
Friday, September 10, 2010
Day 1: An apple a day? Think again...

Friday, August 13, 2010
a little bit about me...
Did you sleep alone last night? setahu gue sih iya, ngga tahu deh kalau ada yg ngga keliatan ikutan di nangkring kamar *oh no!”
Ever loved someone who wasn’t good for you? I believe everyone deserves to be loved, but when they can’t get along, it just simply doesn’t work, not because they are not good *jadiiii….kesimpulannya apa yah?? Hehe…*
Whose bed did you sleep in last night? Mine dong...
What was the last thing someone said to you? "lagi ngapain, nek….sepi amat ga ada suaranya? Lagi dimana?”
Has anyone tried making you look bad in the past week? hmm...ada! kondektur bus yang udah teriak berkali2 ke semua penumpang "uang pas yaa!!" tapi gue asyik bbm-an sm Elisa dan ga denger. Alhasil, pas gue kasih uang 50rb-an, dia melototin gue dan gue dengan tampang bego ngeliatin balik sambil mikir "kenapa ya ini orang, galak amat ngeliatin gue...". Baru nyadar lama sesudahnya pas doi teriak2 lagi...
Have you ever held hands with the opposite sex? Yeap!
Do you believe everyone deserves a second chance? Tergantung kali ya…tp yg namanya kepercayaan susye pastinya utk dibangun kembali once it was broken
Is there anyone that hates you right now? Jiaah..meneketehe! Mungkin… tp yang benci gue apalagi kalau tanpa alasan pasti rugi sendiri, karena gue ga peduli…hehehe…
Want someone back in your life? Absolutely! My dad and my mom!
How long did it take for you to fall asleep last night? Hmmm..let me see… less than 5 mins! Ngantuk gila semalem tuh…langsung tepar begitu nempel bantal.
Your opinion on drugs? Not good tapi beberapa kasus katanya bisa menyembuhkan asal ngga kecanduan aja!
Do you find smoking unattractive? Biasa aja..tp sebel kalo ada yg ngerokok di ruang tertutup dan AC pula...
Do you do drugs? Never and don’t have intention to…
Have you ever gotten alcohol poisoning? Luckily no..
Do you believe love lasts forever? Kata orang sih, cinta Tuhan ke umatnya, cinta orang tua ke anak-anaknya dan sinetron Cinta Fitri….yg terakhir ngga bangetttt…!! ;p
Do you have any tattoos? Sekarang sih ngga tapi berpikir seru juga kayaknya
Does anyone know your password besides you? ngga tuh…pernah sekali dan orang itu ketawa ngakak begitu tahu betapa noraknya password gue… ;)
Are there things in your life that you’ll never be able to get over? When it happened, felt like my world was tearing apart but it taught me to be strong and stronger…yeah!! Prikitiieew…!
Do you let your animals sleep in the house? Ngga ah, walaupun pingin banget punya anjing tapi ga mau repot ngerawatnya….*jadi maunya apa ya?*
Do you wish you had someone’s girlfriend/boyfriend? Only George Clooney… gosh! He is so gorgeous! Look at those eyes and his smile! *wake up, Astrid!*
Anything annoying you right now? Now? Laper aja sih… tapi males makan… *orang yg aneh*
Do you believe there are circumstances where cheating is okay? Probably, still not sure about white lie though…
Is your best friend a slut? hohoho…no! The sweetest one, in fact, walaupun kadang bawelnya kadang bikin pengeng kuping! :-)
Do you want something to change in the next month? Pingin punya meja kerja di kantor yang rapi, ngga berantakan…. Ada yang bilang “mission impossible” tuh! hiks... :)
What’s the last thing you put in your mouth? Chitato - supreme cheese flavor…best one ever!
Have you ever kissed anyone named Matthew? Nope… the one and only Matthew I know is my good friend’s 6 years old son.. hmm.. why Matthew? not other names...
How often do you straighten your hair? Never! It’s straight already.
Describe how you feel right now in one word? Laper! (konsisten...)
What color shirt are you wearing? Now? White... with the little ghost Casper picture
What was the first thing to make you smile today? A status of my friend in his FB. It was about his ex boss’ driver who misunderstood what his driver was saying. “my sound death” to “my son is dead”…. then imagining his face.... A whole big bucket of laughter!
Connection between you and the last person who text messaged you? My big brother
Plans for the weekend? ngumpul sama tim organizing committee-nya toasmaster convention terus janjian jalan sama my dear cousin... dan seneng krn my big brother will be home this weekend...yaayy!! hmmm....ngapain ya...minta dia benerin lampu belakang, benerin kran kamar mandi, ngecek atap teras belakang yg ngerembes kalo ujan...ahh! ga penting amat yah...
How’s your hair right now? baik-baik saja, udah gerah pengen potong sebenernya, tapi belum sempet
What do you currently hear right now? Nothing in particular…
Do you curse in front of your parents? Never as far as I recall, but I did share with my dad about all the things in my life, including the frustrating one, but never cursing! He wouldn’t let me anyway.
Do you like calling or texting better? Tergantung sama siapa dan keperluannya apa, hehehe… *sama kayak Inez*
When was the last time you cried really hard? Why? The one which was eally hard? last year, missing my dad to the bone! tapi lately nangis lagi (cengengnyaa...), karena nahan akumulasi marah dan frustrasi karena ngga bisa juga ngertiin orang yang gue pikir ngga masuk akal, jadinya gue yang frustrasi sendiri… rugi amat yah… :p
Where is your biological father right now? Hopefully with my mom in heaven :)
Was yesterday better than today? ngga juga, bahkan hari ini menu makan pagi, siang sampai malam pun lebih enak dari kemarin *kenapa makanan mulu yaaa…*
Do you think relationships are ever really worth it? Never regret of what happened as it has all worked to bring me to this very moment… taelaaaa…. cuiiit..cuiit..
What items could you not go without during the day? duit dan hp… *sama kayak Inez*
If we were to look in your inbox, what would we find? sms2 mulai dari yg penting ampe ga penting *lagiii…. sama kayak Inez*
Can you easily tell if someones fake? tergantung orgnya. klo gue dah kenal baik sih biasanya bisa.. *sama lagi kayak Inez....elo aja deh yg nulis, Nez...hehe..*
How’s your heart? In a good shape, beating nicely…
Sunday, August 8, 2010
Smile... and the world will smile at you.. :)
Bapak ini bukanlah masinis atau kondektur yang memeriksa karcis penumpang di tiap gerbong. Ia juga bukanlah penjual koran yang berkeliling menawarkan berita-berita baru setiap harinya. Dan ia juga bukan salah satu penumpang yang berlari-lari demi mendapatkan satu tempat duduk dan bisa tidur dengan nyaman.
Bapak ini memiliki kekurangan fisik sehingga ia tidak dapat berjalan dan terpaksa menggantungkan hidupnya dari belas kasihan orang lain. Ia menggerakkan badannya dengan menggeserkan dan mengangkat badannya dengan kekuatan dua tangannya. Namun, satu hal yang aku lihat sosoknya begitu berbeda dari wajah-wajah yang kutemui dalam setiap gerbong adalah ia selalu tersenyum. Ia tersenyum dengan ketulusan hatinya dan menyapa setiap orang, tanpa peduli apakah ia kenal atau tidak, tanpa ia peduli apakah kemudian mereka membuang muka atau pura-pura tidur supaya tidak harus memberikan uang.
Ia tidak pernah menadahkan tangannya. Ia hanya tersenyum dan menyapa "Assalamualaikum...pagi, neng...". Kemudian ia tertatih menyeret tubuhnya dengan kedua tangannya. Suatu kondisi yang cukup sulit, namun ia tetap tersenyum. Belum pernah aku lihat wajahnya cemberut atau muram, walaupun aku bisa bayangkan hidup pastilah tidak mudah baginya. Mungkin ia memiliki keluarga yang harus ia nafkahi, anak-anak yang sekolah dan beban hidup seperti orang lain namun dengan kondisi yang sungguh jauh berbeda dengan orang pada umumnya.
Aku menjadi malu sendiri. Senyumnya seakan menyindirku. Dengan semua bebannya itu, ia masih bisa tersenyum untuk orang lain setiap harinya. Bagaimana dengan aku? Aku memiliki fisik yang cukup sehat, pekerjaan yang aku nikmati, penghasilan yang cukup, namun sering aku mudah untuk menggerutu, memasang wajah yang muram dan cemberut untuk hal-hal yang sepele.
Tersenyum adalah satu hal yang begitu sederhana dan dapat dilakukan semua orang secara gratis, namun siapa yang sangka senyum memiliki efek yang cukup besar dan merupakan "penyakit" yang mudah menular.
Dengan tersenyum dengan office boy di kantorku ketika datang di kantor, mungkin ia akan tersenyum dengan rekan kerjaku yang lain, kemudian rekan kerjaku tersenyum kepada atasannya atau kepada keluarga atau orang-orang disayanginya.
Ketika kita tersenyum pada seseorang yang sedang patah hati, maka ia dapat merasakan bahwa dunia tidak sedang runtuh dan masih ada orang lain yang menyayanginya. Ketika kita tersenyum pada mereka yang sedang sakit, senyum membuat mereka merasakan kepedulian dari orang lain. Ketika kita tersenyum kepada mereka yang sedang putus asa, senyum memberikan harapan dan kekuatan untuk bangkit. Namun jangan coba-coba tersenyum pada atasan kita yang sedang meledak-ledak marah kepada kita. Itu namanya bunuh diri :-)
Senyum dapat dirasakan, walaupun orang tidak melihat wajah kita. Coba buktikan. Tersenyumlah ketika anda menelepon pasangan atau sahabat anda, mereka pasti dapat merasakan senyuman anda itu dari suara yang tercipta. Kehangatan jiwa yang terpancar dapat dirasakan.
Aku berterima kasih kepada Bapak itu untuk mengajariku satu hal sederhana, senyum dengan ketulusan hati. Senyum pula akan memberikan suatu napas segar bagi jiwa kita.
Tersenyumlah maka dunia pun akan tersenyum padamu.
Beijing 5: be careful with your wish!
Kami tertarik untuk menikmati setiap pengalaman dari perjalanan tersebut walaupun sering mesti “berakrobat” dengan urusan transportasi, komunikasi dengan penduduk lokat, tersesat, dan lain-lain. Namun justru hal-hal tersebutlah yang kami percaya menambah kaya pengalaman kami. Menikmati bagaimana adrenalin terpompa saat tersesat dan tidak ada orang-orang yang mengerti bahasa Inggris, tertawa sendiri saat menyadari bahwa kami salah naik kereta atau salah mengambil pilihan makanan yang kurang enak.
Be careful with your wish. Itulah terjadi dengan kami di hari terakhir kami di Beijing. Mengharapkan suatu liburan yang ‘kaya akan pengalaman’ dengan perjuangan sendiri, kami menghadapi satu kejadian yang sangat….sangat… menguras emosi dan juga fisik tubuh kami. Kejadian ini terjadi tepat di hari kepulangan kami dari Beijing menuju Kuala Lumpur.
Modal kami selama di Beijing adalah tidak tahu malu, dalam arti kami tidak segan-segan untuk mencolek orang yang kelihatan bisa berbahasa Inggris untuk bertanya. Kami dengan pe-de nya mencolek seorang wanita yang (thanks God) bisa berbahasa Inggris. Ia membantu menanyakan ke petugas loket dimana tempat membeli tiket bullet train ke Tianjin (bayangkan, penduduk lokal nya pun tidak hapal isi dari stasiun tersebut, gimana kami)
Setelah mendapatkan tiket, kami bergegas mencari gate dari kereta tersebut. Perjalanan sekitar 30 menit itu kami isi dengan tidur! Kondisi fisik kami sudah lumayan lelah. Namun the nightmare is about to start!
Setibanya di stasiun Tianjin, kami harusnya menggunakan bus ke airport, namun setelah mencoba mengikuti arah papan petunjuk “Bus”, kami semakin bingung. Lorong tersebut berujung pada suatu terminal bis yang sangat kontras kondisinya dengan stasiun yang cukup mewah. Kami berjalan dan bertanya kepada penduduk sekitar “Excuse me, do you know where is the bus to the airport?”. Namun sekitar 40 orang yang kami tanyakan (masing-masing dari kami bertanya ke sekitar 20 orang), tidak ada satupun yang mengerti bahasa Inggris. Dengan backpack dan koper kami menyusuri terminal tersebut, bahkan sampai ke pelosok gudang kargo. Rasa panik, lelah dan kesal cukup menguasai emosi kami saat itu. Namun kami sadar, bagaimanapun caranya kami harus ketemu dengan bis airport tersebut.
Kami kembali ke dalam stasiun dan bertanya kembali ke satu petugas yang lumayan bisa bahasa Inggris. Ia menunjukkan gedung yang sama! Kami harus masuk ke gedung tersebut dan naik ke lantai dua. Saya langsung lemas! Not again!!
Beberapa penduduk lokal mendatangi kami dan dari terjemahan petugas tersebut, mereka bersedia mengantar dengan bayaran. Petugas tersebut juga mengajari saya beberapa kalimat dalam mandarin untuk bertanya, namun teman saya langsung menarik tangan saya. “Elo diajarin cara nanya, emangnya elo ngerti ntar kalo orang ngejawab pertanyaan lo?” Hmm.. bener juga! Akhirnya dengan memberanikan diri, kami masuk lagi ke dalam gedung tersebut dan langsung menuju lantai dua. Namun tetap kami tidak menemukan tempat bus tersebut. Kami bertambah panik ketika jam terus bergerak dan jika tidak segera berangkat, maka kami sudah pasti akan ketinggalan pesawat.
Kami berjalan ke luar stasiun dan menemukan titik dimana kami turun dari bis pada saat kedatangan. Aha, bis nya ada!! Namun dengan supir yang sedang tidur! Aduh! Kalau dia bangun aja, pasti sudah cukup sulit untuk berkomunikasi, gimana ini kalau dia tidur?!
Di dalam perjalanan, ia bercerita kalau ia akan ke Guangzhou karena punya usaha di sana namun karena keluarganya tinggal di Beijing maka ia harus bolak balik setiap dua minggu. Ia juga bercerita pernah kuliah dan tinggal di Amerika. Hmmm..pantesan! Bahasa Inggrisnya lancar jali..
Setiba di airport, ia mengantarkan kami ke gerbang International Departure. Baiknyaaa… Setelah check-in dan memasukkan bagasi, kami duduk lemas selonjoran di kursi sambil menunggu gerbang imigrasi buka. Kami bersyukur sekali karena bisa sampai di airport tepat waktu, sembari merasa lemas kalau mengingat nasib kamera saya.
Beijing 2: Great Wall
Ada beberapa titik di sepanjang Great Wall yang menjadi starting point. Kami memilih Mutianyu dengan pertimbangan titik tersebut tidak seramai Badaling, yang lebih akrab di kalangan turis dan medannya pun sudah lebih ‘manusiawi’ untuk dilalui – sangat jauh berbeda dari titik lain, Jinshanling yang saya kunjungi dua minggu kemudian (cerita menyusul). Mutianyu di tempuh dalam waktu sekitar tiga jam-an dari Beijing, namun sebelumnya kami mengunjungi Ming Tomb atau makam 13raja dari dinasti Ming. Buat saya pribadi yang buta tentang arsitektur atau tidak terlalu tertarik dengan sejarah, tempat akhirnya mendapat nilai “good to visit”, bukan “must visit”.
Setelah menyantap makan siang di suatu restaurant tepat di kaki bukit Mutianyu, dimulailah perjalanan menuju ke atas. Great Wall ini berada di atas bukit (atau gunung ya?) yang bisa ditempuh dua cara: trekking alias jalan kaki atau menggunakan cable car. Tentu saja saya memilih yang kedua. Lebih baik menyelamatkan energi untuk “trekking” di sepanjang tembok cina daripada kehabisan napas sebelum tiba di puncak. Dengan membayar RMB 55 (sekitar Rp 60,000), saya naik cable car dengan perasaan yang agak deg-deg an melihat ketinggian yang cukup curam.
Pemandangan musim semi masih tersisa dengan hijaunya pohon-pohon menyatu dengan warna tembok menghasilkan perpaduan yang cantik: hijau daun segar dan natural stone.
Saya menyusuri 2.2 km dengan beberapa kali berhenti untuk berfoto atau sekedar menatap pemandangan yang luar biasa indahnya, disertai dengan hawa yang begitu sejuknya, tidak panas namun juga tidak dingin menggigit, walaupun sempat gerimis kecil namun untungnya hanya sesaat.
Perjalanan turun menawarkan dua alternatif, yaitu dengan toboggan atau lift chair (mirip kereta gantung yang sering digunakan para pemain ski waktu mendaki ke atas gunung). Keduanya merupakan pilihan yang sulit, tapi saya harus memilih. Akhirnya saya memilih toboggan dan membayar sekitar RMB55 (Rp 60,000). Toboggan adalah kereta luncur dengan jalur khusus dan memiliki satu tuas untuk mengeram atau memacu kecepatan. Jalur yang berliku dan terlihat mengerikan ternyata sangat mengasyikkan. Beberapa petugas ditempatkan di beberapa titik sepanjang rute turun untuk memastikan keamanan. Saya meluncur dengan disertai teriakan-teriakan girang ketika rute sangat curam atau melewati jembatan dengan jurang yang cukup curam.
Setibanya kembali di Beijing, sekitar jam 7 malam dan cuaca masih sangat terang (matahari seperti jam 4 sore di Jakarta) saya dan teman saya memutuskan untuk mampir ke Tiananment Square. Dari titik pemberhentian bus, kami berjalan sekitar 15-20 menit (dengan sedikit kesasar dan bertanya-tanya dengan orang sekitar, tentunya). Walaupun sudah tutup, di gerbang lapangan yang cukup terkenal karena sejarahnya tersebut, masih sangat banyak orang yang berkumpul, entah sekedar berfoto atau mengobrol.
Sunday, August 1, 2010
Beating with one heart...
But, for me, one thing that would make a difference was the team, the people that you work with to make the event successful. And this year, I was truly blessed to have the privilege to work together with these great colleagues as the organizing committee (OC). The team consisted of colleagues who came from different walk of life but made the same commitment, to do whatever it takes (hmmm...sound a bit scary) to make the 2010 Employee Day hit a success.
Back from left: Annisa, Oveldo, Elisa, pak Lim, Erna, Lia, Ray Meetings, discussions, exercising, sharing frustration and confusion were among the things that we did during the preparation and in between of all the routine work commitment that we still need to do. However, in all of those, we'd never lose the apetitite to have fun, throw some jokes and teasing one another especially when the stress reached the high level.
So here is a tribute to all my mates and colleagues who have shown a strong commitment and dedication until we finally presented a beautiful moment in Ayer Island. So proud to work with you and an honor to be part of this great team!

People said that leave all the F&B things to women. They're the best! Well, that was really true. Camelia and Erna were two of the experts in this area. They selected and formulated the menu to ensure that everybody would have the energy throughout the day.
Group performance competition! I love this idea since the beginning it was brought up in our first OC meeting. Over weeks, this idea continued to be developed to a strong concept and ready for selling to all employees. Oveldo, Inez and Elisa were the backbone of this session as well as the committee performance which successfully got a roaring applause from employees. I must say that it was not easy to encourage people in several divisions and office location to work together and come out with a team-work performance, but you made it, guys! Miss all the nite times together at studio! (and still missing 'pisang ijo', Mo'e?)Annisa and Lia, who regretfully couldn't fit the costume of Barney and Chiki, stood bravely at the entrance gate, being the first power to welcome the people and among the first troops who arrived at site when it was still dawn!
Sunday, July 11, 2010
The past..
I'm perfectly aware that holding onto the past is like living without tomorrows. But at this moment, let me hold onto it just for a few breath, a few blink, a few heart beat…. I just want to freeze this moment. I will move on, I will… because I still want that “tomorrows”!
Saturday, July 3, 2010
Mbok Suminah – a picture of simplicity
If you are imagining someone in mid fifty in a traditional suit and always speak in local language, well...you get that right! She is in every thing you would imagine of a traditional Javanese lady. She hardly speaks Bahasa Indonesia but I guess communicating has gone through far from only language barrier.
Early this year, I went to Solo by myself, something that I’ve never done before. I always went there with the whole troops of the big family. But that time, I thought I wanted to be alone with my (late) dad. So I went there.
When I first got the entrance of the cemetery, my sight was caught on a lady who suddenly got up from her sleep under a tree. Yeap! She was sleeping in the mid of the very quite cemetery. Although it was not as spooky as any public cemetery would be, but the idea of taking a nap there, was never even on my wildest dream.
She warmly welcomed me, as usual, and escorted me to come inside. I tried to speak with her with my very broken Javanese language. Then there came her report of who have recently visited. When I “talked” to my dad, she just sat quietly few meters from me. That lasted for about an hour. She just sat there without any distracting moves, she simply accompanied me.
When I finished, she told me not to cry about my dad anymore, instead I should be happy that he’s now resting in peace. That I should always pray for him, for it was one of the important thing that can help my dad up there. If I were in any problem or being in an unease life phase, my dad would always be there. He wouldn’t leave me alone. That is the thing I should remember. I heard all those advice so many times from so many people who cared about me, but having them from someone like her, I felt differently. I didn’t know why. Perhaps it was her sincerity that has touched my heart in her own way or perhaps because I was in a very sentimental situation (being with my dad in my own time without all people around me).

My second visit fell two days after the first one. She was cleaning the cemetery when I got there. She smiled and greeted me, saying she had been waiting for me. I went directly to my dad and spent there for next one hour. She continued of cleaning. When I finished my “chat”, she came and sat next to me. She said that it was OK to cry but don’t let your tears fall on my dad’s grave. The conversation continued to her sharing of her life. She said that she just had unfortunate incidents that her son-in-law got accident with her motorcycle but things were now better. She also shared how she lost her mother and then 2 months later, her father.
My curiosity forced me to shoot her questions. How did she feel being attached to a cemetery? Wasn’t she afraid? Was her life affected?
She answered me with stories, a rather-spooky one. She told me that seeing some ‘unrest souls’ come to her house and wandering around or one afternoon when she saw one Japanese troops complete with all the weapons and uniforms worn during their invasion to Indonesia in 1940s, were nothing that came to a surprise anymore! Gee..! I would have been dumbstrucked and passed out immediately!!
Her dreams were to see her children live happily in their own way, to see her grandchildren grow every single day, to serve her commitment to her work (being the gatekeeper of a cemetery). The cleaning thing was her routine activity, then cooking afterward or playing with her grand kids, day after day. She was happy and fulfilled. She just wanted to live her life as what she has understood from her religion, so that by the end of the day, she wish to face God gracefully.
For few seconds, I envied what she has in her life – certainly not the looking ghost part! How life can be so calm, how days can go without having so much worries or strong pressure from the people, or high expectation that you would have to fulfill, how things are easily manageable without too much disruption, how she could see life as beautiful as God has granted her for and for it will stay like that forever
What is it like, living in simplicity?
I don’t think having no obsession in live would count; neither living in poverty will support you better to live simply; or probably the personal taste of frugality contributes something to a simple life. Is it living with simple job with less stress, having less friends and no social activities, reflect to less problems and thus create a simpler life?
What is simplicity? It is probably like happiness which teaches us of the joy seeing life as beautiful as it was meant to be, to overcome problems as natural part in life that would come and go, to relieve the ultimate possession over things. It is also probably like happiness. It is a game in our mind. And by all things happened to our life, it teaches to be grateful! Be grateful as in the gratitude, it lies a strength, that help you to see life as the greatest gift. Think simple and live simply.
Saturday, June 26, 2010
Happiness is in the mind
".......continued..."
*Cousin: Wong yang haram itu pasti jauuuuuh lebih enak drpd yg halal kok :-)
*Me: Hahaha! Sok tahu ah.... tahu darimana kalau yg ga halal itu lebih enak?
*Cousin: Kumpul kebo itu lebih enak drpd kawin yg sah... :-D
*Me: Dodol!!
*Cousin: Lho saya mengemukakan realita ini...Coba bayangkan kalo harus hidup dengan org yg sama 40 thn atau lebih. Pusing kaaann... itu ngga akan terjadi kalau kumpul kebo, bisa gonta ganti org sewaktu2, apa ngga dahsyat tdk halal itu
*Me: Nah, coba sebaliknya, apa ga enak memiliki suatu kenyamanan, ketenangan dan komitmen yang "tergaransi" oleh suatu legalitas yg resmi, utk hidup dengan seseorang...halal pula! ;-)
*Cousin: Bayangkan kenyamanan yg hanya berumur 1-3th pertama, th ke 4 s/d th ke 40, terkekang dgn "garansi" legalitas yg bikin pening....hahaha...! Jangan di dengerin yak!
*Me: Hahaha...iya nih! Kalau org yg lg mau nikah, bisa2 ga jadi nikah kalau denger! Tapi apakah nikah itu jaminan kebahagiaan kah? "Kelengkapan" hidup". Kadang suka mikir apakah nikah itu sesuatu yg mesti utk menggenapi suatu tatanan dan harapan kultur sekitar? Gimana kalau orang memilih utk tidak menikah drpd terpaksa menyamakan standard thd harapan orang lain? (Ngomong apaan yah gue, hehe..." )
*Cousin: Naaah...pertanyaan yg sangat bagus dan kritis! Menurut gw, semua hal yg berbau kultural dan teologis bersifat "wajib" krn bila di simpangi akan ada sangsi sosialnya. Kalau gw, tembok aja gw tabrak, apalg kultur & teologi.... Jaminan kebahagiaan??? Kebahagiaan itu kita ciptakan dr cara berpikir kita dan bersifat kasuistik
Mau single atau dobel, dua2nya bisa membuat kita bahagia, kalau memang kita "ciptakan"
*Me: Yoi, kadang bahagia itu permainan pikiran dan keputusan yg kita bisa buat kapanpun dan dimana pun....
....and the chat continued and ended with nothing to discuss further about the trip :-)
Oh, fyi, my cousin is a deep thinker who happily and legally married to his wife.. so the chat was just for brainstorming purpose only *need to clarify this, before he kills me...haha..*
Beijing 1: Arriving in Tianjin
Perjalanan dari KL menuju Tianjin memakan waktu sekitar 6 jam, yang kami habiskan dengan tidur – balas dendam tidur semalam yang hanya 4 jam! Pesawat AirAsia X lumayan penuh.
Sekitar pukul 14.30 kami landing di Tianjin dengan perasaan excited banget. Yaaay! Finally! We landed in the land where there lies a sleeping giant who can move the world, according to Napoleon!
Beihai International Airport di Tianjin jauh dari perkiraan kami. Airport itu sangat modern dan benar-benar mencerminkan airport sekelas internasional. Antrian di imigrasi ternyata cukup panjang namun loket yang di buka cukup banyak sehingga kami hanya menghabiskan waktu sekitar 15 menit. Petugas imigrasi sangat teliti. Mereka bener-bener ”memelototi” muka kita saat menyamakan foto di paspor dengan ”produk aslinya”. Jika kebetulan mata kita lagi ”jalan-jalan” melihat sekeliling, mereka akan dengan galaknya memanggil ”Hello!! Hello, miss!!”.
Namun, satu hal yang paling indah di dengar pada saat kita di imigrasi, tidak peduli di negara manapun, adalah bunyi ”cetok...!!” saat stempel imigrasi dibenamkan di paspor kita! Mari silahkaaaannn....:-)
Karena tidak ada bagasi, kami langsung melenggang ke arah pintu keluar, namun toilet menjadi tempat singgah kami dulu. Salah satu enaknya travelling dengan teman adalah kita bisa gantian menjaga bagasi, jadi ngga perlu repot gedubrakan bawa tas atau koper ke dalam toilet. Ketika kami di depan toilet, seorang cewek yang sepertinya travelling sendirian menghampiri dan bertanya ”are you going to Beijing? How do you plan to go there? Can I come with you?”. Dan kami menjawab ”yes, we are going to Beijing by bullet train. Sure, you can come with us. Let’s go!”
Dan dia kemudian bertanya “Where are you from?”. Dan saat kita menjawab “Indonesia”, spontan dia tertawa dan bilang “Halaah, dari Indonesia juga ternyata”. Hahaha…orang sekampung ternyata!
