menilai ini, naruni tanpa kekerasan ego?
5. Tuntutan suatu kesempurnaan? Siapapun di dunia ini pasti sadar bahwa prinsip ’nobody’s perfect’ itu benar adanya, lepas apakah itu akhirnya menjadi pembenaran atas kesalahan yang kita lakukan. Saya pribadi lebih percaya pada proses yang terbentuk dalam menuju suatu ”kesempurnaan”, bagaimana dalam setiap tahap proses tersebut, kita tumbuh dan berkembang, memacu untuk menjadi semakin baik. Mungkin inilah yang juga dirasakan oleh orang tua kita. Mencoba mendorong anaknya menjadi lebih dan lebih baik, tidak pernah berhenti.
Saat ini pasti yang terpikir di ”golongan anak” adalah saya yang terlalu memihak dan membenarkan orang tua (selain sok tahu tentunya). Sebenarnya ngga juga. Saya sadar sepenuhnya prinsip nomor 5 di atas. Namun saya juga sangat percaya dengan segala kelemahan orang tua sebagai manusia biasa, segala cara mereka yang mungkin sulit untuk kita pahami...saya percaya bahwa tidak ada cinta apapun sebesar cinta orang tua ke anaknya! Totally unconditional love! Namun, sayangnya saya mengetahui itu di saat semua sudah terlambat. Tidak ada kesempatan lagi untuk saya untuk juga belajar mengerti dan memahami orang tua saya dengan segala kekuatiran dan kelemahan mereka. Bahkan sedetikpun untuk dapat bilang kalau saya menyayangi mereka.
Jadi untuk teman-teman yang masih memiliki kesempatan itu, manfaatkanlah! Jangan pernah menunggu sedetikpun. Jangan sampai penyesalan yang saya miliki menimpa teman-teman juga. Percayalah, by the end of the day, segala perseteruan itu, segala kekesalan dan kemarahan kita tidak akan berarti! They do not matter at all!
**buat yg protes, iyaaa deeeeh...next time, I'll try put it from the point of view of the children ya...depend upon my mood, of course...hehehe...
Sunday, September 12, 2010
Day 3: this is it!
If I could slightly take it easy in the first two days, it was a whole different story on the third day, which was luckily the last and final day! Yeaaay..!! :-)
I practically couldn't do anything yesterday. My head was truly spinning around, my body was extremely weak, but I didn't feel any stomachache at all, which I initially thought I would. It was just the total weakness that got me so badly. I tried to drink more water, eat more fruits. It worked, for a while but then I felt week again. I spent most of the day laying down in bed or in front of TV.
That was one of the reasons why I didn't update this blog last night like in the previous two days.
This morning, I took two glass of waters and a slice of wheat breath with mixed-fruits jam. All the dreams of eating nasi padang, mie goreng, pempek, etc... have gone in astray! Hmm...temporarily? :-)
So from that 3-day refraining from one of the world's greatest gifts (food!), what am I gonna get? Well, today I feel a way much lighter in my body weight. My belly becomes flatter (oops! there you go, I just revealed one secret). But unfortunately, I just got the fact from Internet: In the initial period of eating fruit, weight loss can be drastic, but this will only happen for a while for once the body has done nature’s work, it will naturally gain weight... oh, poor me...!
However, I believed that the benefits that I would get from this detox would not happen in the short term but it would be an investment in the long run. 20 years of McDonald can not be cleansed in just 3 days! Oh I wish it could be that easy! It would take times and investments, which at least I have just made one. I just need to monitor and maintain "my investment" so that I one day I could reap the benefit with multiple value....keep my finger tightly crossed! :-)
Thanks to my friend, Ricky who have introduced me to this cleansing method.
This afternoon, let's wish that my weakness will go away so that I could go hanging out with Nitto and the rest gank.
Saturday, September 11, 2010
Day 2: the battle is not yet over...
It was getting so much harder. I started to think, would it be easier to do it during working days, not in a holiday like now? So I would have so many things to distract my attention. Then I realized perhaps it was just one of so many perfect reason to call it a day!
Let's talk about the temptation that I have to fight today. It was begun with a dream last night. Yes, it was true when people said if you want something badly, you would even sleep and dream on it. In my case, I wish I would never have that dream. What was my dream? I dreamed that I was in the middle of great party with friends all around and, unfortunately, with the food showering around. You name it: a crunchy pempek palembang with that black sour sauce, Chinese mie goreng with that delicious smell, a pack of nasi padang with rendang and creamy vegetable and green chili.... hahaha...kindda confuse what was the party I was at... the food didn't really represent a party!Then I woke up (with growling stomach) and the fresh memory of that dream, just to start my day. I went to check Facebooks (FB) and found some funny and silly comments from friends over some photos (really fun) and I gladly joined the troops. It was fun! I also run through some of my friends FB status who were 90% talked about 'Lebaran' traditional showering food! Ketupat, opor, rendang, sambal goreng ati, kaastengels... did they really have to put all those stuffs in their status, so I thought? Of course, they did! Well, I certainly would! It was a true happiness, it was a living...!
I decided to turn on the TV. I hope to see some entertaining show or great movies to keep my mind busy. But you know what? I forgot that it's Saturday! Most of TV stations put up the cooking show in most of their morning show! So I had no choice but watching Chef Farah demonstrated the recipe of (again) lebaran typical food with all the details of creamy look, the ingredients to tell audience what the taste would like. Not only that, she also shared how to cook the lovely milky pudding...Whoaaa! Pudding! It was mostly the first thing to grab when I was in any wedding reception or office function! That's it. I walked away from TV.
Then I went joining my brother in the back terrace, thinking to have a light chat with him and distract my attention. I felt hungry and grabbed some melon in fridge as my breakfast. While we were chatting, he too had a breakfast. A real one! Nasi goreng with hot omelet, smoked beef sausage and some kerupuk. Hmmm... I could hold my breath but that smell was reeaaaaaallyy good! Soon he finished it up, he started to have a steamed noodle, an overcooked one which was my favorite. That's it! I couldn't take it anymore. I went to shower.
In the afternoon, my brother went out to see some old friends. I could have joined him since he'd go to some shopping malls and perhaps make a call to meet some of my friends too, but that would be a way much bigger risk failing to refuse the temptation, with all those food stalls like KFC, the salty french fries, chicken floss from Bread Talk, tuna crepes, hot coffee... no! I decided to stay at home.If TV couldn't help me, then why not playing some DVDs? As all the morning stuffs didn't enough to 'torture' me, why all the sudden the SATC and Glee movies series should also join the troops? Sigh.... It was about the girls hanging out in a cafe for coffee, a guy ordering a biig portion of burger or simply the act of eating and chewing some foods really dragged me to even a greater hunger.
It was heavily raining outside, so I turned off the un-supportive TV and took a nap. But... damn! Again! I had those dreams! Over and over again. I woke up at 4 pm, had some water and slept again, hoping that this time it would not be about food dreaming again. But I was so damn wrong.
I went to FB again, thinking that the euphoria of lebaran food festive was now over. Yes, the lebaran food party is over, but don't get it wrong... it just changed to others! They who have got enough with milky meals and all ketupat things, turned to some light soup like hot meal balls soup, dim sum with the hot chili or sup iga sapi. They were all loud and clear about that!
Poor me... the whole universe didn't seem to support me, but I would not give up. It's only one day left...Strongly hope that I would not end up with revenge at the end and eat like crazy... counting on what Ricky said, that it would make my appetite re-set again....fingers crossed!
Friday, September 10, 2010
Day 1: An apple a day? Think again...

Sunday, August 8, 2010
Smile... and the world will smile at you.. :)
Bapak ini bukanlah masinis atau kondektur yang memeriksa karcis penumpang di tiap gerbong. Ia juga bukanlah penjual koran yang berkeliling menawarkan berita-berita baru setiap harinya. Dan ia juga bukan salah satu penumpang yang berlari-lari demi mendapatkan satu tempat duduk dan bisa tidur dengan nyaman.
Bapak ini memiliki kekurangan fisik sehingga ia tidak dapat berjalan dan terpaksa menggantungkan hidupnya dari belas kasihan orang lain. Ia menggerakkan badannya dengan menggeserkan dan mengangkat badannya dengan kekuatan dua tangannya. Namun, satu hal yang aku lihat sosoknya begitu berbeda dari wajah-wajah yang kutemui dalam setiap gerbong adalah ia selalu tersenyum. Ia tersenyum dengan ketulusan hatinya dan menyapa setiap orang, tanpa peduli apakah ia kenal atau tidak, tanpa ia peduli apakah kemudian mereka membuang muka atau pura-pura tidur supaya tidak harus memberikan uang.
Ia tidak pernah menadahkan tangannya. Ia hanya tersenyum dan menyapa "Assalamualaikum...pagi, neng...". Kemudian ia tertatih menyeret tubuhnya dengan kedua tangannya. Suatu kondisi yang cukup sulit, namun ia tetap tersenyum. Belum pernah aku lihat wajahnya cemberut atau muram, walaupun aku bisa bayangkan hidup pastilah tidak mudah baginya. Mungkin ia memiliki keluarga yang harus ia nafkahi, anak-anak yang sekolah dan beban hidup seperti orang lain namun dengan kondisi yang sungguh jauh berbeda dengan orang pada umumnya.
Aku menjadi malu sendiri. Senyumnya seakan menyindirku. Dengan semua bebannya itu, ia masih bisa tersenyum untuk orang lain setiap harinya. Bagaimana dengan aku? Aku memiliki fisik yang cukup sehat, pekerjaan yang aku nikmati, penghasilan yang cukup, namun sering aku mudah untuk menggerutu, memasang wajah yang muram dan cemberut untuk hal-hal yang sepele.
Tersenyum adalah satu hal yang begitu sederhana dan dapat dilakukan semua orang secara gratis, namun siapa yang sangka senyum memiliki efek yang cukup besar dan merupakan "penyakit" yang mudah menular.
Dengan tersenyum dengan office boy di kantorku ketika datang di kantor, mungkin ia akan tersenyum dengan rekan kerjaku yang lain, kemudian rekan kerjaku tersenyum kepada atasannya atau kepada keluarga atau orang-orang disayanginya.
Ketika kita tersenyum pada seseorang yang sedang patah hati, maka ia dapat merasakan bahwa dunia tidak sedang runtuh dan masih ada orang lain yang menyayanginya. Ketika kita tersenyum pada mereka yang sedang sakit, senyum membuat mereka merasakan kepedulian dari orang lain. Ketika kita tersenyum kepada mereka yang sedang putus asa, senyum memberikan harapan dan kekuatan untuk bangkit. Namun jangan coba-coba tersenyum pada atasan kita yang sedang meledak-ledak marah kepada kita. Itu namanya bunuh diri :-)
Senyum dapat dirasakan, walaupun orang tidak melihat wajah kita. Coba buktikan. Tersenyumlah ketika anda menelepon pasangan atau sahabat anda, mereka pasti dapat merasakan senyuman anda itu dari suara yang tercipta. Kehangatan jiwa yang terpancar dapat dirasakan.
Aku berterima kasih kepada Bapak itu untuk mengajariku satu hal sederhana, senyum dengan ketulusan hati. Senyum pula akan memberikan suatu napas segar bagi jiwa kita.
Tersenyumlah maka dunia pun akan tersenyum padamu.
Sunday, July 11, 2010
The past..
I'm perfectly aware that holding onto the past is like living without tomorrows. But at this moment, let me hold onto it just for a few breath, a few blink, a few heart beat…. I just want to freeze this moment. I will move on, I will… because I still want that “tomorrows”!
Saturday, June 26, 2010
Happiness is in the mind
".......continued..."
*Cousin: Wong yang haram itu pasti jauuuuuh lebih enak drpd yg halal kok :-)
*Me: Hahaha! Sok tahu ah.... tahu darimana kalau yg ga halal itu lebih enak?
*Cousin: Kumpul kebo itu lebih enak drpd kawin yg sah... :-D
*Me: Dodol!!
*Cousin: Lho saya mengemukakan realita ini...Coba bayangkan kalo harus hidup dengan org yg sama 40 thn atau lebih. Pusing kaaann... itu ngga akan terjadi kalau kumpul kebo, bisa gonta ganti org sewaktu2, apa ngga dahsyat tdk halal itu
*Me: Nah, coba sebaliknya, apa ga enak memiliki suatu kenyamanan, ketenangan dan komitmen yang "tergaransi" oleh suatu legalitas yg resmi, utk hidup dengan seseorang...halal pula! ;-)
*Cousin: Bayangkan kenyamanan yg hanya berumur 1-3th pertama, th ke 4 s/d th ke 40, terkekang dgn "garansi" legalitas yg bikin pening....hahaha...! Jangan di dengerin yak!
*Me: Hahaha...iya nih! Kalau org yg lg mau nikah, bisa2 ga jadi nikah kalau denger! Tapi apakah nikah itu jaminan kebahagiaan kah? "Kelengkapan" hidup". Kadang suka mikir apakah nikah itu sesuatu yg mesti utk menggenapi suatu tatanan dan harapan kultur sekitar? Gimana kalau orang memilih utk tidak menikah drpd terpaksa menyamakan standard thd harapan orang lain? (Ngomong apaan yah gue, hehe..." )
*Cousin: Naaah...pertanyaan yg sangat bagus dan kritis! Menurut gw, semua hal yg berbau kultural dan teologis bersifat "wajib" krn bila di simpangi akan ada sangsi sosialnya. Kalau gw, tembok aja gw tabrak, apalg kultur & teologi.... Jaminan kebahagiaan??? Kebahagiaan itu kita ciptakan dr cara berpikir kita dan bersifat kasuistik
Mau single atau dobel, dua2nya bisa membuat kita bahagia, kalau memang kita "ciptakan"
*Me: Yoi, kadang bahagia itu permainan pikiran dan keputusan yg kita bisa buat kapanpun dan dimana pun....
....and the chat continued and ended with nothing to discuss further about the trip :-)
Oh, fyi, my cousin is a deep thinker who happily and legally married to his wife.. so the chat was just for brainstorming purpose only *need to clarify this, before he kills me...haha..*
Sunday, March 21, 2010
Cooking? not really my cup of tea.. ;-)
Seorang teman pernah bilang bahwa kadang untuk menghasilkan suatu karya kita perlu yang namanya passion ataupun mimpi. Salah satu syarat lain adalah kita mesti menyukai hasil akhir karya tersebut. Jadi kalau mau gemar dan jago masak (gemar dan jago bisa jadi dua hal yang berbeda lho), sesorang haruslah doyan makan(an). Wah, kalau begitu aku sudah pasti ngga bakalan pernah jago memasak, karena buatku makan hanyalah sekedar memenuhi kewajiban sebagai mahluk hidup. Atau kadang aku hanya menikmati suasana dalam acara makan tersebut, entah itu sedang kumpul bersama teman atau keluarga. Penasaran akan suatu makanan sudah pasti sering, tapi tidak sampai menjadikan saya seorang self-driven untuk berkeliling mencoba berbagai makanan.
Tapi bukan berarti aku ngga pernah coba yang namanya masak. Waktu aku SMP, aku mencoba suatu resep di majalah. Kalau ngga salah, Soto Kediri (atau Banjar? lupa) namanya. Aku mengikuti dengan patuh setiap takaran dan cara memasaknya. Setelah beberapa jam berlalu dengan dapur yang porak poranda, voilaaaa… akhirnya masakan itupun jadi dan begitu kucicipi, hmmmm… rasanya berubah menjadi opor! Jangan tanya, karena aku juga ngga ngerti, bahkan sampai sekarang!
Papaku seorang yang jago masak. Beliau tidak pernah sekalipun menggunakan buku resep, pun kalau ada suatu yang sifatnya berbentuk ”teori”, itu adalah hasil ingatannya akan warisan eyang yang sering mengajarkannya masak waktu kecil. Papa selalu berimprovisasi dengan segala bumbu dapur. Cemplungin – icipin – cemplungin lagi – icipin lagi... teruuuss begitu sampai didapat rasa yang pas.
Papaku sepertinya suatu bentuk pengecualian dari teori temenku tadi. Seingetku Papa rasanya ngga begitu terobsesi dengan yang namanya makanan. Biasa aja. Eh tapi tanteku pernah cerita kalau Papa waktu muda gemar banget makan enak. Ya iyalah, mana ada yang suka makan makanan yang ngga enak. Bermula dari aku kuliah sampai dengan aku kerja, papa selalu masakin aku bekel untuk makan siang. Setiap pagi lunch box ku sudah siap di meja makan, tinggal angkut. Satu set makan siang lengkap dengan kerupuk dan buah.
Kalau papa yang ”biasa” aja terhadap makanan, beda banget dengan sepupuku ini. Makanan seolah menjadi the biggest passion in her life! She can live with nothing but cooking! Hahaha… ngga segitunya sih sampai “can live without nothing”, tapi kecintaannya terhadap masak benar-benar membuatku mengacungkan semua jempol yang kupunya.
Kalau hari minggu siang, aku biasanya mengisi waktu dengan leyeh-leyeh, nonton dvd, tidur, pokoknya menjadi manusia yang paling tidak berguna di dunia, dia malahan sibuk sekali mencoba resep ini dan itu. Dan sepupuku ini tepat sekali dengan teori temenku tadi. Ia menyukai masak dan ia juga sangat tergila-gila dengan makanan. Ia tahu tempat-tempat makanan enak, mulai tukang lontong sayur di terminal Kampung Melayu sampai dengan mbok-mbok yang jual tengkleng di gerbang Pasar Klewer Solo. Baginya, setetes rasa dalam setiap makanan adalah penting! Buatku, lemper ayam dimanapun sama aja, yang bedain cuma apakah ayamnya banyak atau ngga, tapi buat sepupu ku ini, rasa gurih ketannya, bumbu adonan ayamnya sampai aroma dari bakaran daun pisang pembungkus lemper sangat diperhatikan. Buatku, sop yang dipanasin sama ngga itu ngga ada bedanya, tapi dia akan sangat willing untuk repot manasin dulu sebelum makan. Beruntung sekali bisa memiliki sepupu sepertinya, dijamin akan selalu makan enak dan ngga repot! Hehe…
Anyway, inti dari cerita ini, aku salut banget sama mereka yang memiliki passion. Apapun bentuknya. Tidak hanya sekedar memiliki, tapi melakoni dan mendalaminya dengan serius. Bagus-bagus kalau akhirnya bisa menjadikan itu menjadi suatu bisnis yang mendatangkan penghasilan. Seorang teman bilang bahwa ”nothing is a waste if you do it with passion.” It keeps you going.
Namun, aku juga tak kaluh salut dengan mereka yang melakukan sesuatu dengan baik, walaupun itu bukan passion mereka, dan dilakukan karena memang mereka harus lakukan itu. Contohnya Papaku. Kalau beliau ngga masak, aku dan kakakku pasti akan selalu jadi anak warung alias jajan di luar rumah terus. Apakah itu mendatangkan kebahagiaan– dilakukan karena keharusan? Sering dengan melihat bahwa apa yang kita kerjakan mendatangkan suatu manfaat (syukur-syukur kebahagiaan) buat orang lain, memberikan suatu kebahagian yang tak terkira untuk kita. Betul tak?
Awalnya Papa mungkin memasak karena suatu kewajiban, tapi aku yakin rasa sayang pada dua anaknya yang badung ini telah menumbuhkan suatu passion lain, yaitu memberikan yang terbaik kepada yang kita sayangi...
So, let your passion drives you to reach your dream, but in my case, cooking is definately not the one :-)