Monday, January 23, 2012

Venice yang romantis

Venice menjadi gerbang pertama perjalanan saya memasuki Itali. Kalau sebelumnya saya sempat share gimana juara nya Roma dalam hal peninggalan budaya berabad-abad lalu, maka Venice menawarkan hal yang cukup berbeda.


Saya masuk Venice dengan kereta dari Salzburg dan tiba sekitar pukul 5 sore. Matahari masih terang seperti pukul 3 sore dan udara terasa sejuk, tidak sedingin di Salzburg tapi tidak terik panas juga. Jadi enak lah. Begitu kereta mendekati stasiun Santa Lucia, pengumuman di dalam kereta sudah mulai menggunakan Bahasa Itali disamping Bahasa Inggris tentunya (sebelumnya adalah Bahasa Jerman dan Inggris)


Begitu landing di stasiun, mata kami semua berbinar. Bukan karena pemandangan bagunan stasiun, bukan karena keindahan kota, tapi karena satu keindahan yang berseliweran di depan mata. Yeap! Cowok-cowok Itali yang merupakan mahluk Tuhan yang paling indah, hilir mudik di depan mata. Sumpah ya, bo...mulai dari mas-mas cleaning service, penjaga kios rokok sampai yang benar-benar gaya eksekutif muda, semuaaaa berpotensi minimal sebagai foto model di majalah atau berseliweran di panggung catwalk dunia! Saya sempat berpikir mungkin dulu saat Tuhan menciptakan kaum pria, Ia menambahkan satu racikan bumbu pada adonan pria Itali sehingga menghasilkan suatu maha karya yang sangat indah. Oooh.... :-)


Begitu tiba di luar stasiun, terpampang sungai /kanal yang cukup besar dengan aktivitas di dermaga yang cukup sibuk. Ternyata itu adalah semacam halte dari water boat yang menjadi urat nadi transportasi di Venice. Kota dengan penduduk sekitar 200 ribuan ini sebagian besar wilayahnya memang terdiri dari air dan bangunan pun didirikan di atas air. Jika dilihat di peta, Venice terletak dalam pulau yang menyerupai pecahan kaca yang berserakan, tidak heran begitu banyak kanal yang membelah kota ini.


Hostel kami berjarak sekitar 10 menit dari stasiun dengan berjalan kaki, namun perjalanan akhirnya melebar menjadi hampir 30 menit karena daya tarik dari toko-toko di sepanjang jalan yang terbuat dari paving block. Di sisi kanan dan kiri berderet kafe-kafe yang menggelar berbagai pilihan gelato, pizza, aneka pasta dan makanan khas Itali lainnya. Kemudian 'pagelaran' toko suvenir kecil seperti topeng, pakaian, pernik-pernik juga merupakan daya tarik yang cukup kuat. Toko sepatu dan tas juga tidak mau kalah menarik perhatian pengunjung yang mayoritas adalah turis. Akhirnya kami sepakat untuk bergegas ke hostel dan meletakkan gembolan tas dahulu baru kemudian melanjutkan 'gerilya' kami.

Hostel Allogi Geroto Calderan terletak di Lista di Spagna - salah satu jalan utama- dan di pojokan suatu square yang besar Campo San Geremia. Lokasi yang sangat strategis dan harga yang terjangkau EUR28 per orang untuk kamar kapasitas 4 orang.

Rialto Bridge dan George Clooney (?)
Setelah berganti sandal yang nyaman, menenteng jaket dan kamera, kami memulai gerilya kami. Tujuan pertama adalah Rialto Bridge. Lagi-lagi perjalanan ini banyak terganggu oleh deretan toko-toko di sepanjang jalan. Jalanan di Venice didominasi dengan paving block (mungkin semua jalanan) dan hanya dilewati oleh motor, sangat nyaman untuk pejalan kaki. Jalanan ini diapit oleh bangunan-bangunan tinggi yang sepertinya flat tempat tinggal, dengan lantai paling bawah dimanfaatkan sebagai toko. Deretan bangunan ini di beberapa titik dipisahkan oleh kanal sehingga jembatan-jembatan yang terbuat dari batu banyak sekali tersebar. Saya sempat berpikir, kok ngga ada anak-anak sekolah atau karyawan yang baru pulang kerja (saat itu adalah normalnya jam pulang kerja) dan kenapa sepanjang mata memandang hanya ada dua jenis manusia di sana, turis seperti kami dan penduduk lokal yang berjualan. Yang lain kemana?

Balik lagi ke Rialto Bridge. Mencari jembatan yang sangat tersohor sebagai "the true heart of Venice" tidak sulit. Di sepanjang jalan akan terpampang papan dengan anak panah "Rialto", tinggal ikuti tanda panah maka anda akan tiba di jembatan batu yang megah tersebut. Jembatan Rialto membelah kanal utama di Venice yang dikenal dengan Grand Cannal. Di sisi kiri dan kanan banyak berderet kafe dan gondola yang terpakir.


Saat kami tiba di sana sudah gelap dan kafe mulai ramai oleh pengunjung. Dengan view ke arah Jembatan Rialto dan gemerlapnya sisi kanal, kafe-kafe tersebut menawaran suasana romantis apalagi ditambah alunan biola yang secara live dimainkan. Kalau sudah begitu, saya hanya bisa berimajinasi berada dalam sebuah candle light dinner di pinggir kanal dengan iringan musik dari biola yang mendayu dan dengan seorang George Clooney di hadapan saya yang tersenyum manis menatap saya sangat dalam dengan matanya yang jenaka. "Ucrid!!! Ngapain loe senyum-senyum sendiri di situ! Ayo kita naik ke atas jembatan!!". Teriakan teman saya membuyarkan lamunan indah saya. Saya pun bergegas menyusul teman-teman saya. *sigh*


Malam itu kami habiskan dengan gentayangan di daerah seputar Rialto Bridge. Saya sempat ngiler dengan sepatu booth kulit yang terpajang di etalase toko yang sudah tutup. Kebanyakan toko di sini tutup sekitar pukul 7-8 malam kecuali kafe dan beberapa kios suvenir di pinggir jalan. Tapi lagi-lagi terbentur oleh pikiran "Gimana bawanya?". Salah satu ngga enaknya travel ala backpacking adalah keterbatasan tempat untuk bisa beli ini itu karena space yang terbatas di tas dan rute yang masih cukup panjang, tapi mungkin ini jadi salah satu berkah karena akhirnya kita ngga boros (tapi tetep lho saya masih kepikiran itu sepatu sampai sekarang!). Di beberapa titik kita bisa menemukan pengamen dengan alat musik mereka seperti biola, gitar, menambah suasana romantis kota itu.

Niat untuk mencoba gondola pun sontak kami batalkan mengingat harganya yang mencekik yaitu EUR 100. Kami cukup puas dengan berfoto dengan mas-mas pengayuh dengan seragam khas garis-garisnya itu. Sayang kami tidak berhasil membuat mereka menyanyi yang konon para pengayuh gondola memiliki suara indah ;-)

Kami mencoba pizza di salah satu kafe dimana banyak pengunjungnya memanfaatkan TV yang ada untuk nonton bola bersama. Cukup seru, entah siapa yang sedang tanding saat itu, tapi nikmatnya pizza seharga EUR 2 itu tidak membuat saya berpaling. Oiya, sorenya saya sempat mencicipi gelato yang merupakan cita-cita luhur saya jika menjejakkan kaki di tanah Itali ini. Simak ceritanya di "Gelato never dies".

Piazza San Marco
Esok paginya, kami memulai petualangan di pagi hari. Tujuan hari itu adalah ke Piazza San Marco. Berbekal peta dan tanya-tanya, kami menuju ke halte water bus di depan stasiun Santa Lucia. Harga tiket cukup membuat miris hati EUR 6 (Rp 72,000) untuk sekali jalan. Setelah mengantri bersama dengan orang-orang yang umumnye berangkat kerja, kami tiba di Piazza San Marco sekitar 45 menit kemudian. Water bus itu seperti layaknya bus umum di darat, mampir ke beberapa halte yang dibangun di atas air, jadi mengambang.




Tiba di Piazza San Marco, kami disambut oleh antrian ular naga panjangnya. Mereka mengantri dengan tertib untuk masuk ke gereja basilika St. Mark. Gereja dengan bangunan eksterior yang sangat unik dan megah, yang pasti di dalamnya pun menawarkan design yang tak kalah uniknya. Sayang karena waktu yang terbatas, kami memilih untuk menikmati dari luar saja bersama dengan burung-burung dara. Dengan sisa cookies yang kami beli sehari sebelumnya, kami meremas cookies itu di telapak tangan dan membentangkan ke atas. Hanya dalam hitungan detik berpuluh-puluh burung dara menghampiri dan mematuk-matuk remahan itu dari tangan kami. Wuaaaa...seruuuu...!! Kami berempat heboh sendiri dan alhasil kegiatan itu diikuti oleh turis-turis lainnya yang awalnya hanya tertarik melihat kenorakan kami :-)


Beberapa saat kemudian kami nikmati dengan duduk-duduk di tengah lapangan yang besaaaar itu, mencoba meresapi pengalaman ini. Udara cukup sejuk pagi itu dengan sinar hangat matahari. Walaupun suasana sudah mulai ramai pengunjung, tapi masih termasuk nyaman. Beberapa kios suvenir tersebar di beberapa sudut. Barang yang ditawarkan umumnya adalah kaos, syal, topi, snow ball, topeng khas Venice, dll.



Water taxi dengan rate Rp 720,000!!
Tidak sadar, waktu semakin siang dan kami tidak sadar jam yang terus bergulir. Ketika waktu sudah mepet, kami terlambat menyadari kalau tidak akan cukup waktu untuk kembali ke hotel dan mengejar kereta, dengan water bus seperti saat berangkat. Akhirnya tawar menawar dengan water taxi, kami memutuskan untuk menggunakan taxi ini. Cukup miris harganya yaitu EUR 60 untuk perjalanan sekitar 20 menit. Taxi ini semacam speed boat yang cukup nyaman dengan semi-sofa di bagian penumpang yang beratap. Tidak sabar dengan santainya bapak supir, kami beranjak berdiri di anjungan kemudi, dan memohon agar mempercepat laju. Tapi perjalanan di kanal-kanal yang sempit rupanya tidak mudah, belum lagi jika berpapasan dengan boat yang lain, maka kadang salah satu harus ada yang mengalah untuk mundur. Aaaahh....kamipun semakin stres karena waktu kiat mepet.

Begitu tiba di halte, kami langsung berhamburan lari ke hotel, ambil tas gemblokan yang sudah siap angkut dan lariiiii ke stasiun!! Waktu hanya kurang dari 10 menit dari jadwal kereta kami. Akhirnya kami berhasil tiba di stasiun setelah 6 menit kami berlari.


What a day!

Perjalanan kami selanjutnya adalah ke Roma. Simak ceritanya di link ini: The great ancient Rome

Sunday, January 22, 2012

The great ancient Rome

Roma menjadi salah satu kota yang saya dan ketiga travelmates saya kunjungi di bulan Mei 2011 lalu dalam 18 hari trip di Eropa. Saat itu cuaca cukup panas tapi gaung dari kemegahan Roma yang saya dengar sebelumnya membuat saya terus semangat untuk mengunjungi satu persatu yang menjadi highlights kota yang seperti 'lumbung' peninggalan berabad-abad lalu. Masih banyak sebenarnya yang belum sempat dikunjungi karena keterbatasan waktu dan tenaga juga, so seperti kata Bang Arnold di Terminator "I'll be back!!" :-) ....dan ngga di summer pastinya!

Semua perjalanan antar obyek wisata dilakukan dengan bus yang tidak terlalu sulit, hanya beberapa rute mesti cukup sabar menunggu di halte. Harga tiket bis kalau tidak salah ingat EUR 1 dan bisa dibeli di kios rokok/minimarket, dll.


Colloseum

While stands the coliseum, Rome shall standWhen falls the coliseum, Roma shall fall
And when the Rome falls, the world...

Penggalan puisi itu cukup dahsyat menggambarkan kekuatan Colloseum, sampai-sampai jika runtuh, maka seluruh Roma akan runtuh dan akhirnya dunia pun akan collapse. Menyaksikan Colloseum dari dekat pastinya beda dengan gambaran yang ada di internet atau brosur, beda karena aura dari "kedahsyatan" itu begitu terasa. Aura itu akan lebih terasa saat kita bisa masuk ke dalamnya, dimana amphiteater yang konon bisa menampung hingga 87,000 (!) orang menjadi saksi bisu kegagahan para gladiator bertarung, dan beberapa tewas mengenaskan.


Selagi di dalamnya, coba rasakan (dan juga sedikit berimajinasi tentunya) teriakan gemuruh penonton yang memuja gladiator yang gagah berdiri di tengah lapangan, sebelum bertaruh nyawa dalam pertarungan berdarah. Bayangkan gladiator yang tewas bersimbah darah atau pekik penonton yang menggila menyambut kemenangan gladiator. Tidak heran jika konon banyak yang bilang tempat itu berhantu, hantu dari para gladiator yang tewas. Wuiiii...saya sempat merinding.




Ada satu cerita yang saya sempat baca di salah satu sumber. Ketika Colleseum mengalami beberapa kali pemugaran dan beberapa batu berserakan di sekitarnya, ada seorang penduduk (mungkin tukangnya kali ya) yang mengambil salah satu batu itu untuk dipakai pemugaran di rumahnya. Cerita punya cerita, setelah itu, orang-orang di rumahnya sering sekali mendengar suara aneh seperti tangisan. Mereka menduga suara itu berasal dari batu tersebut dan karenanya batu itu kemudian diangkat, entah dikembalikan atau diapain.


Dua kali ke Colloseum, saya kebetulan datang selalu sore hari dan pemandangan sungguh menakjubkan. Sinar matahari sore yang masuk ke selah jendela memberikan efek yang cantik di foto. Selain itu, turis sudah mulai sepi sehingga proses penghayatan suasana lebih berasa (halah!). Oiya, di salah satu pintu gerbang, berdiri seorang "gladiator" lengkap dengan kostumnya untuk melayani turis yang ingin foto bersama. Cukup dengan merogoh kocek EUR10. Kalau saya malas, yaaa salah satunya karena si om gladiator itu jauhh banget dengan bayangan Russel Crowe yang ada di benak saya :)


Spanish Steps

Deretan 138 tangga ini sekilas sih kelihatannya biasa aja. Tangga gitu lho, dimana juga sama aja. Tapi salah satu hallmark kota Roma ini selalu dipadati pengunjung baik penduduk lokal maupun turis. Ngga ada sesuatu yang istimewa yang mereka lakukan selain kongkow2 dan ngobrol. Mungkin ini yang bikin menarik. Ngobrol di tangga, di udara terbuka dengan view orang lalu lalang di bawahnya.



Waktu saya di sana, ada salah satu pasangan yang sedang melakukan foto pre-wed. Saya yang ngeliatnya kok jadi berasa gerah sendiri. Bayangkan, saat itu tengah hari bolong yang panasnya udah kayak dipanggang, dan si calon mempelai wanita pakai baju ala cinderela dengan full make up dan ngedeprok di tangga sambil bergaya dengan sang cowok. Cukup menjadi tontonan orang-orang tapi mereka sih cuek bebek banget. Kalau saya, mbok ya pagi-pagi gitu lho atau agak sorean, yang mungkin ngga serame itu dan agak ademan juga.

Nama Spanish Step konon diambil karena letak kedutaan Spanyol yang berada di sana. Di ujung atas tangga ada gereja dan dibawah tangga ada kolam air mancur. Banyak pedagang yang berjualan bunga mawar merah batangan. Teman saya cukup kecele juga ketika ada seorang pria mendekati dan memberinya bunga "Miss...this flower is for you because you're so beautiful." Temen saya cukup tersipu namun ekspresinya seketika berubah ketika si mas penjual meminta harga dari bunga itu! Hahaaha...! Jualan juga buntutnya! :-)

The Vatican Museum

Sebelumnya saya ngga pernah suka yang namanya museum. Menurut saya, museum itu hanya bagus untuk foto-foto saja, dan merupakan tempat yang membosankan, bikin ngantuk. Tapi pendapat itu rasanya langsung runtuh begitu saya mengunjungi Museum Vatican.


Pagi itu rencananya saya dan ketiga travelmates saya berniat hadir di acara pemberian berkat langsung dari Paus Benedict di area basilika St. Petrus. Tapi karena acara baru mulai jam 1030 dan kami tiba masih sekitar jam 9, maka kami putuskan untuk ke museum Vatikan dulu. Lokasinya agak di luar dari basilika dan antrian masuk cukup panjang, tapi tertib. Setelah antri kira-kira 30 menit, kami mesti menitipkan tas tapi kamera untungnya boleh dibawa.


So what's so special about this place? Hmm...it's gonna be a very looong list to mention! It's trully the work of art! Begitu masuk, dengan suksesnya saya dibuat ternganga oleh satu lorong yang penuh lukisan-lukisan yang seperti hidup dan melayang. Tidak hanya terpajang di dinding, namun tersebar di sepanjang langit-langit, makanya mereka seperti melayang saking terlihat hidupnya. Ada juga lukisan (gambar di bawah) yang digambar di media batu, namun in such a way bisa bikin gambar itu seperti 3 dimensi dan seperti patung.


Salah satu highlight di museum ini adalah Sistine Chappel, yang merupakan tempat tinggal Paus. Di kapel yang dingin ini pengunjung tidak boleh mengambil foto dan berisik. Beberapa petugas dengan tampang sangar tersebar di sudut kapel dan di antara pengunjung. Mereka sering meneriakkan "Silenso...Silenso!" yang artinya "Harap tenang"...tapi mereka sendiri teriak-teriak, hihihi...gimana sih, om? Tempat ini indah sekali dan godaan untuk memfotonya sangat kuat. Ajaibnya, walaupun ngumpet-ngumpet dan tanpa blitz, para petugas itu tahu lho kalau ada yang ambil foto dan akan tidak ragu untuk mendamprat mereka.

Saya sendiri memilih langsung mencari duduk di pinggir kapel, menikmati suasana hening (agak rame juga sih). Aura dari kapel ini membuat hati serasa tenang. Saya sempat berpikir "Gila juga nih yang ngelukis, apa ngga pegel yah lehernya ngedongak ke atas terus, mau pake tangga kek, atau scafolding atau apapun itu. Dan apa matanya ngga perih yah kena cat". Dan ternyata konon sang maestro, Michelangello menjadi buta karena kegiatan melukisnya ini. A man with incredible passion and unbelievable determination!

Di museum ini, total ada 54 galleries, dan di awal kita dibekali satu buat alat audio lengkap dengan ear phone nya untuk mendengarkan cerita dari masing-masing spot, yang kita bisa pilih dengan mengatur 'klik'. Jadi saran saya, sediakan waktu minimal setengah hari untuk meng-eksplor tempat ini. Kalau capek, duduk aja dulu, baru kemudian lanjut lagi. Cerita dari masing-masing tempat cukup menarik.

Jangan lupa untuk mencoba tangga spiral yang ada di pintu keluar. Saya yang benci sekali tangga yang curam, awalnya agak takut dan gemeter juga liat tingginya tangga itu melingkar, tapi setelah dijalani, it wasn't that scary :-) *belagu*


Via de Condotti
Jalan ini cukup "menyeramkan", bukan karena banyak copet (ini sih hampir di semua tempat) atau banyak kriminal, tapi karena sepanjang jalan ini bertebaranlah butik-butik kelas dewa. Sebutlah Dior, Gucci, Bvlgari, Channel dll...ngeri kan? :-)

Dari luar sih, eksteriornya 'biasa' aja, dan katanya pelayanan mereka juga cukup manusiawi kok, dalam artian ngga diskriminasi. Pelanggan yang pakai sendal jepit dan ber-pack ria akan diperlakukan sama dengan yang celetak celetok pakai stiletto, full make up dan harum. Jadi kalau mau masuk, sok aja coba. Saya dan ketiga teman saya malah asyik mengejar 'om gladiator' alias seorang yang berkostum gladiator lengkap, yang seru buat diajak foto...hahaha...ngga penting banget!!!







Aksi cat-semprot yang memukau

Siapa bilang cowok-cowok Itali sebagai mahluk Tuhan yang paling indah itu hanya bisa bergaya dalam balutan suit yang necis, atau flirting dengan wanita, atau beraksi dalam film-film mafia...masih banyak lho yang rela bermandi keringat dan cat, ngedeprok di pinggir jalan dan beraksi dengan kanvas dan aneka botol cat semprot. Aksinya sangat menarik dan menghasilkan karya yang menarik pula. Dengan cat semprot dan beberapa bentuk cetakan kertas/karton, mereka beraksi menghasilkan gambar dengan berbagai efek warna. Tanpa sketsa, tanpa kuas, hanya dengan dengan cetakan, dan gesekan koran...voilaaaa....jadilah gambar cantik seperti di foto di bawah ini. Gambar ini dijual dengan harga EUR10. Kalau saya ngga kepikiran ribet ngebawa dalam backpack saya, pingin banget bisa beli gambar itu. Aksi lukis-semprot ini saya temukan di jalan menuju Trevi Fountain.


The Trevi Fountain

Salah satu a-must-vist-place di Roma adalah Trevi Fountain! Taraaaaa....!! Bunyi gemercik airnya dan bening kolamnya benar-benar menggoda saya untuk nyebur ke dalamnya, di tengah cuaca Roma yang hari itu seperti punya matahari dua! Air mancur ini sebenernya (menurut saya lho) biasa aja, tapi design patung-patungnya itu owkey banget! Tapi saya rasa yang menyebabkan fountain ini begitu mahsyurnya di seluruh jagad raya adalah mitos yang berkembang, entah benar atau tidak, but there's no harm in trying, isn't there? :-)

Mitos mengatakan jika kita melempar satu koin dari bahu kanan, konon kita akan bertunangan tahun depan. Namun jika kita melempar dua koin, maka kita akan menikah. TAPI hati-hati jika melempar dua koin dari bahu kiri, artinya kita dapat bercerai tahun ini. Atau pilihan terakhir adalah lempar satu koin dari bahu kiri, yang dipercaya akan membawa kita kembali ke Roma. Awas, dihapalin yah, jangan sampai ketukar. Amannya sih, sedia koin banyak: lempar satu lewat bahu kiri, kemudian satu koin dari bahu kanan dan terakhir dua koin dari bahu kanan juga. Artinya, kita akan kembali ke Roma, kemudian tunangan dan akhirnya menikah di Roma! Dengan cowok Itali juga tentunya! Hahaha...paket komplit!!


Untuk menuju tempat ini, cukup pasang mata ke beberapa signage di jalan yang menunjukkan panah ke arah fountain, yang terletak di antara gedung-gedung bertingkat. Jadi tidak terlihat dari jalan utama. Perhitungkan waktu ke sana, karena kesalahan saya adalah saya berkunjung siang hari bolong dimana pengunjung tumpah ruah seperti cendol dan alhasil untuk foto pun, harus berkali-kali bilang "Excuse me, sir...". Mungkin sore hari bisa jadi pilihan yang tepat.


The Vittorio Emanuele monument

Monumen ini sebenernya ngga sengaja saya "temukan" ketika sedang menikmati pemandangan kota dari dalam bus yang membawa saya dan ketiga teman saya kembali dari Trevi Fountain menuju Collesum. Monumen yang sekilas mirip dengan gaya istana merdeka di Jakarta terlihat seperti "baru" karena warna bangunannya yang putih kinclong, berbeda dengan rata-rata bangunan lain yang cenderung natural. Letaknya yang pas di tengah persimpangan besar cukup menarik perhatian.



Ternyata memang monumen ini tergolong baru karena 'baru' mulai diresmikan di tahun 1911, jauh beda dong sama 'kakak-kakaknya' yang hadir bahkan sebelum masehi. Monumen ini untuk menghormati raja Vittorio Emanuele yang konon berhasil menyatukan Itali untuk pertama kalinya. Monumen ini juga menyediakan akses untuk pengunjung naik hingga ke atas bangunan untuk menikmati pemandangan kota Roma. Entah apakah gratis atau bayar. Saya yang sudah 'pe-we' di dalam bus, tidak tergoda untuk turun untuk mencobanya dan cukup foto dari jendela bus yang berjalan (huh! pemalasss...hehe)

Friday, January 20, 2012

Notes from a dear friend

End of last year, surprisingly I received a message from a dear friend. I don't know about you, but it was quite seldom for me to receive a message or letter or notes, or whatever that is, which conveyed how a friend sees you, how they feel about you, etc... While reading it, I was like thinking "is that me? really? did I do that?". Well, I certainly realize my habits, how I do things, but still it feels strange to look all of them from the eyes of others. Anyway, I believe there is a purpose for every person that we meet. Some are there to test you, some will use you, some will teach you, and some will against you. And this friend, my coffee buddy, has certainly taught me a lot, especially how to be a bit more "human" , to relax and enjoy life! Wherever you are now, however life treats you, my pray and thoughts will always be with you, my friend... :)

Pertama kali masuk, gw sempt diinterview sama elo. Actually from the very beginning, quite curious sama yg namanya Astrid Damayanti. I have this sense, this girl is different :) and actually not easy either buat deket ama elo ya.. Hehe..

Gw mantau gerak gerik elo yg cekatan, yg setia duduk di kursi depan laptopnya berjam2.. Dalam hati gw waktu itu "Gile juga ni anak satu, apa pinggangnya kagak pegel ya? Gesit bgt... Hmmm... But somehow she's not that happy, I wonder why".. Itu yg gw rasain saat itu en ternyata ada sebagian yg salah, you always find your way for happiness! Even thru small things :) Full of spirit, positive minded.. And sometimes I thought at that time you were too ambitious, but again, I was wrong..

The more time goes by, the more I understand you :) You are one of the toughest friends I've ever known. And I am blessed to get to know you in person. Loe memberikan contoh yg baik buat orang2 di sekeliling elo tanpa loe notice, which is very good! :)

My wish, loe gak akan putus semangat dan harapan atas apapun yg loe ingin raih... One day, we can both sit down and flash back atas kehidupan kita masing2 and can laugh laugh with a cup of latte and my ciggy of course.. Hehe..

Hhhhh.. How time flies ya.. But good friends will never die. If you need a friend to cry or share things, you can count on me.. Insya Allah.. I value our friendships & won't ever forget nice things you have done for me, it meant a lot to me.. Thanks a bunch ya buddy! I know this will sounds *yucky* but you are one good hell of a friend that I care much top of people you might think when I was in still in the same office with you- secara gw juga gak punya banyak temen di sana, gak penting juga. Hahahaha!! Please take care of yourself, its a big world and lots of dangerous species outhere ;)

HUGS! and have a new spirit 2012, God Bless You, Astrit :)

My 2011 moment of truth

Without any intention to be such a melancholic person, I find it interesting to list down some of my most personal interesting moments in 2011 - just for fun ;-)

Most unfortunate event
Hmm… the first thing that came to my mind is when I successfully got thrown out from a running motorcycle (Ojek) and hit the ground (after banging my neck to the automatic stopping bar of a parking gate)...phewwww... This actually happened in the very end of December 2010, but the pain still remained until weeks afterward. Luckily doctor has confirmed that no serious injuries on my body especially the back neck ;)


Most exciting moment
I could say I was quite blessed to have the opportunity to do ‘big’ travels twice this year! The Europe trip was quite an experience for me in every aspects of it. Going on a trip to the world’s capital of adventure, New Zealand, has certainly adding another great value into my life.


Most boring moment
Hmmm...funny is that I can't think of any... I enjoyed every bit of my life, be it glorious moments or gloomy days, or even those in between. I could always find ways or things to do to occupy my mind so that I didn’t have time to feel bored….well, the worst case is you could always go to sleep, right? *wink*


The most adrenalin-rush activity
My recent skydiving in Taupo, New Zealand definitely ranks the top of my list!
The next one is when I have to deal (again!!) with my fear of the "invisible friends" at home. But I learned that sometimes it is all about our mind, how we can take fully control of it to help us direct our action. In short, I learn (still learning!) not to be afraid of them! huhuuhu....


I laughed most when...
Hmmm… I don’t remember the details of each reason when I burst into laughing, but I guess it is like hearing a sermon during Sunday mass at church – you could hardly remember the detail message but somehow it has managed to touch your soul and make you feel blessed, happy and even renewed.


However, there’s a friend whom never failed to make me giggling just simply by looking at his facial expression. He doesn’t have to say or do anything – Salam gegot, Patar Simatupang!! Hahaha..


Also the “injury time” incident at Salzburg train station was quite a huge laugh that I shared with my 3 travelmates: Dewi Sekar, Indah F Sari and Olivia AS


In any cases, I always believe that if you want to be happy, just be! You don’t need anyone or anything or any reason to make yourself happy. It is the ultimate decision you can make every single day, every single second in your life. Isn’t it amazing?? That is what I learn from Christian Saja.


Most exciting event organizing
The year of 2011 was quite packed with events organizing especially at work. Other than the regular workshops/seminars, organizing the participation in one big electric exhibition was the most challenging one for me – both mentally and physically. Months of preparation and 4 days of execution were quite a mind-stressful for me.


Then only in a week, another one was coming up again. And then (again) organizing a company family day attended by over 1400 people was quite stressful. Oh dear...


Most happy moment
My (late) father still remains the center of my happiness! Everything that comes around him has always given me special meaning. This year I was really happy and relieved that he has “a new home”. In my local culture (Javanese), after 1000 days of someone’s departure, we are encouraged to build a permanent place – changing the temporary grave. And last April (a bit late, but exactly on his 3 year memory), my brother and I went to the family cemetery in Solo to see the construction of his “new home”.


So, that is my story.... what's yours?

Saturday, December 17, 2011

Catatan (ngga terlalu) singkat trip Eropa

I have been receiving requests for an itinerary of my last trip to Europe. So to make it easier, I'm posting it here. Hope this helps those of you who are starting to plan the trip. Personally, it was a quite an experience for me and my other 3 friends, but of course there are certainly parts that could've been planned better and on top of all, less tiring :)

Flights:
Kuala Lumpur - Paris (Orly airport) menggunakan Air Asia selama kurang lebih 13 jam.

**Tips: Perjalanan dengan budget airline dimana ngga ada tv/in-flight entertainment, sebaiknya siapkan buku, cemilan, majalah, kartu remi/uno, games, dll yang bisa bantu untuk killing time, supaya ngga mati gaya :)

Train
Untuk perjalanan antar kota/negara, saya memanfaatkan Global Pass dari Eurail yang telah dibeli di Jakarta (detail infonya terselip, tp mungkin bisa ditanya ke mbah Google. Kantor perwakilannya di daerah harmoni). Untuk beberapa rute, khususnya di Itali, diperlukan reservasi terlebih dahulu dan ada biaya tambahan yang besarnya bervariasi (EUR 3-10). Namun reservasi ini akan menjamin ketersediaan bangku terutama untuk musim tertentu dan jadwal perjalanan tertentu.

Global Pass menawarkan beberapa keuntungan discount, salah satunya untuk mountain train di Interlaken. Selain itu kita berhak mendapatkan fasilitas kelas satu (namun beberapa rute harus puas di kelas 2). Jadi tidak ada salahnya untuk mempersiapkan ini sebelum berangkat. Dan jangan lupa untuk meng-aktivasi tiket tersebut begitu kita tiba di sana. Terlebih lagi, hati-hati jangan sampai disambar copet karena tidak ada penggantian untuk tiket yang hilang (nyesekkkk benerrr kalau sampai hilang).

Day 1
Begitu landing di Orly airport, rencananya kami akan ke Brussel dengan kereta yang berangkat dari Gare du Nord station. Dari Orly, kami mengambil kereta dengan tujuan Antoni sebelum ganti kereta menuju Gare du Nord (station).

Tiba di Brussels sekitar jam 11 malam dan langsung menuju hotel (sutra la ya...cerita detail gimana kami kesasar tengah malam gentayangan di kota Brussels akan diceritakan terpisah). Sebenarnya di Brussels ini hanya numpang tidur aja karena tujuan utama adalah Kaukenhof dan Amsterdam di Belanda. Alasan utama transit dan bermalam di Brussels adalah untuk menghindari reservation fee kereta yang cukup mahal jika ditempuh langsung dari Paris ke Amsterdam selain masalah waktu yang terbatas juga - tiba di Amsterdam lepas tengah malam bukan pilihan buat kami.

Day 2
Pagi-pagi melanjutkan ke Kaukenhof dengan transit di Leiden dan lanjut dengan bus yang langsung mengantar ke Kaukenhof sekitar 30-45 menit. Sore harinya dari Amsterdam, kami naik night train/sleeper menuju Prague, Ceko. Berangkat dari Amsterdam jam 7 malam. Sleeper ini menawarkan beberapa pilihan antara lain couchette (kompartemen yg diisi 2/4/6 tempat tidur lipat), reclining seat (tahu la ya, kursi yang bisa dinaik-turunkan sandarannya) dll. Tentu ada biaya tambahan yang besarnya kalau tidak salah sekitar EUR20-30.


Day 3


Tiba di Prague sekitar jam 9.30 pagi dan langsung menuju hotel untuk menitipkan barang, berhubung belum boleh check in. Hostel yang kami pilih, Miss Sophie sangat apik dan dengan harga terjangkau dan lokasi yang cukup dekat dengan stasiun. Kami langsung bergegas untuk menjelajah kota hingga malam. Old Quarter, Charles Bridge, flea market, Prague castle, dll adalah diantara obyek wisata yang ditawarkan Prague. Oiya, jangan lupa untuk menukar uang dengan Czech Crown karena di sini berbeda dengan negara lain di Eropa yang umumnya menggunakan Euro.



Day 4


Perjalanan ke Salzburg, Austria ditempuh sekitar 6 jam dari Prague. Hotel yang kami pilih adalah Yoho International Youth Hostel dengan rate EUR 17, yang ditempuh cukup dengan jalan kaki sekitar 10 menit dari stasiun. Setelah beristirahat sejenak, kami memutuskan menjelajahi kota dengan sepeda yang disewa dari hostel dengan harga EUR 10. Obyek wisata yang menarik - selain kotanya sendiri yang sangat indah - adalah Hohensalzburg, Mirabel Platz (beberapa spot dari film Sound of Music ada disini), Salzburg Museum, Mozart, dll. Udara di Salzburg saat itu (bulan Mei) cukup dingin dan semakin dingin menjelang malam.








Day 5
Siang hari kami bertolak ke Venice, setelah sebelumnya mengalami "insiden" kecil nan lucu (Baca: Sepenggal cerita injury time di Salzburg). Perjalanan sepanjang rute menuju Insburg (transit pertama) dan Venice menawarkan pemandangan yang sunggu spektakuler. Bukit-bukit hijau dengan latar pegunungan alpen sungguh kombinasi yang sangat indah. Tiba di Venice sekitar jam 16.30 dan disambut dengan pemandangan "indah" dimana cowok-cowok Itali yang sungguh "indah" berseliweran di depan mata. Ooooh...! :-)



Beruntung sekali karena hostel yang kami booking Casa Gerotto & Alloggi Calderan, dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih 10 menit (jalan) atau 6 menit (lari - dan kami benar mengalaminya esok harinya). Adalah wajib hukumnya untuk mencoba gelato di sini selain mengunjungi Rialto Bridge, St. Marco square, makan pizza, dll.



Day 6
Pagi hari kami masih berkesempatan mencoba water taxi dan water bus, yang menjadi ciri khas Venice. Maksud hati mencoba gondola, tapi dengan harga EUR100, kami mengurungkan niat itu. Siang harinya kami bertolak ke Roma yang ditempuh sekitar 4 jam.


Tiba di Roma Termini station, kami melanjutkan dengan kereta lagi ke sisi kota dimana hostel kami berada. Hotel Lodi terletak cukup jauh dari pusat kota namun cukup nyaman dan transportasi relatif tidak sulit. Hari itu kami mengunjungi Colloseum saja.



Day 7,8

Dua hari berikutnya kami mengunjungi Vatican City (Vatican Museum is really a must!!), Colloseum (lagi), Trevi fountain, Spanish step, dll. Dengan cuaca yang cukup panas (karena menjelang summer) ditambah beberapa pekerjaan konstruksi, membuat perjalanan agak kurang nyaman buat kami. Namun setangkup gelato cukup rasanya mengobati gerah yang ada. Seperti biasa, jangan lupa untuk meminta peta dari hotel dan petunjuk alat transportasi yang dalam hal ini rute dan nomer bus. Hanya beberapa rute terbatas yang dapat ditempuh kereta, selebihnya lebih nyaman dan cepat menggunakan bus.


Day 9

Kami bertolak menuju ke selatan dengan tujuan utama adalah Amalfi Coast sebelum esoknya menuju ke Capri Island. Dari Roma kami ganti kereta di Napoli dan Salerno, dan kemudian melanjutkan dengan bus ke Amalfi Coast. Cukup "mengharukan" perjalanan ini karena lelah dan udara panas yang ada. Sebelumnya kami mampir ke Pompeii untuk melihat reruntuhan kota yang konon terkubur karena adanya letusan gunung berapi, sehingga beberapa "mummy" masih dapat dilihat, dengan posisi tertentu sebelum letusan/awan panas letusan mengenai mereka. Kami menginap di Scalinatella Hostel dengan Bapak pemiliknya yang sangat ramah. Jangan lupa untuk bilang ke bapak supir bus untuk menurunkan di halte Atrani. Perjalanan dari Salerno ke Atrani/Amalfi Coast sangat indah. Hamparan lautan mediterania dengan bukit-bukit hijau yang mengelilinginya cukup menghibur perjalanan sekitar 1 jam.


Day 10

Seharian ini kami habiskan di Capri Island yang ditempuh dengan ferry dari Amalfi Coast. Biaya per sekali jalan sekitar EUR 17.5 dan dikali dua untuk rute pulangnya. Pulai Capri konon cukup terkenal di kalangan artis Hollywood sebagai tempat liburan. Dan memang pantainya yang indah dan keunikan kotanya membuat nyaman siapapun yang menghabiskan hari di sini. Ada blue geroto (gua karang dengan keajaiban air birunya) dan jangan lupa untuk mengambil tour mengelilingi pulau dengan ferry, kalau tidak salah sekitar EUR 10. Juga untuk naik ke puncak dengan vernacullar (kereta dengan ketajaman tanjakan rel yang cukup tajam. Seru!!) sekitar EUR 6. Sekembalinya kami di Amalfi Coast, kami sejenak istirahat dengan duduk di sudut cafe menikmati gelato di tangan sambil menikmati "keriaan" masyarakat setempat yang berkumpul untuk suatu acara (seperti dialogue terbuka dengan pimpinan masyarakat setempat).



Day 11

Pagi buta kami memulai perjalanan ke Interlaken, Swiss dan disambut dengan hawa dingin dan hujan. Kota kecil yang diapit dua danau besar dan dikelilingi pegunungan alpen dengan salju abadinya menempati tempat khusus di hati saya pribadi. Entah apa, namun sungguh nyaman berada di kota kecil ini (Baca: Interlaken - a little piece of paradise). Sore itu cukup sepi dan beberapa toko sudah tutup, demikian juga rumah-rumah penduduk, nyaris tidak terlihat adanya aktifitas.


Day 12

Kami mengunjungi Jungfraujoch atau yang dikenal sebagai stasiun kereta paling tinggi di Eropa. Perjalanan menuju ke sana menawarkan pemandangan yang sangat istimewa. Padang rumput hijau, rumah-rumah kayu dengan cerobong asapnya, sapi-sapi yang sedang merumput, sebelum akhirnya melihat pepohonan dan padang berselimutkan salju. Untuk detailnya, bisa dilihat di link ini ya: Interlaken - a little piece of paradise. Jangan lupa untuk mencicipi makanan khas Swiss, Rosti dan Cheese Fondue. Ada yang bilang enak, ada yg kurang cocok. Yaa namanya juga selera kali yaa..


Day 13

Agak berputar sedikit memang sih rutenya dengan mampir dulu di Munich. Tapi kalau memungkinkan, why not? Di Munich tidak banyak yang kami kunjungi selain berkeliling di Marian Platz dan sekitarnya. Kami tinggal di hotel Meininger yang terletak tak jauh dari stasiun (jalan kaki sekitar 10 menit) dan 5 menit ke stasiun terdekat.


Day 14

Kami menuju Paris sebelum kami melanjutkan ke tujuan berikutnya: Barcelona! Yeay! Walaupun agak perjuangan karena penerbangan Ryan Air yang kami ambil take off dari airport Beauvais, yang terletak di luar kota Paris. Jadi dari Paris harus naik kereta dan lanjut lagi ke airportnya. Ngga susah sih, cuma mesti sabar. Tiba di Barcelona sekitar sore hari dan dengan airport bus langsung menuju ke Plaza Catalunya, pusat kota Barcelona. Kebetulan hostel kami tepat di salah satu gang di daerah tersebut.

Day 15
Karena lelah dan sedang males mikir, kami putuskan untuk ambil paket hop-on-hop-off dengan harga EUR 30 (kalau tidak salah....lupa, cuy) yang menyajikan beberapa rute antara lain stadion Barcelona yang bertetangga dengan markas klub Berca, Sagrada Familia dan beberapa tempat lainnya (mesti cari contekan dulu untuk nama-nama tempatnya). Namun dengan paket ini, cukup menghemat uang, tenaga dan waktu juga. Malam harinya saya menonton Flamenco yang sangat cantik! dan ditutup dengan menikmat Sangria, minuman campuran wine yang cukup menyegarkan. Kehidupan kota itu terutama di Plaza Catalunya masih menggegap walaupun waktu sudah menunjukkan hampir pukul 11 malam.


Day 16

Kami kembali ke Paris, juga dengan Ryan Air dan saya melanjutkan ke Lourdes yang terletak sekitar 6 jam dengan kereta ke arah selatan. Lourdes sebuah kota kecil yang menjadi tempat ziarah bagi umat Katholik. Saya dan teman saya sempat mengikuti misa tengah malam, yang walaupun disampaikan dalam bahasa prancis namun liturgis yang dipakai tetap sama. Komplek tempat ziarah tersebut cukup indah dengan adanya bangunan seperti "benteng" dan taman dengan aliran sungai kecilnya. Sedangkan suasana di luar bangunan tersebut padat dengan toko-toko souvenir dan juga cafe-cafe yang masih hingar bingar hingga tengah malam. Jadi yang beribadah ya ibadah, tp yang ajeb-ajeb di luaran juga lanjut terus.


Day 17

Setelah perjalanan delay sekitar 2 jam, saya dan teman saya bertemu dengan kedua teman kami di gerbang masuk Istana Versailles yang cukup megah dan luas (sumpah deh, mengelilingi tempat ini secara detail bisa memakan lebih dari 1 hari). Tamannya yang luaassss tapi juga indah.
Day 18
Kami mengelilingi kota Paris. Standard aja sih seperti umumnya turis yang datang ke Paris. Kami mengunjuni Eifel, river cruise di sungai Rheine, Notre Dame, Arc de Triomph, Louvre, Moulin Rounge dan tidak lupa menulusuri kawasan belanja di Camp Elysee yang terkenal karena butik-butik mewahnya.




Day 19

Kembali ke Jakarta dengan terlebih dahulu melewati "huru hara" di airport. Cerita detailnya menyusul yaa..


Demikianlah versi singkat (eh singkat kan?? ya sedikit dragging sih...hehe) dari trip ke Europe di bulan Mei lalu.

Sunday, December 4, 2011

Dancing in the sky! My first skydiving...

"You okay?" my tandem master asked when noticing that I have been staring blankly to the shrinking view over the plane windows.

"Yeap, cool" I replied, trying to look calm and solid.

I remembered that I've been wanting to this for the past few years, flying up in the sky, feel the breeze gently swept my face and finally the adrenalin rush, but I was actually thinking about paragliding and certainly not skydiving! And there I was, just few minutes from jumping from 12,000 feet high. The view beneath was all white clouds.

The camera-jumper lifted up the roller door, looked down and gave signal that the weather was not good.

"So we're gonna take another round. If the weather is still not good, we will have to cancel it and back to the ground. But let's hope for the best", said my tandem master. I felt a bit disappointed and yet kept on hoping that we could finally do the jump.

Allleluya! My prayer was answered. The "camera-man" gave his thumb, signaling that all was good! Phewwww...so relieved, but yet still nervous. Later on we found out that due to weather condition, the next group was not allowed to do the jump, so we could say we were so damn lucky! :-)

My cousin went first and it was time for me afterward. I couldn't feel anything nor think about anything. We shuffled towards the door and I was told to put my feet over the edge, turn my head to left for an exit camera snap, lay back my head to the shoulder of my tandem master, and....




"HERE WE GOOOO!! WE'RE FALLING!!,"

An exhilarating scream arose from my chest from the initial drop as we jumped out of the plane. It took a moment to realize we're facing the ground and I could see the ground below. The air rushed thunderously past my ears and although I knew we're dropping, it felt more like we were hovering. Floating in space while the wind roared.

"WHOOHOOOOOOO.....!!!" I tried to scream out to release the adrenalin rush and felt a bit better.
Check out my video and enjoy my super silly expression :-)


Another skydiver with camera suddenly was right in front of me with his camera facing to my face. I tried to look cool and give my best smile, though it was extremely difficult. How could you smile when the wind was strongly stretching your face! Many asked me a question if I could still breath properly. The answer is yes! I didn't have any problem in breathing while flying down. Yes, the weather was quite cool, but that's all. Probably I got too busy in enjoying it.

And then, after around 40 seconds, pppppffttttt....! I felt like we were springing upwards, and left the camera skydiver waaay downward and gradually disappeared. That was the time when the parachute was activated.

And now, there was only quite. I was sitting (or hanging to be exact) comfortably in the harness, and I finally had time to look around me.

I asked my tandem master about several places that I've seen up there, like which one was the Mount Ruapehu (or Mount Doom in the LoTR movie). He pointed one big mountain which was quite far away. So I felt more or less like Gandalf, flying on the big bird and picking up Frodo after he threw the ring at Mount Doom, haha...


"How many times have you done this?" I asked this to my tandem master. I knoooow... I should've asked this before getting on the plane.

"Hmmm... around 1400 times" he replied.

"Oh okay, then I'm really in good hands" I felt relieve.

"But I'm still not good at landing....haha...we'll see...," he mentioned, after asking if I were nervous.

"Ouch! That really helps!!" But somehow I knew that I would be ok. Then I countinued to enjoy the magical view of the great Lake Taupo, the city of Taupo, several mountains, etc. It was really amazing view!

My tandem master made some acrobatic actions, which made me scream a bit. He suddenly manuvered in speed and then release it so it felt like we're falling down without anything holding us from speeding, and it was cool! I like it!

The landing came all too soon. I touched down on the green grass, still feeling nauseous with adrenalin, but wanting to do it all over again....soon, not now! Hahaha...

Saturday, September 17, 2011

Gelato never dies... :)

Kalau banyak orang yang bilang makan coklat bisa mengembalikan mood yang drop, me-release stress, buat saya hal itu tidak terlalu manjur. Tapiiii.... ice cream has never failed to be my real mood booster! Dan trip saya ke Itali beberapa waktu lalu menjadi a dream comes true karena saya bisa makan es krim atau sering lebih ngetop dengan nama Gelato, sepuasnya!! Yeaay!!

Itali adalah benar-benar surganya gelato. Variasi pilihan rasanya banyak banget dengan nama yang aneh-aneh. Makanya ngga heran, saya bisa menghabiskan waktu 10-15 menit sendiri untuk bolak balik ngeliat di balik counter kaca, sebelum memutuskan rasa apa yang saya mau. Plus bawel dengan nanya ke mbak/mas penjaga counternya, tentang rasa ini bahannya apa, rasanya gimana, kalau digabung sama rasa ini enak ngga, dll. Kadang mereka dengan sabar nerangin informasi yang sebentar kemudian pastiii saya udah lupa lagi, dan alhasil...nanya lagi! hehe...kalau saya bisa ngerti bahasa itali, mungkin bisa ngerti kalau si mbak/mas nya yang ngedumel, plus lagi kadang saya hanya beli yang small (one scoop). Udah nerangin panjang lebar, belinya cuma satu scoop!!

Gelato memang sekilas mirip dengan es krim, yang membedakan adalah kandungan di dalamnya. Kalau es krim dibuat dari gula, susu dan krim, serta memiliki kandungan udara didalamnya (makanya ukurannya bisa menggelembung), maka gelato 'hanya' dibuat dari gula, gula dan telur, namun tetap dengan kandungan lemak yang lebih rendah dari es krim. Dengan adanya telur maka tekstur gelato lebih lembut, sehingga pada saat dimakan, gelato akan mencair dan kita akan merasakan sensasi lelehan gelato di mulut...yummmy!! (jadi pingiiin...)

Yang saya suka selain rasanya adalah penyajian gelato saat dijual. Untuk setiap rasa, biasanya suka ditempelin buah atau coklat beneran diatasnya, misalnya irisan buah mangga segar, gelondongan coklat mon cheri, atau taburan strawberry yang menambah cantik dan juga selera. Sehingga dengan nama rasa yang aneh aneh, saya bisa nebak rasa yang ditawarkan (kalau misalnya kepepet ngga enak nanya terus sama si mbak/mas penjualnya). Favorit saya adalah pistachio, liquor rum dan cherry. Yang rasa buah kok buat saya ngga istimewa ya (ya iyalah, rasa jeruk, mangga, berry, dimana-mana umumnya ya gitu-gitu aja). Selain itu, selain penampilan gelato, kadang "penampilan"yang jual juga cukup menarik lho. Ya iyalaaah...cowok Itali gitu loooh.... penjual sayur atau supir bis ngga kalah cakepnya sama bintang sinetron! Serius! hehe...iya, iya...seriusss...

Jadi selama 4 hari saya di Itali, setiap hari bisa dipastikan saya pasti beli gelato. Yep! Benar-benar tiap hari! Dan dari semua kota yang saya sempat kunjungi, ada satu yang paling enak, yaitu di Salerno. Ada satu kios di pojokan jalan, dekat stasiun kereta yang ternyata gelatonya enak banget, lebih gurih dan pas banget! Sayang untuk mencapai kota ini butuh perjuangan yang cukup mengharukan. Tapi bukan berarti gelato di kota lain ngga enak lho ya, tetep enak!

Harga gelato rata-rata sama di setiap kios. Untuk yang small (1 scoop) EUR 1.5-2.0, dan untuk yang medium (2 scoop) EUR 2.5-4.0, dan untuk yang large (3 scoop) EUR 4.5 -6.0. Untuk yang 1 scoop, ada yang membolehkan kita minta dua rasa, tapi ada juga yang ngga boleh. Untung-untungan ini sih.









Ngemeng-ngemeng masalah harga gelato, ada kejadian yang ngga enak sewaktu saya di Roma. Hari itu tengah hari bolong dan panas terik, setelah dari museum vatikan saya dan ketiga teman mampir di satu cafe yang ada kios jual gelato. Pas ngeliat price list nya, samalah dengan harga umumnya. Kami pesan masing-masing dua scoop dengan dua rasa. Si mas penjaganya bertanya mau take-away atau dine-in, kita putuskan makan di tempat sembari istirahat. Makan punya makan, pas bayar bill-nya, kita sempet shock, kok harganya beda. Dari yang harganya EUR 3/ea, kok jadi melonjak EUR 12/ea. Setelah di cek dan cek lagi, mereka bilang makan di tempat ternyata harganya beda...duuuh! Padahal bedanya cuma disajikan di gelas (ngga pake cone) dan tambah potongan kecil pastry (yang kita kira bonus). Jadi lebih baik pastikan sebelumnya ya.

Jadi begitulah tentang gelato. Si lembut manis yang hukum nya WAJIB dicobain kalau sedang di Itali. Di Jakarta sendiri, saya masih belum nemu dimana yang jual gelato enak. Kabarin ya kalau ada info.