Sunday, September 8, 2013

Discover Stockholm

Sambil masih menggendong backpack, saya dan teman saya (Indah) melompat turun dari bis yang membawa kami dari Oslo, Norway, merapat di City Terminalen, Stockholm. Waktu masih menunjukkan pukul 06:40 pagi. Kedatangan kami disambut dengan udara dingin yang menggigit, terlebih karena waktu masih pagi dan salju turun cukup lebat. Suhu saat itu sekitar minus 4 derajat celcius (angka yang tertera di petunjuk suhu di bis). Kami merapatkan pakaian tiga lapis kami dan juga syal, topi kupluk dan sarung tangan, sambil bergegas menuju gedung terminal.

Dengan berbekal city map dan print out petunjuk lokasi hostel kami, saya dan teman saya, Indah, langsung melangkahkan kaki untuk mencari hostel kami yang tidak terlalu jauh dari terminal bus tersebut. Hostel City Backpackers dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 10 menit. Thanks to Bapak tua di jalan yang sangat baik hati membantu mencarikan alamat tersebut. Namun satu kesalahan kami adalah berasumsi jika hostel akan buka 24 jam sehingga kami dapat masuk kapanpun dan menitipkan tas sambil menunggu waktu check-in di siang hari. Ketika tiba di depan hostel, kami mendapati pintu hostel masih terkunci, bagian dalam di Reception juga masih gelap dan tidak terlihat ada tanda-tanda akan segera buka. Petunjuk di pintu mengatakan hostel akan buka jam 09:00 pagi, artinya masih dua jam lagi! Olala!


Jangan lupa untuk pastikan jam operasi hostel atau info mereka jam kedatangan kamu. Jika kamu tiba diluar jam operasi, mereka dapat memberikan kode pintu masuk sehingga ngga perlu kedinginan menunggu di luar...hiks!
 

Kami memutuskan untuk menunggu (dan menghangatkan diri) di Seven Eleven (Sevel), tapi ternyata mini market tersebut tidak menyediakan sudut untuk menunggu sambil ngopi  seperti biasanya kedai Sevel. Akhirnya terpaksalah, kami duduk ngedeprok di pinggir jalan, di trotoar di depan pintu sebuah klinik dokter sambil menggerakkan badan agar tidak kalah oleh hawa dingin.

Kota Stockholm pagi itu terlihat mulai menggeliat. Beberapa orang sudah mulai beraktifitas. Pegawai coffee shop yang siap membuka kios nya, beberapa bus sudah mulai beroperasi dan beberapa orang bergegas menuju terminal dan stasiun yang letaknya berdampingan. Dengan jaket tebal, syal, sarung tangan dan topi, orang-orang berjalan dengan sangat cepat, seperti berusaha berlomba dengan udara dingin yang menerpa tubuh. Ada beberapa yang dengan santai mengendarai sepeda (wuiih...seperti apa ya dinginnya itu). Menarik sekali memperhatikan kesibukkan kota di pagi hari, sembari ngobrol ngalor ngidul sama Indah. Salju pun masih turun.


Jam 8:45, kami memutuskan untuk berjalan mendekati hostel dan menunggu di halte bus. Akhirnya tepat jam 9, lobi hostel mulai nampak tanda-tanda kehidupan. Setelah check-in (walaupun belum bisa masuk kamar), kami menitipkan backpack di storage dan memanfaatkan dapur untuk sekedar membuat kopi hangat dan mencuci muka di kamar mandi. Setelah merasa segar, kami siap untuk memulai penjelajahan kota yang berpenduduk sekitar dua juta orang itu selama dua hari ke depan.Yeay :-)

Saya bagi cerita saya tentang Stockholm dalam beberapa bagian, karena terlalu banyak dan kompleks yang bisa diceritakan tentang Stockholm, the city where sea meets lake :-)

Transportasi

"It is easy to move between the different parts of the city and many of its attractions can be reached on foot"

Kalimat ini saya baca di buku "Guide Stockholm 2013". Dan hal ini betul adanya ketika kami membuka peta dan melihat jarak antara spot-spot wisata sebenarnya tidak terlalu jauh, well...secara saya doyan banget jalan kaki.

Episentrum keramaian kota Stockholm terletak di daerah City Terminalen dan Central Station, dimana terdapat banyak pusat perbelanjaan, butik dan restauran bertebaran, yang umumnya beroperasi dari jam 10 pagi hingga jam 5 sore. Akhir pekan pun, kota ini tetap ramai, berbeda dengan beberapa kota di Eropa pada umumnya cenderung sepi di akhir pekan.

Jika jalan kaki bukan favorit kamu, atau waktu yang dimiliki terbatas, jarak yang terlalu jauh, atau fisik yang tidak memungkinkan or whatever reasons, beberapa pilihan kartu terusan untuk berbagai moda transportasi tersedia dengan berbagai pilihan dan tarif:

Single trip - berlaku untuk bis, kereta, dan trem:

1 jam : 36 SEK
24 jam: 115 SEK
72 jam: ....hmm..berapa ya, maaf, catatan saya hilang, hehe..

Ada juga Stockholm Card yang menawarkan kelebihan gratis masuk ke 80 museum dan atraksi di Stockholm, free travel by public transports dan sepaket informasi tentang atraksi di Stockholm. Kartu ini juga tersedia dengan berbagai pilihan harga:

1 day  : SEK 495
2 days : SEK 650
3 days : SEK 795
4 days : SEK 1050

Sebagai informasi nilai tukar saat itu (Feb 2013) adalah 1 SEK = Rp 1,700. Kartu tersebut dapat diperoleh di SL Center atau tourist information ataupun loket yang disediakan dan tersebar di stasiun ataupun terminal. Jangan lupa untuk mengaktifkan dengan cara "di jegrek" di loket atau tunjukkan ke 'kondektur' bis.


Stockholm central station yang terletak dekat dengan City Terminalen (terminal bis)


Jangan kuatir untuk tersesat. Berbagai papan petunjuk cukup jelas, brosur dan peta gratisan tersebar di beberapa sudut kota, petugas publik dan masyarakat yang ramah dan pusat informasi turis yang walaupun akhir minggu tetap buka. Dan tidak hanya itu, mereka juga 'menjemput bola' dengan adanya mobil pusat informasi di beberapa sudut kota.




Oiya, untuk transportasi dari pusat kota ke airport Arlanda - demikian juga sebaliknya terdapat beberapa pilihan moda transportasi. (hati-hati, Stockholm memilki dua airport yang berjarak cukup jauh satu sama lain, Skavsta airport untuk budget airlines. Untuk alasan ekonomis, saya dan teman saya memilih menggunakan bus (coach) Flygbussarna dari City Terminalen ke Arlanda airport dengan jarak tempuh 40 menit. Keberangkatan pertama jam 3.45 pagi hingga tengah malam, dengan biaya 99 SEK. Tiket dapat dibeli di loket khusus di City Terminalen. Atau jika terburu-buru, Arlanda Express adalah pilihan yang tepat, SEK 260/one way dan waktu temput 20 menit saja.

IKEA

Ketika mendengar kata "Stockholm", hal yang terlintas pertama kali di kepala saya dan Indah adalah markas besar IKEA! Toko perabotan yang terkenal dengan disain minimalis namun fungsionalis dibalut dengan warna-warna yang manis. Swedia adalah rumah asal IKEA dan menarik tentunya untuk mengintip koleksi mereka di negara asalnya, walaupun dalam hati mengingatkan diri untuk tidak kalap belanja (mau ditaruh dimanaaaa di tas? hiks...)
  

IKEA yang dikelilingi tumpukan salju

Ternyata koleksi dan harga yang ditawarkan tidak jauh berbeda dengan IKEA di Singapura. Mereka pun memiliki tata ruang yang kurang lebih sama. Saya dan Indah terus mengingatkan diri kami untuk menahan diri membeli pernik-pernik lucu. Beberapa dompet dengan warna yang manis, container dengan bentuk unik, lampu tempel laptop, adalah beberapa barang yang akhirnya kami beli, setelah berhasil memaksa diri meletakkan kembali sarung bantal, sprei (saya nyaris membeli gorden bercorak ungu manis). Setelah menghabiskan beberapa jam berkeliling bangunan empat lantai tersebut, kami merasa kelaparan. Pilihan berakhir di hotdog seharga EUR 1, dan saya menghabiskan 4 buah! :-)

Vasa Muset

Ini satu musem yang jangan dilewatkan. Apa sih yang menarik dari museum ini? Begitu kami masuk di area utama, langsung terbentang sebuah kapal kayu raksasa yang menjulang hingga atap bangunan yang sangat tinggi. Dialah kapal Vasa yang tenggelam di abad 17 dalam pelayaran perdananya, dan kemudian ditemukan dan diangkat ke permukaan setelah lebih dari 300 tahun terdampar di bawah laut (tahun 1961). 95% material kapal ini tetap dipertahankan seperti aslinya. Museum ini terletak di daerah Djurgarden dan ditempuh dengan trem selama 5 menit dari City Terminalen. Saya menghabiskan waktu sekitar 2 jam di sana. Jangan lewatkan pemutaran film sejarah proses pengangkatan kapal ini di teater kecil yang tersedia di dekat pintu masuk. Kalau tidak salah, hampir setiap jam ada jadwal pemutaran.

Kapal Vasa yang berhasil dipugar kembali setelah lebih 300 tahun terdampar di bawah laut. Siapa yang mengira 95% material kapal ini dipertahankan seperti aslinya!

 
Gamla Stan dan Royal Palace
Sungguh menyenangkan berjalan-jalan di Gamla Stan atau yang berarti Old Town. Daerah ini seperti sebuah pedestrian yang hidup, dimana di sisi kanan dan kiri terdapat berbagai berbagai toko unik, mulai dari toko souvenir khas Swedia, café dengan design yang hangat, museum, gereja, toko barang antik, toko buku baru dan bekas, dll. Jalanan yang lebih menyerupai lorong berliku diapit oleh bangunan tua setinggi kurang lebih tiga-empat lantai, yang beberapa dicat dengan warna cerah seperti merah, kuning, oranye. Walaupun sudah terbiasa dengan gang senggol di Jakarta, tapi saya tetap terpana dengan kawasan yang menawarkan suasana bak negeri dongeng ini, terlebih ketika saya strolling around di saat senja, perpaduan gelapnya malam dan permainan cahaya lampu gang dan teras rumah menambah bumbu daya tarik daerah ini. Saya berjalan berkeliling tanpa lagi pedulu dengan peta. Saya hanya mengikuti kemana kaki melangkah, menikmati suasana, merasakan hawa dingin yang menghangatkan hati saya, dan terus melangkah mencari dimana ada toko souvenir lucu :-)

Maaf ya, ngeliat gambarnya agak memiringkan kepala sedikit, ngga ketemu menu untuk rotate nih di blog ini

 

Selain ambience nya, salah satu daya tarik Gamla Stan adalah Royal Palace, dimana banyak turis menyaksikan prosesi pergantian penjaga istana. Seremonial pergantian penjaga ini tidak hanya melibatkan baris-berbaris standar, tapi juga adanya pasukan berkuda dan band militer. Prosesi ini digelar rutin setiap hari jam 12 siang, kecuali Minggu dan hari libur pukul 1 siang.

Royal Palace yang dulunya merupakan tempat tinggal keluarga kerajaan, konon katanya merupakan salah satu bangunan terbesar di dunia dengan lebih dari 600 kamar (seru pastinya untuk main petak umpet). Saat ini istana ini difungsikan sebagai kantor pemerintahan dan atraksi turis yang dapat mengintip kemewahan istana abad 17 ini dengan membayar admission fee.

Nobel Museum
Museum nobel ini terletak di tengah kawasan Glam Stan. Di museum berkonsep modern ini di bagian interiornya, kita bisa belajar sejarah Alfred Nobel serta berbagai inovasi yang membawa kebaikan bagi dunia. Fasilitas layar sentuh membuat kita mendapatkan informasi dengan lebih cepat dan interaktif (tidak hanya berjalan melihat barang statis tulisan di buku, plat, patung dll seperti umumnya museum). Museum ini buka setiap hari (kecuali Senin) dengan jam kerja mulai jam 8 pagi hingga 5 sore. Museum ini menawarkan pelayanan guided tours secara gratis!

Nobel Museum tampak dari pintu masuk

Di depan museum, terpasang satu foto besar seorang Bapak yang tadinya saya pikir foto Alfred Nobel, namun ternyata bukan. Ia adalah Tomas Transtomer berkebangsaan Swedia yang menerima hadiah Nobel di bidang Literatur, lewat puisi-puisinya yang dinilai inovatif. Saya yang kurang mengerti puisi, menyukai salah satu puisi beliau yang lewat permainan kata-katanya memberikan gaya deskriptif  yang membumi – saya memiliki persepsi puisi itu harus menggunakan kata berbunga sehingga kesannya keren, sehingga semakin membingungkan maka semakin bagus (padahal buat saya membingungkan).
Must-visit café yang terletak di depan Museum Nobel.
Dan yang jangan sampai dilewatkan adalah mengunjungi sebuah cafe di depan museum – tidak tepat di depan, agak ke samping kanan begitu keluar museum. Saya tidak sengaja masuk ke café ini hanya karena ingin mencari kehangatan dari secangkir kopi untuk melawan hawa dingin. Café ini menarik dari luar dan sederhana, sesederhana bagian dalamnya yang mungkin hanya memuat tidak lebih dari 20 orang dengan meja kursi biasa yang saling berdekatan. Saya memesan capucino yang disajikan di cangkir dengan ukuran jumbo, menyerupai mangkuk kecil, ditemani sepiring smoked chicken spinach pie hangat yang sungguh nikmat rasanya. Total untuk ‘cemilan’ pie dan capucino adalah SEK 110 (sekitar Rp 187 ribu), cukup mahal namun karena enak, ok lah ya. Ketika keluar, saya baru melihat ada tempelan sticker Trip Advisor… ooo pantesan!
Dengan waktu yang terbatas, saya cukup terkesan dengan Stockholm. Kota ini tidak terlihat seperti ibukota suatu negara yang biasanya kental dengan kesan metropolis. Stockholm seperti memiliki karakter tersendiri yang membuat nyaman untuk kita berkeliling. Di malam hari,saya dan teman saya bisa menghabiskan berjam-jam untuk hunting foto berbagai sudut menarik dari kota ini.
Salah satu sudut kota Stockholm
So waits no more to discover the beauty and character of Stockholm.

Sunday, August 18, 2013

Journey to middle earth (brief itinerary)

So here is my brief itinerary to the one of the most beautiful places on Earth! New Zealand is simply amazing in every corner of the country. It is also known as the world's capital of adventure, so make sure you take the best out of it - bungee jumping? skydiving? caving? Let every moment takes your breath away :-)

One of the great things for traveler in NZ is that the transportation is very convenient, and the people are very helpful. If you stay at one place then you have booked a reservation of an activity/tour - for example: sky diving or Blackwater rafting - and you don't know (or too lazy to think) how to get there, just ring them and they will be happy to pick you up. And some of the transportations can also take you to the doorstep of your hostel. No worries.

All information was based on my actual booking in October - November 2011.

Jalur perjalanan dimulai dari Christchurch dan berakhir di kota yg sama
South Island

Day 1
@Christchurch
Landed in Christchurch at midnight and went straight to the pre-booked hostel Jailhouse Accommodation (NZD30/night/person)- It used to be a real prison which was turned into a very nice accommodation facility. From airport to hotel, you can take a pre-booked bus (it was actually a van), ordered by online. The bus took me directly to the hostel :-)

Day 2
@Christchurch
Exploring Christchurch : Botanic Garden, some shopping malls and just going around the city, taking some snaps. You can also go to see Pinguin at International Antartic Center. There are shuttle busses provided at several pick up points and the ticket can be bought at tourist information - one of them is located at Botanic Garden.

Day 3
Leaving Christchurch for FranzJosef via Greymouth. The journey took about 4 hours by TranzAlpine scenic train and continued with a bus, who parked right in front of the station. The bus has one stop at Hokitika - a small city of jade factory. The ticket can be booked online NZD93/person, which you need to exchange at the train station prior to the departure, so make sure you reach the station earlier / 1 hour before. If you stay at Jailhouse Accommodation, there will be a shuttle car who will take you to the train station (how convenient!).

Arrived at FranzJosef township at around 5:00PM and stayed at YHA FranzJosef. (NZD33/night/person). The bus took me right to the doorstep of the hostel.


Day 4
@Franz Josef township
Hiking at the magnificent FranzJosef Glacier and enjoying a hot spring spa (included in the package). The half day package costs NZD 123/person.

Day 5
@Franz Josef township
Leaving Franz Josef for Queenstown by pre-booked (mini) bus - www.nakedbus.com. The trip to Queenstown is amazingly magnificent. I even pushed myself to stay awake as I didn't want to miss a thing. Just put the music on from your earphone, sit by the window, and enjoy the trip. There was one stop to grab a lunch (at your own cost, of course).

Try to book the ticket way in advance, you may get lucky to get the ticket only NZD 1.

Day 6
@Queenstown
Queenstown is a very nice city to go around (and probably to live in). Cycling and shopping souvenir are among the interesting things to do, but the highlights will be road trip to Paradise (one of the shooting spots of LoTR) and "Bar hopping" until dawn. The information about what's happening in the city can be easily retrieved from the many free leaflets at the hotel or tourist information in the city, or you can just ask the hotel staffs.


You should also try lunch-picnic by the Lake Wakatipu! Don't mind about the wind and the cold weather, it was just simply great! And it is strongly recommended to take a road trip to Paradise - its name is really Paradise, one of the shooting spots of LoTR. Really! It's really a trip worth taking. You can consider to drive with a friend so you can exchange the seat - one takes a picture from passenger seat and the other drives, the other way around when returning. You can rent a car from several providers at the city (or book online in advance).



If you think you are up to more challenge, try the Bungee Jumping. Well, anyway, NZ is known as the world's capital of adventure. Take the best out of it while you're there! :-)

Stay at Bumble Backpacker Hostel. It is quite close to the city center (5-10 mins walk) and the view is magnificent. You can choose the room overlooking the Lake Wakatipu.
Don't forget to also have a bite of Fergburger - the famous giant yummy burger.

Day 7
@Queenstown
Milford Sound one full day (with several stops: mirror lake and Te Anau). Book a tour with Real Journey


North Island

Day 8
@Auckland
Flying by Air New Zealand (or Jet Star) to Auckland in the north island. Ticket price: NZD 82.50 - it was one way ticket. From the airport, you can take bus to the city center - depend on your destination in the city.

Stay at Frienz Backpacker Hostel
Going around the city (Thanks to Tracy who took us to Mount Eden and city tour!)

Day 9
@Waitomo
Going to Waitomo by pre-booked bus.
Waitomo is a very small town, but offers many attractions. If the time allows you, a sheep sheering is worth a visit too. Or you can also check out one nice hotel that has rooms like the Hobbit's house (or even better, you can stay at this hotel... but rather expensive for me).
Stay at Kiwipaka

Day 10
@Waitomo
Caving - Blackwater Rafting (NZD 198)
The provider can pick you up at the hotel. If you stay at Kiwipaka, it's about 2-3 km away, so I'd suggest to ring them and ask if they can pick you up.
Taking off to Taupo - by pre-booked bus (Waitomo Wanderer Shuttle - NZD 55). The pick up point will be at the city center - very close to the Kiwipaka hostel.
Check out my experience here




Day 11
@Taupo
Skydiving!!
Stay at Blackcurrant backpacker hostel
Off to Wellington by (private) IC (Inter City) Bus IC6501.
Check out my skydiving experience "Dancing in the sky! My first skydiving..."
The cost may be varied, depend on the package you take. Mine was approx. NZD 500.



Day 12
@Wellington
Tour of LoTR (Wellington Rover Tours).
Going around the city - Don't forget to pay a visit to Te Papa Tongarewa museum where you can learn more about the history of NZ and the origin people of NZ and their daily lives. There is even an earthquake simulation - you enter a room which will shake you up as the earthquakes really happens.

Day 13
@Wellington
Going around the city.
...And enjoy a fine dining at Logan Brown Restaurant and Bar as a sweet closure to your trip... still within the budget, well... a bit excess but you're on holiday right? Treating yourself a bit better than any ordinary days won't be a harm. At certain hour and day, they offer special package. I can't really remember how much was it but it might be around NZD 65.

Day 14
Going home! (via Christchurch)
From Wellington to Christchurch by Air New Zealand (approx. NZD 90).
Christchurch - Kuala Lumpur by Air Asia.

Tuesday, August 6, 2013

Dapat salam dari microwave! :-)

Cerita ini diangkat dari kisah nyata yang senyata-nyatanya terjadi di suatu siang di awal bulan Juli 2013 di kantor Tangerang, dimana saya dan atasan saya tengah sibuk mempersiapkan acara ground breaking pembangunan perluasan pabrik di Tangerang. Buat saya, percakapan ini sungguh sangat lucu sekali - iyaaa, iyaa...penggunana kata "sungguh sangat sekali" itu redundant, gapapa deh yaa, biar sedep aja! :-)

Jadi ceritanya gini:

Siang itu sebelum acara dimulai, para top manajemen dan media sedang menikmati santap siang dengan setting prasmanan dengan orang-orangnya berdiri. Ketika saya lagi asyik makan, bos saya, sebutlah namanya GS, nyamperin saya dan bertanya:

GS: "Trid, microwave ada kan ya?"

Me: "Ada kok, itu ada di pojok meja"

GS: "Lha, kenapa taruh di sini?" ("Sini" maksudnya adalah di lantai 2)

Me: "Lho, memang kenapa kalau ditaruh di sini?"

GS: " Kok ngga ditaruh di bawah aja?" ("Bawah" mengacu tempat acara ground breaking akan berlangsung")

Me: "He? Kok di bawah? Buat apaan?"

GS: "Lha ya buat acaranya dong, Trid"

Me: "Buat acaranya gimana?" *makin bingung*

GS: "Ya buat acara nanti dong, Astriiiiiddd....."

Me: @#$%? (terdiam dengan tampang bego, tetap ngga ngerti)

GS: "Ya buat bantu loe nge-lead acaranya, 'Trid..."

Me: "Nge-lead acara gimana sih? Apa hubungannya?"

GS: "Ya emangnya loe bawain acaranya ga perlu pake itu apa?"

Me: "Loe lagi ngomongin apa yah, Gup? Microwave kok buat acara?"

GS: "Microphone, Astriiiiiiddddd.....!!!"

Me: "Yeee..tadi loe bilangnya microwave tauuu..."

Both: "Hahahahaa...!!"

Inilah dua orang yang kerja di bagian komunikasi mengalami total miscommunication! :-D

Saturday, May 4, 2013

Mahalnya pelajaran ini.

Peristiwa ini terjadi di Mei 2011, ketika saya dan ketiga teman melakukan perjalanan backpacking selama kurang lebih 18 hari di Eropa. Total kami berempat, perempuan semua - Indah, Dewi, Olivia/Olip dan saya.

Ceritanya mungkin ngga penting-penting amat sih, cuma buat saya (dan mungkin ketiga teman saya) jadi sepenggal cerita yang jika diingat, dibaca dan dibahas hingga hari ini bisa bikin senyum-senyum sendiri.

Dari kiri: Indah, saya, Dewi dan Olip (Prague, Czech)

So here is the story. Setting nya adalah di bandara Orli, Paris.

Jadwal penerbangan kami (Paris - KL) adalah pukul 10:30 menggunakan salah satu budget airlines di Asia. Malam sebelumnya kami sudah melakukan web check in, jadi besoknya di bandara kami hanya lakukan drop baggage saja, which is timeline-nya max 45 menit sebelum departure.

Begitu sampai bandara, sekitar jam 9:20 (iyaaa... I knooooww, ini udah injury time banget, definitely our bad!), kami memutuskan berpencar jadi dua. Saya dan Dewi mengurus wrapping tas, sedangkan Indah dan Olip bergerilya cari check in desk. Pukul 9.45, Indah dan Olip menghampiri saya, bilang check in desk nya udah tutup dan sebelumnya mereka di pingpong sana sini sama petugas airline. Kepanikan mulai muncul.

Akhirnya kami berendeng2 dengan dua troli dan backpack sebesar batu menhir Obelix, berkeliling mencari petugas bandara, yang bisa membantu (karena meja check in sudah bersih, tidak ada orang). Kami bertemu 3 orang petugas yang berbeda dan 3 kali pula kita mengulang cerita (cape deee...) padahal petugas yang 1 dan 2 masih ada di situ...hiks! Mereka tidak bisa beri solusi sampai akhirnya kami berkeras untuk bertemu kepala bandara (esmosi jiwa nih abis dipingpong). Akhirnya bertemulah kami dengan si madam (hehe..ngulang lagi deh cerita kronologis kejadian). Si madam kemudian telpon ground manager dari si airline, yang berjanji akan menemui kita dalam 30 menit (yang berarti setelah pesawat take off!). Wah, kami keukeuh jumekeuh banget protes keberatan. Kami berkeras kalau tidak salah, satu jam di awal kami udah tiba di check-in desk tapi dipingpong, sedangkan waktu tetap berjalan. Mulai dari bicara dengan nada sabar manis, sampai akhir nya menggunakan nada doremi tinggi, tetep lho tidak diijinkan masuk. Akhirnya bye-bye deh sama pesawat dan tiket hangus dengan sukses.



Munich, Germany
Ketika akhirnya bertemu Ground Manager, ia pun hanya say sorry tapi tidak beri solusi apapun, selain berjanji membantu mendapatkan seat di flight 2 hari kemudian (dan kita tetap diminta membayar selisih harga tiket). Kami berempat sepakat tidak mau. No matter what, kami harus pulang hari itu juga (dengan alasan masing-masing: cuti habis, ada jadwal business trip, visa mau habis dll)

Lemas, bingung, kesal, sedih, marah, kecewa (plus lapar!) menumpuk jadi satu. Tapi kemudian kami sadar, we have to do something, find solution. Kami langsung bergerak. "Ayo kita cari airline yg lain!" Caranya?? Orli adalah bandara, dimana sebagian besar (jika tidak seluruhnya) penerbangan adalah budget airlines, tidak ada lagi flight yang ke Jakarta/Asia, selain airline yang sama dengan tiket kami yang hangus, dan itupun baru akan ada jadwal terbang dua hari kemudian. Kami tidak menemukan sales office untuk commercial airlines.

"Kita browsing! Keluarin laptop loe, Ndah... Ayo, kita cari wifi!" Akhirnya kami berputar di bandara mencari hotspot. Dapat! Browsing punya browsing ke beberapa web, ketemulah Emirates yang menawarkan harga paling murah dibanding yang lain, dan ada dua kali penerbangan dalam sehari. Namun untuk ini, kami harus pindah ke bandara utama, Charles de Gaulle, yang berjarak cukup jauh dari Orli. Langsung kami bagi tugas.

Dewi + Olip: mencari informasi bagaimana caranya ke bandara Charles de Gaulle, naik apa, ongkosnya berapa, optionnya apa saja, berapa lama perjalanan dll. Mulai dari tanya tukang sapu bandara sampai kasir McD, dapetlah info dengan lengkap. Mantab!

Indah: mencari ATM karena kami semua sudah tidak punya banyak uang tunai yang tersisa, untuk bayar taxi dll. Berhasilah menggenggam sekian Euro. Siiip!

Saya: browsing di web Emirates (dan beberapa airlines lain), cari apa masih ada seat yg available, pilihan kelas tiketnya apa aja, jam berapa flightnya, dll. (sekalian jagain tas dan troli).

Kami berpencar dan serentak dalam 10 menit berkumpul lagi, sharing semua info yang didapat dan akhirnya kita memutuskan naik taksi. Memang ongkosnya paling mahal, tapi paling cepat. Kami sudah ngga punya waktu lagi karena pesawat take off dalam 3 jam.

Keluar bandara Orli, terjadilah kehebohan yang ngga kalah seru dengan sebelumnya (what a day banget deh tuh hari). Inget film Home Alone 2? Hehe...mirip banget adegan kehebohan di bandara, saat rombongan keluarga Macalister berlarian menuju gate dan Kevin terpisah dengan keluarganya.

Saya dan Indah, bergegas mendorong troli, sementara Dewi dan Olip berjalan di depan troli, membuka jalan. Siang itu, bandara penuh sesak ibarat terminal kampung rambutan, sumpek banget dengan rombongan orang yang semua seakan bergegas mengejar pesawat. "Excuse me, sir...ups, sorry...sorry...excuse me, mam", kami berulang kali mengucapkan kalimat ini dengan cukup keras, berlomba dengan kebisingan bandara, sambil setengah berlari mendorong troli dan beberapa kali ngga sengaja menabrak kaki orang.

Ketika sampai di pintu utama....deng dong!! Kok ngga ada taksi?? Kemana tuh taksi?

"Biar gue lari ke ujung dulu, loe pada di sini aja jagain tas, biar ngga bolak balik, ntar kalo ketemu taksinya, gue kasih kode", kata Dewi. Tidak lama, Dewi berteriaklah dia dari ujung "peron" bandara "Taksinya adaaa!! Ayooo!" Kami setengah berlari mendorong troli menghampiri tempat antri taksi.

(Lagi-lagi, kami tidak pusing dengan tatapan aneh orang-orang....hahaha)

Kami memasukkan semua tas ke bagasi taksi yang mirip Picanto atau Karimun. Alhasil bagasi tidak cukup menampung bawaan kami berempat, dan kami mesti memangku backpack hingga nyaris membuat muka dan badan tenggelam di antara backpack yang besar. No problem, yang penting bisa masuk semua dan langsung ngeeeeeng, tancap gas!

Sejam kemudian, setibanya di Charles de Gaulle (bayar taksinya cukup EUR 80 sajah, pemirsa), kami menuju ticket sales counter Emirates dan voilaaa...no more seats available! Lemes selemes2nya!! Padahal di web masih ada seat. Dengan harapan tipis, kami coba ke KLM dan Air France, ada sih seatnya, tapi harganya bisa bikin mules kepala, USD4,000/orang! Itu harga one way lho. Kami langsung balik lagi ke Emirates, dengan muka memelas dan desperado (bukan acting neh, beneran putus asa banget), minta tolong mas petugas tiket untuk cek lagi. Mas itu sih bilang, sebenarnya rute Paris - Dubai masih ada 4 seat, tapi Dubai - Jkt yang ngga ada. Dia kutak katik dengan komputernya, dan kami bilang, just put us in any connecting flight to Jkt, even if we have to wait for hours in Dubai. Tidak lama dia bilang "Yes, we still have all 4 seats for all routes!!" Tebak apa yg terjadi kemudian? Kami berempat berteriak hore dan tepuk tangan di depan mas petugas tersebut, reflek aja! Hahaha...diliatin orang? bodo amat deh...kalau bisa peluk itu mas petugas, udah kita peluk deh saking senengnya ^_^v


Kaukenhof, Belanda

Akhirnya pulanglah kami dengan damainya, walaupun nyesek banget kalau inget tiket yg hangus, plus kita bayar tiket lagi yg muahalnya amit-amit jabang bebi! Tapi ya sudahlah ya, semua itu tertutup dengan rasa seneng karena bisa pulang... :-)

Begitulah, pelajaran berharga yang sangat mahal (literally!!), yang bikin saya pribadi sekarang lebih baik lebay nunggu lama di bandara, daripada resiko tertinggal pesawat dengan datang mepet waktu :-)

Saturday, April 20, 2013

A journey full of surprises: What did I get myself into?

"What did I get myself into?"

Yeap...that was the question that was hitting my head over and over as I stepped into deeper side of the cave. Each step seemed to race to surprise me...big time! In the end, I found nothing, but GREAT FUN!! :)

This writing refers to my experience of joining the Blackwater rafting in Waitomo, North Island of New Zealand some years back - a true experience that was full of surprises.


When I first heard about "Blacwater rafting", I was thinking about a river that has different kind of color (black), something like the green color of a lake next to Mount Kelimutu in Flores, Nusa Tenggara. But I was totally wrong. The water has no relevance at all with the color, well ..not directly. Probably because it was located in the deep cave that has very limited access to sunshine. Probably.


I took the Black Labyrinth Tour which took me three hour of climbing, water tubing, leaping and floating through Ruakuri Cave. For me who never got any idea of what those are all about, the trip was like a journey of surprises. I could never guess what's coming next, and... what happened next managed to surprise me all the time!

I remember there was one moment when I was so hesitant to jump off into running water from (only) 1 meter high (and I had to do it backward - with the tube around my butt), the instructor shout "Come on, Astrid...you can do it, just jump and flow with the water!!". I counted to three in the long interval, while looking back to the water I was supposed to jump into... And I finally jumped! Surprisingly, it was really fun!


So over three hours, the ten of us took leaps of faith over cascading waterfalls and float serenely down an underground river. We got to enjoy the glow worm show on the vaulted limestone galleries up above.

We took couple of break, enjoyed some New Zealand chocolates (very nice one I must say) and catch some breath.


The journey concluded when we emerged into the sunlight of the Waitomo forest.

Here we come, Russia!

Memasuki Rusia, terutama berhadapan dengan petugas imigrasi Rusia, menjadi salah satu pengalaman yang sangat menarik (alias sangat dan sangaaaattt bikin jantung deg-deg an) buat saya dan juga Indah, temen seperjalanan saya dalam trip ke Scandinavia dan Rusia, bulan Februari lalu.

Kami masuk ke wilayah Rusia menggunakan kereta malam yang berangkat dari Helsinki central station sekitar pukul 17:20 waktu setempat. Kereta boleh dikatakan sangat nyaman. Satu kabin terdiri dari 4 tempat tidur tingkat. Kami sekamar dengan dua orang wanita lain warga negara Rusia. Seorang diantaranya, berusia sekitar 26-27 tahun, baru saja menyelesaikan S3 Phd dalam bidang bio molekul (yea, this sounds so scary, but she's very friendly...and helpful!) dan kembali ke Moscow dengan beberapa koper yang isinya buku semua! Kami sempat mengobrol ringan sebelum kemudian masing-masing asyik dengan bacaan (saya dan Indah asyik baca majalah abege ngga penting yang isinya gosip Holywood dan teknik bikin mata keren dengan eyeshadow ngejreng... hahaha...ngga penting banget kan?...dan dia baca satu buku science yang tebalnya seperti kamus)


Di tengah perjalanan, kabin kami diketuk petugas imigrasi Finland yang memeriksa paspor kami dan mengecap sebagai tanda keluar dari wilayah Schengen. Dalam keadaan kami sudah dinyatakan keluar dari Finland dan belum dinyatakan masuk Rusia, menjadikan kami in the middle of nowhere - jadi ingat film Tom Hanks yang terdampar di airport.

Anyway...kira-kira antara jam 22:00 - 23:00 (tidak ingat persisnya), kereta berhenti dan muncul pengumuman dari pengeras suara kalau kereta berhenti untuk pemeriksaan imigrasi, semua penumpang diminta untuk tetap tinggal di kabin masing-masing dan membuka pintu kabin. Tidak boleh ke toilet dan pintu akses gerbong dikunci. Rupanya kereta sudah memasuki wilayah Rusia. Terdengar beberapa orang berbicara dalam bahasa Rusia yang kami tidak mengerti. Tidak lama muncul seorang petugas berseragam di pintu kabin kami. "Your passport please" dan kami menyerahkan paspor kami. Ia menanyakan beberapa pertanyaan dalam bahasa Rusia dan diterjemahkan oleh mbak Phd (untuuuuuungg bangettt ada mbak ini). Pertanyaan cukup detail seperti mau ngapain di Moscow, tinggal dimana, bawa duit berapa, kenapa milih Moscow dll. Di sini adrenalin rush udah mulai berasa dan suasana cukup tegang (ditambah tampang mas-mas imigrasi yang juga kenceng bener, walaupun cukup manis dan dia sempet malu-malu godain si mbak Phd). Setelah mas itu selesai bertanya, ia mengembalikan paspor kami, tanpa di cap! Haiyaaa...ternyata pemeriksaan belum selesai :-(

Tidak lama datanglah ibu dengan seragam lengkap juga bertanya berbagai hal yang sangat detail (pertanyaan yang ngga relevan menurut saya) seperti belanja apa aja di Helsinki, berapa harganya, tunjukkan barangnya, mana bon nya, bawa obat apa aja, tunjukkan, ini obat apa, apa isi kantongan itu (dia ngeliat kantongan belanja yang kami bawa, apa isi tas kalian dll. Yang merepotkan bukan hanya pertanyaannya tapi permintaannya untuk melihat dan membongkar tas kami. Dalam kabin yang cukup sempit, membongkar tas backpack 65 liter bukan perkara mudah dan merapikannya kembali sungguh pe-er banget buat kami. Selama proses pemeriksaan, semua pertanyaan dan permintaan dalam bahasa Rusia (aduh, mbaaakk...kenapa sih ngga pakai Bahasa Inggris ajaaa...) dan kembali kami dibantu oleh Mbak Phd untuk diterjemahkan (hugs untuk mbak Phd ini).

Selesai pemeriksaan, paspor tetap.... belum dicap!! *sigh*

Baru kemudian datang seorang Ibu juga didampingi beberapa petugas lainnya datang dan meminta paspor kami kembali. Tidak banyak bertanya, hanya membalik-balik halaman paspor, akhirnya "cekrek" di cap lah paspor kami! Lega? Not yet.

Setelah kami selesai membereskan tas-tas yang tadi dibongkar, kami menutup pintu kabin untuk mengurangi ketegangan yang muncul dari suara-suara yang terdengar dari kabin-kabin sebelah yang sedang diperiksa. Mbak Phd itu menjelaskan kalau pemeriksaan seperti itu biasa banget dan termasuk tidak detail. Mereka bisa sangat menakutkan kalau pemeriksaan detail. Oh my God!! Di tengah obrolan kami, Mbak Phd  bilang "We'd better open the door. I think they will come again shortly for another check" What??? Huhuhuhu...it's not yet over apparantely.

Dan tidak lama datanglah Bapak-bapak gemuk. "Passport please". Saat membalik-balik halaman paspor kami, muncullah kembali pertanyaan-pertanyaan aneh, salah satunya adalah kenapa kalian memilih Copenhagen sebagai poin masuk dan keluar. Saya jawab apa adanya (sound silly but real), karena tiketnya ke sana paling murah dibanding landing di negara lain. Dia ngangguk2 aja. Ada juga pertanyaan kalian udah kemana aja? ngapain di negara itu? kenapa ke sana? gimana pembiayaan perjalanan itu? dan lain-lain.

Barulah setelah Bapak itu selesai, pemeriksaan benar-benar selesai. 4 lapis pemeriksaan sajahhh, saudara-saudara. Amin banget deh begitu selesai dan tidak lama kereta kembali melanjutkan perjalanan. Here we come, Russiaaaa.... :-)

Psstt...luckily ketika kami pulang, proses keluar dari Rusia di bandara sangat mulus dan lancar... :-)

Visa Rusia: difficult? Naaahh...still doable kok.

Bagi saya mengurus visa negara manapun selalu menumbulkan sensasi deg-deg an tersendiri. Terlebih karena kebiasaan saya yang berpergian dengan mengandalkan tiket promo. Namanya tike promo pasti tenggat waktu untuk issue jauuh sebelum tanggal keberangkatan. Alhasil saya sering pegang tiket yang sudah di issue tapi visa untuk masuk negara it sendiri belum ada di tangan. Iya sih, ini big gambling banget. Visa gagal, there goes millions of Rupiah for nothing. Makanya saya selalu taat dokumen saat pengurusan visa - cenderung lebay :-) , sama hal nya dengan saat saya mengajukan aplikasi visa Rusia beberapa waktu lalu.
 
Begitu melihat di website Kedutaan Rusia di Jakarta mengenai persyaratan dokumen yang harus disiapkan, saya pikir “Ah gampang-gampang dokumennya”. Ngga perlu keterangan bank atau surat sponsor kantor atau rekening 3 bulan terakhir...ah gampang lah. Yang diperlukan hanya:
  1. Form aplikasi visa yang telah diisi (dapat di download di link ini)
  2. Paspor asli dan fotokopinya (jangan lupa paspor mesti valid setidaknya selama 6 bulan)
  3. Foto 3x4 (untuk amannya pilih latar belakang putih, netral)
  4. Tiket airlines
  5. Invitation letter
Ternyata yang saya kira “gampang” ini bukannya tanpa usaha tambahan atau kepusingan tersendiri. Yang agak unik dan berbeda dengan persyaratan visa pada umumnya adalah invitation letter (baik untuk visa bisnis atau turis). Surat ini bukanlah surat undangan atau rekomendasi yang berasal dari kerabat, teman, relasi atau perusahaan yang berdomisili di Rusia, melainkan surat yang dikeluarkan oleh Kementrian Luar Negeri di Rusia (dweng! rempong kah? antara ya dan tidak). Gimana caranya?
Usaha yang pertama kali saya tempuh adalah menanyakan ke kedutaan Rusia di Jakarta, yang menginformasikan kalau biasanya pengurusan surat tersebut bisa dibantu oleh hotel atau beberapa agen yang telah ditunjuk di Rusia. Kemudian saya kontak hostel dimana saya sudah melakukan reservasi, yang memang menyediakan jasa pengurusan invitation letter tersebut, tapiiiii….sayangnya tidak bagi pendatang dari Indonesia. Entah apa alasannya. Alhasil saya kemudian browsing dan menemukan beberapa website agen di Moskow, yang katanya telah berpengalaman mengurus surat tersebut. Biaya yang ditawarkan untuk pengurusan surat ini bervariasi
  1. EUR 20 (surat jadi dalam 1-2 hari kerja)
  2. EUR 30 (surat jadi dalam hari yang sama/ekspres)
Waktu sudah agak mepet sehingga makin deg-deg an lah saya. Gimana kalau agen ini ngga reliable? Gimana kalau surat tersebut tidak bisa diterbitkan alias aplikasi saya ditolak? Gimana kalau surat tersebut walaupun diterbitkan tapi tidak diakui sama kedutaan? Pertanyaan 'gimana dan 'gimana berkecamuk di kepala saya. Dari beberapa referensi dan informasi yang disajikan, saya memilih satu agen online way to russia Saya memasukkan aplikasi untuk single entry dan processing time satu hingga dua hari (ada juga yang ekspres, surat jadi di hari yang sama)
 
Satu hari setelah saya memasukkan aplikasi permohonan surat tersebut melalui website mereka, saya mendapatkan email konfirmasi yang meminta bukti reservasi hotel yang telah saya lakukan. Saya emailkan bukti konfirmasi reservasi hotel saya. Tak lama mereka email kembali, mengatakan jika kartu kredit yang saya cantumkan di form mengalami gagal bayar! Haiyaaa! Saya kontak bank penerbit yang mengatakan tidak ada masalah di kartu saya dan (untungnya) belum ada transaksi yang terjadi sehubungan dengan pengurusan surat tersebut. Tidak mau ambil resiko, saya informasikan detail kartu kredit saya yang lain (tanpa 3 digit angka yang tercantum di belakang kartu). Tidak lama mereka email saya kembali, mengkonfirmasi transaksi kartu berhasil dan surat akan dikirimkan sesaat lagi dalam email terpisah. Dan benar, selang 30 menit kemudian surat tersebut sampai di inbox email saya, siap untuk diprint dan disertakan dalam aplikasi visa turis saya.
 
Ini contoh invitation letter yang dimaksud:
 
 
Setelah semua dokumen lengkap saya siapkan, saya submit ke Kedutaan Rusia di daerah Kuningan, Jakarta. Dokumen tersebut diterima dan dicek oleh mbak-mbak di bagian visa. Beberapa dokumen seperti reservasi penginapan dan tiket kereta dikembalikan ke saya (saya masuk ke Rusia menggunakan kereta dari Helsinki dan keluar dari Moscow dengan pesawat). Ketika saya tanya kenapa dikembalikan, mbak tersebut bilang kalau hanya hotel (bukan hostel ya, apalagi hostel backpackers seperti yang saya booking) dan tiket pesawat (bukan kereta atau moda transportasi lain) yang dihitung oleh kedutaaan. Saya menggangguk-angguk saja, tapi menekankan ke mbak nya kalau ada kekurangan dokumen lain, tolong saya dikabari segera ya, mbak…(alias jangan langsung ditolak visanya ya, mbak... kata saya dalam hati).
 
Setelah membayar Rp 700,000 (USD 70 dengan kurs IDR 10,000), saya menerima bukti pembayaran yang akan digunakan untuk pengambilan visa seminggu kemudian. Oiya, jika kamu ingin membayar dengan mata uang USD, sebaiknya dicek dulu ke Kedutaan masalah kode huruf dari nomer seri uang dollar, karena hanya kode huruf tertentu saja yang mereka dapat terima. Amannya sih, bayar pakai rupiah walaupun kurs nya agak lebih tinggi dari pasar.
 
Saat saya mengambil visa seminggu kemudian (di approve, yeay!), saya menanyakan ke mbak di bagian visa masalah visa registration atau wajib lapor bagi pengunjung ke polisi/imigrasi setempat. Mbak tersebut bilang, memang benar ada persyaratan seperti ini di Rusia dan menyarankan sebaiknya minta tolong hotel untuk melakukan ini untuk menghindari kerepotan yang tidak diinginkan seperti kendala bahasa. Hostel tempat saya menginap dapat memberikan bantuan ini dengan biaya sebesar USD 20, namun ketika saya check in, mereka bilang tidak perlu karena saya hanya dua hari saja di Rusia. Jika nanti di jalan, pas lagi apes, saya diciduk polisi, hotel bilang telepon saja ke mereka. Pemeriksaan ini memang jaraaaang banget dilakukan tapi siapa yang tahu ya kalau namanya apes. Tapi saya turuti saja saran hotel.
 
Begitulah lika-liku mengurus visa Rusia. Ada yang bilang repot, jarang dikabulkan, dll...challenging but still doable :-) tapi yang jelas kerepotan itu tidak seberapa, dibanding dengan pengalaman seru yang saya dapat selama 2 hari di Moscow :-D

Friday, May 4, 2012

The broken washing machine and 'ngupi' time

These past two days have been one of the most challenging days in my entire working life. It wasn't such a pleasant thing and it is not the thing that I want to share here. During that unfortunate moment, I found something fun and entertaining (at least for me).

Still in office, 8:50pm, sitting blankly at my messy cubicle and feeling nothing at all. Still dumb-founded with what just happened in the office. Suddenly my mobile phone rang. It was the call from one of my good friends Yanti.

Yanti: "Halo? Halo??? Kucrit?? Halooo...woy...!! Lo bisa denger suara gue ngga?? (Dengan suara kenceng)
Astrid: Iya, Yan...kenapa? (suara yg lemes)
Yanti: "Haloooo.....hoooy?? Kucriiit....!! Lo denger suara gue gaaa? (Suara sopran level dua belas)
Astrid: "Denger, Yan...kenapa?" (suara lemes sambil pengen jitak kepala si Yanti)
Yanti: "Halo?? Trit...bodo deh, denger ga denger gue ngomong ajah....mesin cuci gue kenapa ya, airnya ga mau masuk nih ke tabung mesin cucinya, kenapa yah...ga beres nih...ni mesin kan baru jg dua minggu, masa udah ngadat gini...kaga beres nih...kenapa ya, trit?" (mrepet kayak petasan cabe rawit)
Astrid: .....?? (pingsan stadium 4)

And there she was. Blabbering about her new lovely washing machine as if I was the technician that should haven known what went wrong with the machine, while I was struggling to stabilize my emotion. This girl sometimes can be so "amazing" (in a good way) ^_^v

The madness at work continued way much worse the next day. All the frustration, anger, fear, sadness and confusion came at much bigger speed and gravity level, that hardly bounced me back to the ground. And there was another call from Yanti, but this time I asked her to call my direct line to save me from screaming over my mobile phone because of the unstable signal of one service provider at my office building.

There was me, Yanti and Nitto on the conference line.

.......cutting the story short.....
Yanti: "Eh Trit, konfrenin juga si Chris dong..tu anak pasti lagi miting jam segini...kita recokin aja"
Nitto: "Emang elu, Yan...jam 10 pagi, bukannya kerja malah nangkring luluran di salon..."
Yanti: "Eh, gue kan ijin sakit tu hari...salahnya bos gue, dia percaya"
Astrid: "Kalo si Chris ngomel, tanggung jawab lu ye... gue sambungin bentar"
Yanti: "Iyee...kaga bakalan marah tu anak...paling mrepet doang..."

*dialing Chris' mobile number"

Chris: "Halo...." (suara galak)
Astrid: "Hoy, Chris...gue konfren in ye sama anak2, ada Yanti ama Nitto"

*dialing back to confrence line where Yanti and Nitto was laughing out loud over some silly things*

Yanti: "Woooii...Chris, lg ngapain lu? Meeting yak...hahaha...kita juga lg miting nih, mikirin ntar malem hang out kemane enaknya"
Nitto: "Dimane"
Yanti: "Kita ngupi2 aja..."
Astrid: "Ogah kalo cuma ngupi, gue lapaaarr...kudu makan berat"
Nitto: "Iya, daerah Kuningan aja, kaga 3in1"
Yanti: "Iya, bawel ye...atau hari Sabtu aja?"
Nitto: "Ga bisa wiken, family time.."
Yanti: "Halah, tau ga, anak loe juga empet tauk liat elu...ge'er aja lu"
Nitto: "Siakul..."
Chris: "ostopiloh...gue barusan rijek telpon emak gue karena gue lg di miting, dan sekarang gue kudu angkat tlp kalian yg ternyata cekikian ga jelas doang...bener2 ya lu orang pada. Bbm in gue aja dimana, jam berapa ntar malem" *Klik tutup telp*
*Bengong*

Those two calls might sound like just any ordinary calls, nothing special. But somehow, it was one of the things that have actually managed to bring back my sanity. Thanks, guys....and also thanks for the support and encouragement over the dinner and the 'ngupi' time... Yes, you're right...that's life...that's just one of the things in life...get over it and move on...keep going... :)

Tuesday, January 24, 2012

Words: to heal or hurt?

Have you ever heard the story of the little boy with a bad temper?

Lately I've been hearing stories from friends about how they got so upset with the people (boss, lovers, peers, siblings, etc) who got so easily saying hurtful words, and the next minutes asking for an apology (or even not), but the things kept recurring. It brought my mind about a story.... This is the story:

There was a boy who often loses his temper and shout hurtful words. The father was worried so he tried to explain it through actions. One day he handed his son a bag of nails, asking the boy that each time he loses his temper and shouts hurtful words, he must hammer a nail into the back of the wooden fence in their yard. On that first day, 37 nails went into the fence. Over the next few weeks the boy began discovering it was easier to hold his temper and his tongue than trek all the way out to the back fence and pound those nails into the fence.

After some time the boy proudly approached his father and announced he had not lost temper at all for several days. His wise father suggested his son pull out one nail for each temper-free day. Finally, boasting that all the nails were gone, the boy takes his dad's hand and leads him to the fence without nails. "You have done well, my son. Now look at the holes in the fence. It will never be the same. When you say things in anger your words leave scars, just like these holes."


We may have heard some people try to justify, rationalize or excuse their harsh words and disrespectful attitudes by saying "Oh, that was not a big deal, I didn't mean it", or "Aah, you're just too sensitive, relax, don't take it so seriously", or "Well, that is just me, get over it"


In life, there are so many occassions that could easily be the trigger of our anger. Anger itself is not evil, but unchecked anger and aggressive words can cause paralyzing fear, painful hurt. Harsh, harmful and hateful words can be just as deadly to our spirit as weapons of mass destruction are to our lives. Yes, words are that powerful, my friend.


I was once reminded thorugh a sermon in a church, that it is okay to be angry, but do not sin--don't use damaging words, condemn or tear down someone's self-esteem. The sin doesn't lie in the expression of anger, but in the way we use it. We can choose to express anger in healthy or unhealthy ways--in ways that heal or hurt. There is a difference between getting angry and being an angry person. When the expression of anger dominates our life and personality, we are no longer a person with anger, but an angry person. I can't imagine how a person can live through a day with that kind of baggage in his/her heart, must be so tiring.


When I was a child, I remember my father telling me, "If you can't say something nice about someone, don't say anything at all." This is not about stuffing or repressing anger, it is simply about respect and self-control.


Words are powerful. They can tear down or build up those closest to us. In the story above, the boy's wise father gently, but effectively pointed out the destruction angry words can produce, and the permanency of their scars.


What words that we choose to say are a concious choice. Do not blame the failure to choose to our character, instead it takes a huge commitment to change. It may not be easy as it may have been our character for years but these can be an incredible act that reflect an incredible strength that we have. Let's not fall into the trap of "biting and devouring" especially to those people we hold so dearly. Reckleass words can rip them into pieces, but on contrary, words can also build them up and create piece.


As my father said "Watch your words, young lady". Let our words be a blessing to the people around us....shall we?

Monday, January 23, 2012

Venice yang romantis

Venice menjadi gerbang pertama perjalanan saya memasuki Itali. Kalau sebelumnya saya sempat share gimana juara nya Roma dalam hal peninggalan budaya berabad-abad lalu, maka Venice menawarkan hal yang cukup berbeda.


Saya masuk Venice dengan kereta dari Salzburg dan tiba sekitar pukul 5 sore. Matahari masih terang seperti pukul 3 sore dan udara terasa sejuk, tidak sedingin di Salzburg tapi tidak terik panas juga. Jadi enak lah. Begitu kereta mendekati stasiun Santa Lucia, pengumuman di dalam kereta sudah mulai menggunakan Bahasa Itali disamping Bahasa Inggris tentunya (sebelumnya adalah Bahasa Jerman dan Inggris)


Begitu landing di stasiun, mata kami semua berbinar. Bukan karena pemandangan bagunan stasiun, bukan karena keindahan kota, tapi karena satu keindahan yang berseliweran di depan mata. Yeap! Cowok-cowok Itali yang merupakan mahluk Tuhan yang paling indah, hilir mudik di depan mata. Sumpah ya, bo...mulai dari mas-mas cleaning service, penjaga kios rokok sampai yang benar-benar gaya eksekutif muda, semuaaaa berpotensi minimal sebagai foto model di majalah atau berseliweran di panggung catwalk dunia! Saya sempat berpikir mungkin dulu saat Tuhan menciptakan kaum pria, Ia menambahkan satu racikan bumbu pada adonan pria Itali sehingga menghasilkan suatu maha karya yang sangat indah. Oooh.... :-)


Begitu tiba di luar stasiun, terpampang sungai /kanal yang cukup besar dengan aktivitas di dermaga yang cukup sibuk. Ternyata itu adalah semacam halte dari water boat yang menjadi urat nadi transportasi di Venice. Kota dengan penduduk sekitar 200 ribuan ini sebagian besar wilayahnya memang terdiri dari air dan bangunan pun didirikan di atas air. Jika dilihat di peta, Venice terletak dalam pulau yang menyerupai pecahan kaca yang berserakan, tidak heran begitu banyak kanal yang membelah kota ini.


Hostel kami berjarak sekitar 10 menit dari stasiun dengan berjalan kaki, namun perjalanan akhirnya melebar menjadi hampir 30 menit karena daya tarik dari toko-toko di sepanjang jalan yang terbuat dari paving block. Di sisi kanan dan kiri berderet kafe-kafe yang menggelar berbagai pilihan gelato, pizza, aneka pasta dan makanan khas Itali lainnya. Kemudian 'pagelaran' toko suvenir kecil seperti topeng, pakaian, pernik-pernik juga merupakan daya tarik yang cukup kuat. Toko sepatu dan tas juga tidak mau kalah menarik perhatian pengunjung yang mayoritas adalah turis. Akhirnya kami sepakat untuk bergegas ke hostel dan meletakkan gembolan tas dahulu baru kemudian melanjutkan 'gerilya' kami.

Hostel Allogi Geroto Calderan terletak di Lista di Spagna - salah satu jalan utama- dan di pojokan suatu square yang besar Campo San Geremia. Lokasi yang sangat strategis dan harga yang terjangkau EUR28 per orang untuk kamar kapasitas 4 orang.

Rialto Bridge dan George Clooney (?)
Setelah berganti sandal yang nyaman, menenteng jaket dan kamera, kami memulai gerilya kami. Tujuan pertama adalah Rialto Bridge. Lagi-lagi perjalanan ini banyak terganggu oleh deretan toko-toko di sepanjang jalan. Jalanan di Venice didominasi dengan paving block (mungkin semua jalanan) dan hanya dilewati oleh motor, sangat nyaman untuk pejalan kaki. Jalanan ini diapit oleh bangunan-bangunan tinggi yang sepertinya flat tempat tinggal, dengan lantai paling bawah dimanfaatkan sebagai toko. Deretan bangunan ini di beberapa titik dipisahkan oleh kanal sehingga jembatan-jembatan yang terbuat dari batu banyak sekali tersebar. Saya sempat berpikir, kok ngga ada anak-anak sekolah atau karyawan yang baru pulang kerja (saat itu adalah normalnya jam pulang kerja) dan kenapa sepanjang mata memandang hanya ada dua jenis manusia di sana, turis seperti kami dan penduduk lokal yang berjualan. Yang lain kemana?

Balik lagi ke Rialto Bridge. Mencari jembatan yang sangat tersohor sebagai "the true heart of Venice" tidak sulit. Di sepanjang jalan akan terpampang papan dengan anak panah "Rialto", tinggal ikuti tanda panah maka anda akan tiba di jembatan batu yang megah tersebut. Jembatan Rialto membelah kanal utama di Venice yang dikenal dengan Grand Cannal. Di sisi kiri dan kanan banyak berderet kafe dan gondola yang terpakir.


Saat kami tiba di sana sudah gelap dan kafe mulai ramai oleh pengunjung. Dengan view ke arah Jembatan Rialto dan gemerlapnya sisi kanal, kafe-kafe tersebut menawaran suasana romantis apalagi ditambah alunan biola yang secara live dimainkan. Kalau sudah begitu, saya hanya bisa berimajinasi berada dalam sebuah candle light dinner di pinggir kanal dengan iringan musik dari biola yang mendayu dan dengan seorang George Clooney di hadapan saya yang tersenyum manis menatap saya sangat dalam dengan matanya yang jenaka. "Ucrid!!! Ngapain loe senyum-senyum sendiri di situ! Ayo kita naik ke atas jembatan!!". Teriakan teman saya membuyarkan lamunan indah saya. Saya pun bergegas menyusul teman-teman saya. *sigh*


Malam itu kami habiskan dengan gentayangan di daerah seputar Rialto Bridge. Saya sempat ngiler dengan sepatu booth kulit yang terpajang di etalase toko yang sudah tutup. Kebanyakan toko di sini tutup sekitar pukul 7-8 malam kecuali kafe dan beberapa kios suvenir di pinggir jalan. Tapi lagi-lagi terbentur oleh pikiran "Gimana bawanya?". Salah satu ngga enaknya travel ala backpacking adalah keterbatasan tempat untuk bisa beli ini itu karena space yang terbatas di tas dan rute yang masih cukup panjang, tapi mungkin ini jadi salah satu berkah karena akhirnya kita ngga boros (tapi tetep lho saya masih kepikiran itu sepatu sampai sekarang!). Di beberapa titik kita bisa menemukan pengamen dengan alat musik mereka seperti biola, gitar, menambah suasana romantis kota itu.

Niat untuk mencoba gondola pun sontak kami batalkan mengingat harganya yang mencekik yaitu EUR 100. Kami cukup puas dengan berfoto dengan mas-mas pengayuh dengan seragam khas garis-garisnya itu. Sayang kami tidak berhasil membuat mereka menyanyi yang konon para pengayuh gondola memiliki suara indah ;-)

Kami mencoba pizza di salah satu kafe dimana banyak pengunjungnya memanfaatkan TV yang ada untuk nonton bola bersama. Cukup seru, entah siapa yang sedang tanding saat itu, tapi nikmatnya pizza seharga EUR 2 itu tidak membuat saya berpaling. Oiya, sorenya saya sempat mencicipi gelato yang merupakan cita-cita luhur saya jika menjejakkan kaki di tanah Itali ini. Simak ceritanya di "Gelato never dies".

Piazza San Marco
Esok paginya, kami memulai petualangan di pagi hari. Tujuan hari itu adalah ke Piazza San Marco. Berbekal peta dan tanya-tanya, kami menuju ke halte water bus di depan stasiun Santa Lucia. Harga tiket cukup membuat miris hati EUR 6 (Rp 72,000) untuk sekali jalan. Setelah mengantri bersama dengan orang-orang yang umumnye berangkat kerja, kami tiba di Piazza San Marco sekitar 45 menit kemudian. Water bus itu seperti layaknya bus umum di darat, mampir ke beberapa halte yang dibangun di atas air, jadi mengambang.




Tiba di Piazza San Marco, kami disambut oleh antrian ular naga panjangnya. Mereka mengantri dengan tertib untuk masuk ke gereja basilika St. Mark. Gereja dengan bangunan eksterior yang sangat unik dan megah, yang pasti di dalamnya pun menawarkan design yang tak kalah uniknya. Sayang karena waktu yang terbatas, kami memilih untuk menikmati dari luar saja bersama dengan burung-burung dara. Dengan sisa cookies yang kami beli sehari sebelumnya, kami meremas cookies itu di telapak tangan dan membentangkan ke atas. Hanya dalam hitungan detik berpuluh-puluh burung dara menghampiri dan mematuk-matuk remahan itu dari tangan kami. Wuaaaa...seruuuu...!! Kami berempat heboh sendiri dan alhasil kegiatan itu diikuti oleh turis-turis lainnya yang awalnya hanya tertarik melihat kenorakan kami :-)


Beberapa saat kemudian kami nikmati dengan duduk-duduk di tengah lapangan yang besaaaar itu, mencoba meresapi pengalaman ini. Udara cukup sejuk pagi itu dengan sinar hangat matahari. Walaupun suasana sudah mulai ramai pengunjung, tapi masih termasuk nyaman. Beberapa kios suvenir tersebar di beberapa sudut. Barang yang ditawarkan umumnya adalah kaos, syal, topi, snow ball, topeng khas Venice, dll.



Water taxi dengan rate Rp 720,000!!
Tidak sadar, waktu semakin siang dan kami tidak sadar jam yang terus bergulir. Ketika waktu sudah mepet, kami terlambat menyadari kalau tidak akan cukup waktu untuk kembali ke hotel dan mengejar kereta, dengan water bus seperti saat berangkat. Akhirnya tawar menawar dengan water taxi, kami memutuskan untuk menggunakan taxi ini. Cukup miris harganya yaitu EUR 60 untuk perjalanan sekitar 20 menit. Taxi ini semacam speed boat yang cukup nyaman dengan semi-sofa di bagian penumpang yang beratap. Tidak sabar dengan santainya bapak supir, kami beranjak berdiri di anjungan kemudi, dan memohon agar mempercepat laju. Tapi perjalanan di kanal-kanal yang sempit rupanya tidak mudah, belum lagi jika berpapasan dengan boat yang lain, maka kadang salah satu harus ada yang mengalah untuk mundur. Aaaahh....kamipun semakin stres karena waktu kiat mepet.

Begitu tiba di halte, kami langsung berhamburan lari ke hotel, ambil tas gemblokan yang sudah siap angkut dan lariiiii ke stasiun!! Waktu hanya kurang dari 10 menit dari jadwal kereta kami. Akhirnya kami berhasil tiba di stasiun setelah 6 menit kami berlari.


What a day!

Perjalanan kami selanjutnya adalah ke Roma. Simak ceritanya di link ini: The great ancient Rome